Kisah Si Primata Malam Kukang Sepanjang 2022

16 Nov 2022
Admin YIARI

Kisah Si Primata Malam Kukang Sepanjang 2022

oleh | Nov 16, 2022

Buat kami, tahun 2022 jadi tahun yang cukup menantang dalam merehabilitasi kukang. Terutama dengan meningkatnya kasus kukang yang tersetrum listrik. Kegiatan rehabilitas kami tentu masih terus berlanjut, namun juga dibarengi dengan penyuluhan dan peningkatan kapasitas terkait konservasi hewan mungil ini kepada instansi dan masyarakat setempat sebagai upaya untuk mendorong perlindungan kukang di habitatnya lewat inisiatif masyarakat.

Di tahun ini, tercatat 25 individu kukang yang telah diselamatkan oleh BKSDA di berbagai daerah dan teman-teman NGO yang akhirnya ditranslokasi ke pusat rehabilitasi kami. Kebanyakan dari mereka adalah korban pemeliharaan satwa dan kecelakaan. Sayangnya, nih, nggak semua kukang ini bisa kembali prima, banyak di antara mereka yang harus mengalami operasi, bahkan amputasi akibat parahnya luka yang diderita.

Contohnya Brodi, si Kukang Jawa. Pada September tahun ini, masing-masing lengan atas dan bawahnya harus diamputasi sebab terluka akibat tersetrum listrik ketika ia melewati kabel listrik di daerah Kuningan. Ini membuat jaringan sel di lengannya mati dan membusuk sehingga harus diamputasi. Jadinya, ia diperkirakan tidak dapat dilepasliarkan kembali karena tidak bisa berjalan dengan sempurna. Selain Brodi, banyak kukang lain yang mengalami kecelakaan tersetrum listrik seperti Elektro dan Kobong pada Januari dan Agustus tahun ini. Oiya, fenomena kukang tersengat listrik di kabel listrik menjadi pusat perhatian kami belakangan ini. Sebabnya, di tahun ini kami menemukan dan sering mendapat laporan bahwa banyak kukang yang mati ataupun terluka akibat sengatan listrik baik di Pulau Kalimantan, Sumatera, maupun Jawa. Dari data yang kami dapatkan melalui kerjasama dengan PLN UID Lampung, di provinsi Lampung sendiri setidaknya tidak kurang dari 1200 kasus kukang tersengat listrik selama tahun 2022. Diperkirakan jumlah kukang yang tersengat listrik di daerah lain juga sama banyaknya dengan kejadian di provinsi ini.

Brodi sesaat sebelum menjalani operasi amputasi lengan kanannya. Luka bakar yang cukup parah pada lengannya membuat jaringan sel di sekitarnya mati dan berpotensi menimbulkan infeksi apabila tidak segera ditangani (Denny Setiawan | IAR Indonesia)

Selain kasus kukang yang tersetrum listrik, ada juga cerita kukang-kukang yang masih saja mengalami perdagangan ilegal. Contohnya adalah satu individu kukang jawa bernama Gipo yang harus dicabut giginya yang terpotong dan berpotensi infeksi. Pada 6 Juni kemarin, ia ditemukan di jalanan Kabupaten Lebak, Banten, padahal dia adalah kukang sumatera. Tim medis kami memperkirakan bahwa Gipo adalah kukang yang sempat dipelihara di rumah dan dipotong gigi secara paksa supaya tidak menggigit “pemilik”-nya. Alhasil banyak sekali gigi Gipo yang harus dicabut dan mengurangi kesempatannya untuk dapat dilepasliarkan di alam. Meski kesempatannya kecil, ia dan semua kukang yang direhabilitasi kami beri pakan yang bernutrisi dan pengayaan supaya cepat pulih baik secara fisik maupun perilaku.

Berbicara mengenai pelepasliaran kukang, kami juga melakukan beberapa kegiatan pelepasliaran kukang bersama BKSDA setempat di beberapa daerah sepanjang tahun ini. Setelah melakukan survei lokasi yang cocok, kami menentukan Cagar Alam Gunung Simpang (CAGS), Hutan Lindung (HL) Batutegi, Hutan Lindung Gunung Tarak, dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) adalah lokasi yang ideal untuk pelepasliaran kukang. Di CAGS, kami melepasliarkan 10 individu kukang jawa bersama BKSDA Jawa Barat pada 25 Maret lalu. Disusul oleh dua pelepasliaran kukang kalimantan yang berbeda di HL Gunung Tarak, yaitu pelepasliaran empat individu kukang bersama BKSDA Kalimantan Barat pada 6 April lalu dan kukang kalimantan bernama Elektro yang tersetrum listrik yang dilepasliarkan pada 16 Januari lalu. Lalu di HL Batutegi kami melepasliarkan enam individu kukang sumatera bersama BKSDA Lampung dan KPHL Batutegi pada 25 Juli lalu. Kegiatan pelepasliaran terakhir dilakukan pada November di Gunung Botol bersama BKSDA Jawa Barat.

Untuk memaksimalkan program konservasi kukang tahun ini, di samping kegiatan lapangan sepanjang September tahun ini, kami juga melakukan kegiatan edukasi dan diskusi publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan institusi publik terhadap konservasi primata Indonesia. Edukasi ini di antaranya adalah penyuluhan dan peningkatan kapasitas terkait penanganan satwa liar di daerah Bogor dan Ciamis bagi Pemadam Kebakaran dan masyarakat di sekitar. Bersama BKSDA Jawa Barat, kami memberikan pelatihan mengenai tata cara evakuasi primata yang baik dan benar, juga cara penanganan primata yang aman bagi satwa maupun evakuatornya.

Kami juga melakukan diskusi publik bersama PLN UID Lampung, BKSDA Lampung, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dan Konsentris.id terkait kasus tersetrumnya kukang di sepanjang jalur listrik di Provinsi Lampung yang juga menyebabkan padamnya jaringan listrik masyarakat. Hal ini dilakukan supaya tidak ada lagi kasus kukang yang terluka dan mati akibat tersetrum listrik sekaligus melindungi instrumen listrik milik negara dari kerusakan akibat satwa liar yang melintas di kabel listrik. Kasihan ‘kan Sobat IAR melihat kukang tersetrum kabel listrik hanya karena sekadar melintas di pemukiman warga?

Dokter hewan kami, drh. Imam Arifin, memberi materi mengenai kukang kepada Petugas Pemadam Kebakaran Kota Bogor dalam kegiatan penyuluhan penanganan primata di Bogor dan sekitarnya (Yudha | Yayasan IAR Indonesia)

Di tahun ini, tim animal management kami di Ciapus menerima empat dokter hewan spesialis dari Madrid, Spanyol. Mereka adalah dokter spesialis gigi satwa, dokter Aurora Mateo Roman dan dokter  Alix Sophie Freeman, satu orang dokter hewan spesialis anestesi, dokter Ana Maria Martin Sanchez, dan satu orang ahli kardiologi satwa, Dr. Nuria Sanchez Alzuria. Mereka datang untuk memberikan peningkatan kapasitas sekaligus melakukan pemeriksaan dan pemberian perawatan bagi kukang-kukang yang sedang menjalani masa rehabilitasi.

Kali ini, 20 kukang menjalani pemeriksaan dan perawatan oleh para dokter spesialis ini. Pemeriksaan dan perawatan gigi kukang ini menjadi penting karena banyak kasus kerusakan pada gigi kukang karena dipotong oleh pemelihara atau patah secara alami sehingga berpotensi atau bahkan sudah terjadi infeksi. Kerusakan gigi kukang yang paling sering terjadi adalah patah gigi dan akar yang kemudian bisa berkembang menjadi infeksi dengan keparahan yang beragam. penanganan yang dilakukan tergantung keparahan dan jenis dari kerusakan gigi itu sendiri, ada yang harus dicabut dan ada yang masih bisa dilakukan root canal treatment atau penambalan.

Kami juga mengundang dokter hewan dari Yayasan Kalaweit dan Yayasan Scorpion untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas. Dalam kegiatan ini, dokter hewan YIARI, Kalaweit, dan Scorpion mendapatkan materi wildlife dentistry, kardiologi dasar, anestesia dasar serta praktek kardiologi dan anestesi. Upaya-upaya konservasi kukang ini nggak bisa kami lakukan tanpa adanya kolaborasi dengan berbagai pihak. Kami sadar bahwa dalam melindungi kukang di habitatnya perlu upaya berbagai ahli di bidangnya. Untuk itulah kami berharap konservasi kukang dapat kembali dilaksanakan di masa depan dengan kerjasama multipihak dan pada akhirnya mampu melindungi kukang lebih banyak di habitatnya.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Fattreza Ihsan/ Heribertus Suciadi

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar YIARI

7
Feb 23, 2024

Lowongan Kerja – Spesialis Manajemen Program – Bogor, Jawa Barat

DIBUTUHKAN SEGERA Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) adalah organisasi nirlaba yang bergerak dibidang upaya penyelamatan, perlindungan dan konservasi satwa liar Indonesia, khususnya satwa primata, seperti orangutan, kukang, monyet ekor...

Artikel Terkait