Tujuh Bulan Dilepasliar, Malabar Gendong Anak di Alam

 Ciamis – Malabar mendekap erat anaknya. Jemari kirinya berpegangan pada batang pohon kaliandra. Di sekelilingnya, membentang hutan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat. Di situlah, habitat alami Malabar sebagai kukang betina liar sesungguhnya.

Malabar, kukang jawa (Nycticebus javanicus) hasil rehabilitasi Yayasan IAR Indonesia kini telah ‘lahir kembali’ menjadi kukang liar. Sudah waktunya radio collar atau alat pelacak yang melingkar di lehernya dilepas. Pertanda berakhirnya monitoring (pemantauan) tim terhadap Malabar yang dilepasliar Januari lalu. “Pelepasan collar Malabar, sah!,” ujar drh. Nur Purba Priambada usai pelepasan alat  pelacak yang melingkar di leher Malabar, Sabtu, 3 September 2016.

Tak ada lambaian tangan perpisahan dari Malabar. Malabar hanya bergerak cepat memanjat pohon kaliandra setinggi mungkin. Semakin ke atas, hanya tampak siluet Malabar dan anaknya yang menempel di perut. Orang-orang yang menyaksikan, kader konservasi binaan Bidang Konservasi Wilayah III Ciamis, staf Seksi Konservasi Wilayah IV Tasikmalaya dan tim Yayasan IAR Indonesia hanya menatap kagum sambil mengabadikan Malabar dengan kamera.

Malabar bersama anaknya saat pelepasan radio collar atau alat pelacak sebagai tanda berakhirnya monitoring Malabar. Malabar dinilai telah berhasil bertahan hidup di habitat dan berkembang biak secara alami.
Malabar bersama anaknya saat pelepasan radio collar atau alat pelacak sebagai tanda berakhirnya monitoring. Malabar dinilai telah berhasil bertahan hidup di habitat dan berkembang biak secara alami. Foto : Septianjar Muharam

2013 lalu, pihak berwenang menyita Malabar dan puluhan kukang lainnya dari tangan pedagang illegal di Tasikmalaya. Kukang sitaan itu kemudian dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi Yayasan IAR Indonesia. Tiga tahun lamanya Malabar bersama menjalani ‘sekolah alam liar’ di kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Januari 2016, Malabar dinyatakan ‘lulus’ dan pindah rumah’ ke habitat alaminya di Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Selama tujuh bulan dilepasliar, tim memantau perilaku Malabar setiap malam dengan bantuan antenna, radio receiver dan radio collar di leher Malabar. Hingga Agustus lalu, tim monitoring menemukan Malabar menggendong anaknya di pohon.

Supervisor Survey Release Monitoring (SRM) Yayasan IAR Indonesia, Robithotul Huda mengatakan hasil pemantauan tim monitoring di lapangan menunjukkan perilaku Malabar di alam sangat  bagus. Malabar memanfaatkan pakan alami yang ada di sekitar habitat dan daerah jelajahnya juga sudah stabil. Malabar juga terpantau melakukan aktivitas social seperti saling menjilati dengan kukang liar. Bahkan, beberapa kali Malabar terpantau kopulasi (kawin) dengan kukang liar.

drh Purbo memeriksa kondisi terakhir kukang jawa Malabar sebelum pelepasan radio collar (alat pelacak). Pelepasan collar merupakan tanda berakhirnya monitoring (pemantauan) oleh tim terhadap Malabar yang telah dilepasliar Januari lalu di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat.  Foto: Septianjar Muharam
drh Purbo memeriksa kondisi terakhir kukang jawa Malabar sebelum pelepasan radio collar (alat pelacak). Pelepasan collar merupakan tanda berakhirnya monitoring (pemantauan) oleh tim terhadap Malabar yang telah dilepasliar Januari lalu di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat.
Foto: Septianjar Muharam

“Dari hasil pemantauan tim, menunjukkan beberapa indikator bahwa Malabar mampu bertahan hidup di alam dan bisa benar-benar dilepasliar tanpa pantauan,” ujar Huda, sapaan akrab Robithotul Huda.

Setelah penemuan Malabar menggendong anaknya di alam, tim memutuskan untuk melepas radio collar di lehernya. Menurut Huda, keberhasilan kukang rehabilitan be-reproduksi di alam juga merupakan salah satu indikator keberhasilan pelepasliaran kukang jawa dengan tujuan penambahan populasi di habitat Suaka Margasatwa Gunung Sawal. “Kabar gembira, Malabar bisa berkembang biak secara alami di habitatnya,” tambah Huda.

malabarPelepasliaran kukang di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal merupakan kerjasama YIARI dengan BBKSDA Jawa Barat untuk pelestarian dan menjaga populasi kukang jawa sebagai satwa endemik Indonesia yang kini jumlahnya semakin berkurang di alam. Luas Suaka Margasatwa Gunung Sawal sekitar 5.400 hektare. Merupakan kawasan konservasi ideal untuk pelepasliaran primata dilindungi jenis kukang.

Fungsi utama suaka margasatwa sebagai perlindungan dan pelestarian kelangsungan hidup satwa tertentu agar tidak punah. Fungsi penting lainnya sebagai penyangga kehidupan berupa sumber air untuk masyarakat. Hasil survei tim YIARI menunjukkan keanekaragaman dan ketersediaan pohon pakan kukang di wilayah itu cukup tinggi. Sejak tahun 2014 sebanyak 15 kukang hasil rehabilitasi YIARI yang sudah dilepasliar di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.

malabar3

Kukang (Nycticebus sp) atau yang dikenal dengan nama lokal malu-malu merupakan primata yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.  Kukang juga dilindungi oleh peraturan internasional dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Ada tiga jenis kukang di Indonesia, kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus coucang) dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis). Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature) Redlist kukang jawa termasuk dalam kategori kritis atau terancam punah sedangkan kukang sumatera dan kalimantan termasuk dalam kategori rentan punah.

Kukang terancam punah karena perburuan dan perdagangan untuk pemeliharaan. Perdagangan untuk pemeliharaan memegang peran besar dalam mendorong kepunahan kukang. Menurut data Yayasan IAR Indonesia, sekurangnya 200-250 individu kukang ditawarkan di tujuh pasar besar di empat kota besar Indonesia setiap tahun. Sementara hasil pemantauan online tahun 2015 menunjukkan sebanyak 400 individu kukang dipelihara oleh pemilik media sosial. Dari penelusuran data, sebanyak 800-900 individu kukang diambil paksa dari habitatnya selama satu tahun.

Yayasan IAR Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang penyelamatan dan konservasi satwa liar di Indonesia. Berdiri sejak bulan Februari 2008, YIARI berkembang sebagai organisasi yang fokus pada upaya 3R+M yaitu rescue (penyelamatan), rehabilitation (rehabilitasi), release (pelepasliaran) dan monitoring (pemantauan satwa pasca pelepasliaran).  Hingga tahun 2016, Pusat Rehabilitasi Satwa YIARI telah menyelamatkan lebih dari 500 individu kukang korban perdagangan dan pemeliharaan. Saat ini lebih dari 150 individu kukang sedang menjalani rehabilitasi Pusat Rehabilitasi YIARI di kaki Gunung Salak, Bogor. Namun, 80 persen di antaranya tidak bisa dikembalikan ke habitat alaminya karena kondisi yang buruk akibat pemotongan gigi oleh pedagang.

Fanpage : Yayasan IAR Indonesia

IG : @iar_indonesia

 

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Orangutan Laksmi dan Lusiana, Ibu dan Anak.

Kilas Balik Kami di 2020!

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2020. Kami yakin semua di antara kita mengalami hal yang sama, yakni perasaan

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit