Dirawat Lima Hari, Bonjer Akhirnya Mati AKibat Infeksi Gusi

IAR, Bogor — Meski sempat menjalani perawatan intensif di klinik Pusat Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia selama lima hari, Bonjer, Kukang sumatera hasil penyerahan warga di Kebun Jeruk, Jakarta Barat, pada 6 Agustus 2010 lalu, akhirnya mati setelah mengalami infeksi yang cukup parah pada bagian gigi.

Endang Tirtana, tim rescue penjemput Kukang, mengatakan, kondisi kesehatan Bonjer amat kritis saat pertama kali diamati didalam kandang sang pemilik. Hal itu terlihat dari kondisi organ luar seperti pada bagian mata, gigi, dan kaki, yang mengalami infeksi.

“Saat dijemput dirumah pemiliknya, kondisi Bonjer sudah dalam keadaan sakit. Pada bagian mata dan kaki mengeluarkan nanah. Secara keseluruhan, bisa dikatakan kesehatannya memang sudah parah,” kata Endang.

Buruknya kondisi kesehatan Bonjer dibenarkan oleh tim medis IAR, Suli Partono. Suli menjelaskan, penyebab kematian Bonjer sebenarnya berasal dari tindakan ceroboh yang dilakukan pedagang satwa, yang dengan sengaja memotong gigi taring. Namun, jika ditelisik dari tingkat keparahan infeksi, Suli menduga pedagang mencabut paksa dan membiarkan penyebaran infeksi tersebut hingga menjalar ke seluruh tubuh.

“Ada kemungkinan gigi taringnya dicabut dengan perkakas (tank). Ada 12 gigi yang dicabut dalam-dalam. Jadi, infeksi giginya sudah kronis. Gusi berdarah, dan tidak mau makan. Bonjer juga mengidap Pheumoni atau infeksi pernafasan,” kata Suli.

Tim medis kemudian berupaya untuk menstabilkan kondisi tersebut dengan memberikan obat antibiotik Baytril. Obat itu berfungsi untuk melancarkan sumbatan pada saluran pernafasannya. Akan tetapi, jenis obat tersebut rupanya tak mempan menyembuhkan derita yang dialami Bonjer. Obat itu sama sekali tak bereaksi. Akhirnya, tim medis memberikan obat jenis Fortum berdosis tinggi. Hasilnya, Bonjer mengeluarkan cairan dari hidungnya atau yang biasa kita kenal dengan sebutan ingus.

“Kalau sudah mengeluarkan ingus seperti itu, tandanya saluran pernafasannya mulai lancar meski belum sepenuhnya lancar. Tapi karena infeksinya terlalu parah dan terlambat ditangani, akhirnya tidak dapat bertahan dan mati,” ujar Suli.

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Orangutan Laksmi dan Lusiana, Ibu dan Anak.

Kilas Balik Kami di 2020!

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2020. Kami yakin semua di antara kita mengalami hal yang sama, yakni perasaan

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit