Serupa Tapi Tak Sama: Beruk dan Monyet Ekor Panjang

Banyak dari kita yang belum ngeh akan perbedaan antara beruk dan monyet. Beda, ya! Monyet adalah segala jenis primata yang bukan prosimian (tarsius, lemur, dll.) dan kera (orangutan, owa, dll.). Jadi, nyatanya beruk adalah masih bagian dari monyet!

Mungkin selama ini yang kalian susah bedakan itu adalah beruk dan monyet ekor panjang. Nih tersangkanya!

Beruk atau Macaca nemestrina (kiri) dan monyet ekor panjang Macaca fascicularis (kanan) (Reza Septian | IAR Indonesia)

Sering dibilang mirip, kedua primata berstatus vulnerable di red list IUCN ini memang memiliki banyak kesamaan. Tapiii… banyak juga perbedaannya, lho!

Beruk dan monyet ekor panjang sama-sama merupakan old world monkeys dari keluarga Cercopithecidae. Beruk secara spesifik memiliki nama latin Macaca nemestrina (Linnaeus 1766). Sementara itu, monyet ekor panjang (MEP), memiliki nama latin Macaca fascicularis (Raffles 1821). Tidak heran jika keduanya dikatakan mirip karena mereka berasal kelompok genus yang sama, yakni Macaca.

Persebaran

Beruk memiliki persebaran pada dua pulau besar di Indonesia, yakni Pulau Sumatera, dan Kalimantan. Habitat beruk dapat berupa dataran rendah dan perbukitan hutan hujan primer (Crockett dan Wilson 1980), akan tetapi lebih sering ditemukan di daerah sub-pegunungan hingga pada ketinggian 1900 mdpl. Sementara pada monyet ekor panjang, ia memiliki daya adaptasi lebih tinggi sehingga persebarannya lebih luas. Di Indonesia, spesies ini tersebar di Sumatera, Jawa dan Bali, Kalimantan, Kepulauan Lingga dan Riau, Bangka, Belitung, Banyak, Kepulauan Tambelan, Kepulauan Natuna, Simalur, Nias, Matasari, Bawean, Maratua, Timor, Lombok, Sumba dan Sumbawa (Lekagul and McNeely 1977). Berbeda dengan beruk, habitat MEP cenderung tersebar di dataran rendah.

Ukuran dan Bentuk Tubuh

Beberapa perbedaan antara beruk dan monyet ekor panjang dapat langsung terlihat dari bentuk tubuh yang dimiliki. Beruk pada umumnya memiliki tubuh yang cenderung berukuran lebih besar dengan bobot yang lebih berat daripada monyet ekor panjang. Rambut yang tumbuh juga memiliki warna yang berbeda, yakni coklat keabu-abuan sampai agak keemasan serta rambut pada kepala yang berwarna gelap pada beruk. Sementara itu pada MEP, rambut berwarna coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan.

Tidak hanya warna rambut yang dapat terlihat jelas, bagian ekor juga menjadi pembeda yang paling mencolok pada kedua satwa primata ini.

Beruk memiliki ekor yang pendek dan tidak berambut dengan panjang ekor 13-24 cm (Rahayu 2001) sehingga ia kerap kali dijuluki sebagai southern pig-tailed. Sementara pada MEP, ekornya mampu mencapai panjang hingga 1 sampai 1,5 kali ukuran tubuhnya, yakni 40-75 cm dan ditutupi oleh rambut halus.

Pakan

Beruk dan MEP merupakan spesies primata frugivora karena sebagian besar konsumsi pakan mereka adalah buah-buahan (Fleagle 1988 dan Gusnia 2010). Proporsi banyaknya buah pada diet pakan kedua spesies ini mencapai lebih dari 90%. Selain memakan buah-buahan, beruk dan MEP juga dapat memakan berbagai jenis pakan, seperti daun, tunas muda, kulit pohon, bunga, biji, dan serangga (Dolhinow dan Fuentes 1999).

Pidada, makanan para monyet (Reza Septian | IAR Indonesia)

Walaupun demikian, kedua satwa ini juga disebut juga sebagai satwa omnivora (pemakan segala). Terkadang pakan keduanya dapat bervariasi dari buah-buahan, daun, bunga, jamur, serangga, siput, rumput muda, dan lain sebagainya. Bahkan MEP kerap kali memakan kepiting sampai-sampai ia dijuluki sebagai crab-eating macaque. Hal ini disebabkan MEP mampu beradaptasi dengan habitat dataran rendah seperti pantai. Sedangkan pada beruk yang tinggal di dataran tinggi, beruk tidak memiliki akses pada pakan seperti kepiting.

Reproduksi

Dalam reproduksinya, kedua satwa ini juga memiliki perbedaan. Beruk memiliki siklus reproduksi yang lebih pendek dari MEP.

Beruk dapat hidup hingga 26 tahun dengan kematangan seksual terjadi sekitar usia 4-4,5 tahun. Siklus birahi beruk terjadi selama 32 hari sampai 40 hari. Lama mengandung pada individu betina berkisar 6 bulan dengan jumlah anak per kelahiran adalah 1 ekor. Beruk mempunyai jarak kelahiran antara 24 bulan hingga 48 bulan dan periode merawat anaknya selama 7 bulan sampai 14 bulan (Rahayu 2001).

Monyet ekor panjang dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Cikepuh 2019 silam (Reza Septian | IAR Indonesia)

Sementara itu pada MEP, lama hidupnya dapat mencapai sampai 30 tahun lamanya. MEP mencapai kedewasaan lebih cepat, yakni berkisar antara 3,5-5 tahun. Kematangan seksual pada individu jantan adalah 4,2 tahun dan betina 4,3 tahun. Siklus menstruasi berkisar selama 28 hari dan lama birahi sekitar 11 hari. Selang waktu pembiakan terjadi antara 24-28 bulan, masa kehamilan berkisar selama 5-6 bulan. Jumlah anak yang dapat dilahirkan biasanya adalah 1 ekor. Masa mengasuh anak MEP berlangsung selama 14-18 bulan.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Referensi:

Crockett CM, Wilson WL. 1980. The ecological separation of Macaca nemestrina and Macaca fascicularis in Sumatra. In: The Macaques: Studies in Ecology, Behaviour and Evolution, D.G.L Lindburg (ed). Van Nostrand Reinhold Company. New York. P. 148.

Fleagle, J.G,. 1988. Primate Adaptation and Evolution. Academic Press. Inc. USA.

Gusnia, N. A. 2010. Perilaku seksual monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles 1821) di penangkaran semi alami Pulau Tinjil, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Lekagul B, McNeely JA. 1977. MAMMALS OF THAILAND. Association for the Conservation of Wildlife. Journal of Mammalogy. 60(1): 241–242

Dolhinow, P, & A. Fuente. 1999. The Non Human Primates. Mayfield PublishingCompany. California

Rahayu AS. 2001. Studi Perilaku dan Habitat Beruk (Macaca nemestrina Linneaus 1766) di Kawasan Lindung HPHTI PT Riau Andalan Pulp And Paper, Riau [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor

Penulis: Alfatheya Diva

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit