Yuk, Ngerayain Hari Migrasi Burung dengan Baca Dua Buku Ini

Sob, tahu nggak kalau setiap tanggal 14 Mei, seluruh dunia merayakan hari migrasi burung. Nah pasti di antara kalian ada yang penasaran nih, kenapa sih migrasi burung tuh perlu dirayain. Ternyata penting banget, Sob. Migrasi burung itu ngasih keuntungan ekosistem dan berkontribusi penting buat kualitas hidup dan ekonomi kita. Sebagian keuntungannya itu dari mengontrol hama, penyerbukan tanaman, sampai jadi indicator penting buat kesehatan planet bumi ini. Karena penting itulah, tiap tahun, selalu ada tema yang dirayakan saat peringatan migrasi burung ini. Tahun ini, temanya Polusi Cahaya. Jadi nih, sinar atau cahaya artifisial itu makin banyak bertambah secara global setidaknya dua persen setiap tahun dan hal ini berpengaruh ke burung-burung. Polusi cahaya ini jadi ancaman saat burung-burung bermigrasi, bikin mereka disorientasi waktu terbang di malam hari, bikin mereka nabrak gedung-gedung, ngganggu jam internal mereka, bahkan sampai mempengaruhi kemampuan mereka melakukan migrasi jarak jauh.

Gajahan timur (Numenius madagascariensis), salah satu burung yang bermigrasi ke Indonesia (Erik Sulidra | IAR Indonesia)

Peran penting migrasi burung ini juga kami pandang berharga nih. Dan ini salah satunya kami tandai dengan menerbitkan dua buku fotografi yang menampilkan migrasi dan kekayaan keanekaragaman burung yang ada di sejumlah wilayah Indonesia. Penasaran dengan dua buku ini? Yang pertama, buku berjudul “Another Life” karya Erik Sulidra yang diterbitkan pada 2019 yang memperlihatkan satwa-satwa terutama burung yang tinggal atau singgah di Ketapang, Kalimantan Barat. Kemudian satunya lagi, buku “Burung Liar Kawasan Hutan KPH Batu Tegi Lampung: Menyingkap Keragaman Jenis Burung di Hutan Lindung Batu Tegi” yang diterbitkan bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, UPTD KPH Batu Tegi dan bersama kami, Yayasan IAR Indonesia. Nah, buku ini ditulis oleh Manajer Resiliensi Habitat Yayasan IAR Indonesia, Robithotul Huda.

Buat yang penasaran dengan ide awal mulanya buku ini diterbitkan, sini kita simak cerita dari masing-masing penulis. Baik Erik dan Huda, ternyata sama-sama kepikiran bikin buku ini pada 2015, Sob. Kalau Huda, idenya muncul karena ingin merekam potensi biodiversitas satwa di Batu Tegi hasil monitoring teman-teman staf di lapangan. “Terutama jenis-jenis burung, karena memang belum ada yang membuat. Ditambah lagi dengan hobi saya dan teman-teman di bidang fotografi hidupan liar,” ujar Huda.

Peluncuran buku Burung Liar Kawasan Hutan Lindung Batutegi karya Huda bersama Dishut Provinsi Lampung (Denny Setiawan | IAR Indonesia)

Nah kalau Erik, pas 2015 lagi dikompori tuh sama temannya buat bikin buku karena ternyata dia sudah punya banyak foto-foto tentang satwa liar terutama burung, sejak dia mulai menekuni hobi fotografi pada 2011. “Setelah itu saya mencari beberapa referensi di buku yang khusus menceritakan biodiversitas di Tanah Kayong dan foto-fotonya, ternyata sangat minim. Saya jadi semakin tertantang dan bersemangat untuk membuat buku, hitung-hitung sebagai sumbangan karya dokumentasi satwa di Tanah Kayong,” kata Erik.

Proses penulisan kedua buku ini seru banget lho. Erik Sulidra, cerita nih kalau motret satwa liar itu memang nggak gampang. “Satwa liar itu instingnya kuat. Jadi kita harus pintar-pintar mengatur strategi di lapangan. Dan tidak setiap saat ketika kita pergi berburu foto itu bisa mendapatkan gambar, apalagi yang bagus. Jadi kadang saya dan teman-teman harus merayap di lumpur untuk bisa mendekati burung. Waktu itu saya ingat benar waktu motret burung migrasi di tepian pantai. Untuk mendekati burung-burung yang bertengger di beting-beting lumpur. Itu burungnya lagi makan dan kami mikir gimana caranya mendekati dengan lensa yang terbatas panjangnya. Akhirnya kami merayap dengan posisi tengkurap kayak latihan militer lah, dan prosesnya bisa 2-3 jam itu. Merayap, udah pasti tuh bahu pegel, sama nahan kamera supaya tidak terkena air asin,” kata Erik.

Kebayang kan ribetnya? Nah kata Erik, ini baru burung di pantai. Belum lagi kalau burung di hutan. Erik sharing nih kalau motret burung di hutan itu tantangannya banyak ranting dan daun yang menghalangi pandangan. Apalagi kalau burungnya cepet pindah-pindahnya. “Belum lagi jenis-jenis burung yang suka bertengger di puncak kanopi hutan. Lebih sulit lagi nampaknya, hanya dapat suaranya, jadi kami harus cari angle yang pas untuk bisa lihat burung yang ada di puncak pohon,” lanjut Erik.

Dari semua jenis burung yang pernah difotonya, Erik paling kesulitan saat harus memotret Enggang Gading. Kata dia, selain karena susah sekali ketemunya, habitatnya pun di hutan-hutan primer yang kondisinya masih bagus. Kemudian juga jenis burung yang pergerakannya di lantai hutan. “Kayak jenis-jenis ruai, jenis-jenis paok, ayam hutan, biasanya mereka sangat sensitif terhadap gerakan langkah kaki kita. Jadi belum nyampe kita ketemu burungnya, mereka udah tau dan kabur duluan,” tutur Erik.

Tampaknya sulit banget ya Sob? Well, Erik ngasih tips nih. Dia bilang, teknik terbaik untuk memotret satwa liar itu, tentukan spot pemotretan yang pas dengan obyeknya, kemudian bikin tempat persembunyian di spot itu, dan sebisa mungkin berkamuflase biar satwa-satwa liar itu nggak tahu kalau mereka mau dipotret.

Erik dan tim mengarungi sungai untuk memotret burung (Petrus Kanisius | IAR Indonesia)

Kalau tantangan yang dihadapi Robithotul Huda hampir mirip. Tapi agak sedikit kompleks nih. Mulai dari proses pendataan, pendokumentasian, hingga menyusunnya menjadi tulisan yang padu. “Dalam proses pendataan misalnya, terdapat beberapa burung yang ternyata hilir mudik di sekitar kawasan Batutegi alias keluar-masuk kawasan, yang menyebabkan sulitnya menentukan burung apa saja yang pasti akan dimasukkan ke buku. Rangkong misalnya, dulu ia masih ditemukan di tahun 2009 berdasarkan pengamatan rekan-rekan Yayasan IAR Indonesia dan Ecopass, namun ketika saya dan tim melakukan monitoring saat ini, sudah tidak ada rangkong di daerah KPH Batutegi,” ujar Huda.

Dari segi pendokumentasian, Huda dan timnya cukup kesulitan ketika mengabadikan jenis burung yang pemalu seperti burung-burung semak dan territorial. Contohnya burung puyuh gonggong sumatra, salah satu burung endemik di Pulau Sumatra yang terkenal sulit untuk ditangkap kamera. Untuk penulisan, Huda menemukan tantangan dari segi penamaan spesies atau taksonomi burung liar di Batutegi. “Seperti yang kita ketahui, taksonomi burung itu sangat dinamis atau mudah berubah-ubah, sehingga cukup menyulitkan untuk mengklasifikasikan burung-burung yang sudah kami temukan dan dokumentasikan,” ujar Huda. “Untungnya, dalam pengelompokan ini, saya dibantu oleh seorang ornitologis yang sudah lama berkecimpung di dunia perburungan Indonesia yaitu James A. Eaton, penulis buku ‘Birds of the Indonesian Archipelago: Greater Sundas and Wallacea’,” tambah Huda.

Setelah kedua buku ini berhasil diterbitkan oleh Yayasan IAR Indonesia, kedua penulis ini punya harapan khusus nih, Sob. Erik berharap bukunya bisa tersebar luas biar orang-orang bisa lebih tahu keanekaragaman hayati di Tanah Kayong. “Syukur-syukur buku ini bisa jadi panduan lapangan bagi kawan-kawan lain yang sedang studi, atau melakukan pengamatan satwa di Tanah Kayong khususnya,” ujar Erik.

Sedangkan Huda, berharap buku ini bisa dibaca untuk para pelajar dan didistribusikan ke sekolah-sekolah. “Supaya murid-murid khususnya dan masyarakat tahu bahwa banyak burung-burung unik dan indah yang terdapat di sekitar mereka dan akhirnya mereka tergerak untuk melindungi burung-burung tersebut. Mengingat fungsi hutan lindung di daerah Batu Tegi mulai berubah karena lahan di daerah ini diolah oleh masyarakat menjadi berbagai macam peruntukan, perlu adanya pengingat bahwa masih ada keanekaragaman hayati di Batu Tegi yang perlu dijaga oleh masyarakat di sekitarnya,” ujar Huda.

Ria Utari/Heribertus Suciadi/Fattreza Ihsan

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit