Punya Hewan yang Dilundungi, Segera Serahkan ke BKSDA, Kalau Tak Mau Seperti ini

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur meminta warga yang masih memelihara maupun memperdagangkan hewan yang dilindungi, agar dapat menyerahkan hewan tersebut.

Pasalnya, keberadaan hewan tersebut populasinya semakin sedikit, dan terjadi penurunan drastis, akibat bencana alam, serta perburuan.

Terlebih, belum lama ini BKSDA Kaltim mengamankan seekor bekantan (Nasalis lavartus) jantan, yang berkeliaran di wilayah Loa Janan, tepatnya di pemukiman penduduk.

Dari hasil pemeriksaan, di tubuh primata hidung panjang itu, terdapat bekas ikatan, yang menandakan hewan tersebut merupakan peliharaan. Terlebih, di kawasan tersebut tidak terdapat habitat bekantan, yang kerap berada di hutan mangrove.

“Kalau dilihat sekilas, ada bekas ikatan. Di Loa Janan juga bukan habitat bekantan, karena biasanya bekantan hidup berkelompok, maka kemungkinan hewan ini peliharaan,” ucap Jono Adiputra, pada bidang Keanekaragaman Hayati BKSDA Kaltim, Senin (4/9/2017).

Kendati demikian, pihaknya saat ini masih fokus dalam pemeriksaan kesehatan hewan tersebut, dan belum mengarah untuk mencari si pemeliharan bekantan yang usianya diperkirakan sekitar 5 tahun tersebut.

“Sementara ini kami masih fokus pemeriksaan kesehetan bekantan, juga untuk pemulihan trauma, dan persiapan pelepasliaran,” ucapnya.

Lanjut dia menjelaskan, Kaltim sendiri memiliki sekitar 54 hewan khas yang termasuk dilindungi.

Dan, UU Nomor 5 tahun 1990 pasal 21, telah mengatur tentang satwa liar yang dilindungi tidak boleh dipelihara maupun diperjualbelikan.

“Untuk warga yang masih memelihara satwa dilindungi, kami harap dapat di serahkan ke BKSDA Kaltim, karena memelihara satwa dilindungi melanggar undang-undang,” ungkapnya.

“Kebanyakan dari satwa yang dilindungi itu jumlahnya memang sedikit dan terancam punah. Namun, ada juga satwa yang dilindungi namun jumlahnya masih lumayan di alam, seperti landak dan buaya,” tutupnya.

Sementara itu, bagi pelanggar UU tersebut, ancaman kurungannya mencapai 5 tahun penjara.

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Christoper D

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Orangutan Laksmi dan Lusiana, Ibu dan Anak.

Kilas Balik Kami di 2020!

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2020. Kami yakin semua di antara kita mengalami hal yang sama, yakni perasaan

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit