Ah iya, lagunya Superman Is Dead bukan?

Bukaaaan, kita lagi mau ngomongin komunitas pemuda di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

 

Ooooh, emang pemuda ini ngapain? Kok beda dan berbahaya?

Bedanya, mereka ini membentuk komunitas untuk melindungi ekosistem mangrove di desa mereka di Sungai Besar. Mereka juga melakukan patroli di dalam kawasan mangrove. Aksi ini berbahaya buat mereka yang coba-coba merusak ekosistem mangrove atau berburu secara ilegal di wilayah mangrove Sungai Besar. Hehe

 

Ih, keren kali lah.

Iya dong, namanya aja SHIELD. Singkatan dari Sahabat Hijau Eco Lestari Desa. SHIELD ini berperan dalam membentengi kawasan mangrove Desa Sungai Besar dengan melakukan penanaman mangrove dan patroli.

Para anggota SHIELD bersama aparat desa (Tim Comdev | IAR Indonesia)

Mantep banget ya. Ceritain dong awal mulanya gimana?

Oke. Awalnya kita punya program konservasi mangrove. Program konservasi mangrove yang kita lakukan ini berbasis pada masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar ekosistem mangrove itu. Kebetulan, kita udah lama berkegiatan bareng masyarakat di Desa Sungai besar ini, akhirnya kita inisiasi para pemuda di Sungai Besar untuk membentuk SHIELD tadi. Kita pilih para pemuda karena mereka ini kan sedang di fase kehidupan yang aktif dan haus akan pengetahuan dan pengalaman baru. Kita inisiasi untuk membentuk komunitas untuk menyatukan semangat dan rasa kepedulian terhadap lingkunga. Umumnya, komunitas remaja lebih terbuka dan kritis terhadap suatu perubahan lingkungan yang seharusnya mereka rasa menjadi tanggung jawab mereka dan hak mereka di hari nanti.

 

Got it. Terus selain menginisiasi, IAR Indonesia ngasi pelatihan-pelatihan atau apa gitu gak?

Jelas iya dong. Kita memang lebih banyak bantu di peningkatan kapasitas para pemudi ini lewat beberapa pelatihan. Beberapa pelatihan yang udah kita lakuin tuh pelatihan pemilihan bibit mangrove yang layak untuk disemaikan dan dijadikan sumber bibit. Kita juga ngasi pelatihan monitoring pertumbuhan bibit mangrove melalui pertumbuhan tinggi dan jumlah daun serta indeks mortalitas bibit. Kita juga nyediain dua rumah pembibitan sekalian 7500 bibit mangrove untuk praktek penyemaiannya. Kita juga ngasi pelatihan teknik monitoring dan pengambilan data biodiversitas yang ada di dalam ekosistem mangrove.

 

Banyak juga ya…

Masih ada lagi lho. Kita juga ngapi pelatihan buat warga desa untuk pembuatan rumah pembibitan dan pelatihan pembuatan polybag. Nah kita dorong SHIELD tadi sebagai motor penggeraknya.

Persiapan persiapan menggunakan ecopolybag (Tim Comdev | IAR Indonesia)

Hasil pelatihannya gimana tuh?

Bagus banget sih hasilnya, mereka udah membibitkan  sekitar 12.000 bibit mangrove usia 1-2 bulan. Bibit-bibit ini diambil data pertumbuhan mangrove dari tinggi badan dan jumlah daun serta indeks mortalitasnya. Nantinya, mangrove ini akan ditanam kalau usianya udah xx bulan. Targetnya mereka mau naman 15.000 bibit di lahan seluas 1,5 ha. Mereka juga memberikan pelatihan dan pendampingan langsung pemilihan bibit mangrove yang layak untuk disemaikan dan dijadikan bibit siap tanam kepada masyarakat umum melalui program konservasi mangrove berbasis masyarakat yang mereka terima dari kita. Gak cuma pelatihan, mereka juga ikut memantau dan mengelola rumah persemaian yang dibuat masyarakat.

 

Keren-keren. Salut deh buat pemuda dan masyarakat Desa Sungai Besar. Btw emang pentingnya mangrove apa sih?

Kita jelasin gambaran umumnya dulu deh ya. Hampir 25% mangrove yang ada di dunia ini berada di Indonesia. Dan dari total luasan mangrove di Indonesia, sebagian besar (41%)  ada pesisir Pulau Kalimantan. Nah mangrove ini banyak terancam oleh reklamasi, budidaya sentra perikanan, bahkan diambil kayu untuk bahan bakar. Belum lagi ancaman biodiversity di dalamnya akibat perburuan liar atau racun ikan. Padahal fungsi mangrove banyak banget. Dia tuh menghasilkan berbagai komoditas perikanan dan kehutanan, dia juga berperan untuk mencegah abrasi pantai, menstabilkan daerah pesisir, menyaring limbah secara alami, mencegah intrusi air laut, sebagai habitat dan tempat pemijahan beberapa jenis satwa yang tinggal di wilayah mangrove. Selain itu ekosistem mangrove juga punya potensi yang besar dalam menyerap dan menyimpan karbon. Tahu kan, karbon tuh berkontribusi besar terhadap terjadinya perubahan iklim. Dengan menjaga ekosistem mangrove artinya kita telah melakukan mitigasi bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim.

 

Banyak banget ya ternyata manfaatnya. Boleh dong sekali-kali kita lihat ekosistem mangrove di sana.

Ayuk, kita tunggu kedatangannya ya!

 

 

Heribertus Suciadi

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Keseruan 3 R di Hari Bumi

Udah pada tau kan ya kalau Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April? Nah, untuk memperingati Hari Bumi tahun ini,

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit