Mengenal 7 Satwa Nokturnal di Indonesia

Satwa nokturnal adalah kelompok satwa yang sangat unik. Hal ini dikarenakan mereka cenderung lebih aktif di malam hari ketimbang di siang hari. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hewan nokturnal adalah keadaan hewan yang sifatnya atau kebiasaannya aktif terutama pada malam hari. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya untuk menghindari predator yang memburu mereka, atau menghindari kompetisi dengan satwa lain dalam mencari makanan.

Indonesia sendiri memiliki beberapa jenis satwa liar yang termasuk dalam kelompok ini. Beberapa di antaranya mungkin sudah kita kenal baik sejak kecil, beberapa di antaranya mungkin terdengar asing di telinga kita. Beberapa dari satwa liar ini juga merupakan satwa asli Indonesia, alias endemik Indonesia. Yuk, kita simak 7 satwa nokturnal yang terdapat di Indonesia.

 

1. Landak

Foto: Rudiansyah | IAR Indonesia

Landak adalah satwa kelompok rodensia atau termasuk dalam kelompok satwa pengerat. Di Indonesia, mereka masuk ke dalam kelompok genus Hystrix sp. Mereka mudah dikenali dari ciri-ciri tubuhnya yang sangat mudah terlihat: kumpulan duri pada abdomen atau punggungnya.

Mereka termasuk satwa nokturnal yang ditandai dari kebiasaannya. Di siang hari, mereka bersembunyi di dalam lubang. Ketika malam tiba, mereka mencari makanan berupa bagian-bagian tumbuhan seperti akar, umbi, kulit kayu, dan buah-buahan.

 

2. Binturong

Foto: Rudiansyah | IAR Indonesia

Binturong yang biasa disebut juga dengan sebutan binturung atau bearcat dalam bahasa asing adalah contoh satwa penghuni malam lain yang hidup di Indonesia. Hewan dengan status konservasi “rentan” ini lebih aktif di malam hari ketimbang siang hari. Satwa dengan nama latin Arctictis binturong ini terkenal dari bau khasnya yang menyengat.

Aktivitas yang biasa dilakukan binturong di malam hari adalah mencari makanan seperti daging, telur, serangga, hingga buah-buahan dan dedaunan. Binturong diklasifikasikan atau dikelompokkan dalam kelompok hewan karnivora, alias hewan pemakan daging. Meski begitu mereka bisa memakan tumbuh-tumbuhan di luar pakan dagingnya.

 

3. Tarsius

Gursky’s spectral tarsier by T. R. Shankar Raman (CC-BY-SA 3.0)

Sebagian besar satwa kelompok tarsius adalah satwa endemik Indonesia yang tersebar di Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, serta pulau-pulau lain di sekitarnya. Mereka juga termasuk dalam kelompok satwa primata. Hal ini menjadikan hutan Indonesia sebagai habitat salah satu primata terlangka di dunia.

Kelompok primata tarsius juga terkenal karena merupakan kelompok primata dengan ukuran tubuh terkecil di dunia. Panjang tubuh dari kepala hingga tubuhnya hanya berkisar 10-15 cm. Di samping memiliki ukuran tubuh yang kecil, rupanya ia memiliki mata yang cukup besar untuk melihat di malam hari. Tiap bola matanya berdiameter 16 mm dan ternyata tidak bisa digerak-gerakkan. Itulah sebabnya tarsius membutuhkan leher yang mampu berputar hingga hampir 360o guna melihat sekelilingnya.

 

4. Burung Paruh-kodok

Foto: Reza Septian | IAR Indonesia

Burung paruh-kodok adalah kelompok burung unik yang termasuk dalam famili Podargidae. Kelompok burung paruh-kodok yang dapat ditemukan di Indonesia ada dua jenis, yaitu Brachostomus sp. Dan Podargus sp. Mereka adalah kelompok burung nokturnal yang kekerabatannya sangat dekat dengan burung cabak.

Kelompok burung ini dinamai paruh-kodok karena bentuk paruhnya yang melebar menyerupai mulut kodok. Paruh mereka yang lebar dan besar memudahkan mereka untuk memangsa serangga. Mereka juga memiliki ciri khas berupa warna bulu yang menyerupai daun dan batang pohon, sehingga membantu mereka untuk bersembunyi di dalam hutan.

 

5. Burung Hantu

Foto: Muhidin | IAR Indonesia

Di Indonesia terdapat tiga jenis kelompok burung hantu, yaitu Otus sp., Tyto sp., dan Phodilus sp. Burung ini adalah satwa predator. Satwa yang tidak asing di telinga kita ini terbang di malam hari untuk mencari mangsa berupa mamalia dan burung yang berukuran kecil.

Tahukah kamu bahwa mereka mampu memutar kepalanya hingga 270 derajat? Kemampuan tubuhnya yang unik ini membantu mereka dalam mencari mangsa. Ditambah dengan mata berukuran besar yang mampu melihat dalam cahaya yang redup, burung hantu dinobatkan sebagai salah satu satwa pemburu terhandal di malam hari.

 

6. Bangkong Serasah

Leptobrachium hasseltii, male by W.A. Djatmiko (Wie146) (CC-BY-SA 3.0)

Bersama dengan sebagian besar kelompok amfibi lain, bangkong serasah adalah satwa nokturnal. Bangkong serasah tinggal di bawah serasah hutan ketika siang hari saat menunggu malam datang. Karena kebiasaannya hidup di bawah serasah, kodok ini akhirnya dinamai bangkong serasah.

Kodok yang bernama latin Leptobrachium hasseltii tersebar di sepanjang Pulau Jawa hingga Lampung dan Pulau Bali. Satwa ini hidup di hutan hujan dan lahan basah. Saat ini, populasi spesies kodok ini masih cukup banyak. Meski begitu diperkirakan jumlahnya sedang mengalami penurunan.

 

7. Kukang

Foto: Reza Septian | IAR Indonesia

Kelompok kukang (Nycticebus) di samping satwa nokturnal, mereka juga merupakan satwa arboreal, yaitu satwa yang tinggal di atas pohon. Terdapat 5 (lima) jenis kukang di seluruh dunia, 3 (tiga) di antaranya berada di Indonesia. Jenis-jenis kukang yang berada di luar Indonesia yaitu kukang benggala atau Nycticebus bengalensis yang tersebar di India hingga Thailand, serta kukang kerdil (Nycticebus pygmaeus) yang tersebar di Indocina sebelah timur Sungai Mekong. Untuk ketiga kukang lainnya yang berada di Indonesia yaitu terdapat kukang sumatra (Nycticebus coucang), kukang jawa (Nycticebus javanicus), dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis).

Saat ini, kukang telah masuk ke dalam salah satu satwa dilindungi. Hal ini disebabkan jumlah populasinya yang terus menurun di alam liar. Penurunan ini disebabkan oleh banyak hal, mulai dari perburuan satwa liar, pengurangan luasan habitat, hingga perdagangan satwa liar.

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Keseruan 3 R di Hari Bumi

Udah pada tau kan ya kalau Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April? Nah, untuk memperingati Hari Bumi tahun ini,

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit