Community Development: Ekonomi Berkelanjutan Untuk Jaga Hutan

Damaskus Aman ikut peran juga dalam kegiatan menanam pohon di lokasi Kantor Desa pada hari kamis 12 November 2020.

Tahun 2020 menjadi tahun ke empat program Community Development kami terapkan pada 3 lansekap perhatian kami. Masing-masing lansekap yang menerapkan program community development memiliki pendekatan yang berbeda. Lansekap Pematang Gadung – Sungai Besar dan Sentap Kancang bertujuan menciptakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat yang berkerja di dalam hutan untuk mengurangi kontak antara sawta liar dan manusia. Lansekap Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya bertujuan untuk mengalihkan aktifitas masyarakat sekitar hutan dari dalam hutan ke luar hutan. Menghindari terjadi konflik antara manusia dan satwa liar dalam merebutkan sumber daya alam.

Program Mata Pencaharian alternatif Usaha Perikanan yang didorong oleh kami mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan jumlah masyarakat sekitar hutan yang terlibat dalam program. Tahun 2019, jumlah masyarakat yang terlibat adalah sebanyak 15 orang. Pada tahun 2020, terjadi peningkatan sebanyak 80 % dari jumlah masyarakat yang terlibat tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena pada tahun 2020, Ketua Kelompok menemukan teknik budidaya ikan air tawar pada lahan gambut yang memiliki kadar keasaman tanah yang tinggi. Teknik ini menjadi solusi bagi pembudidaya perikanan air tawar di desa sungai besar yang selama ini mengalami kegagalan menggunakan kolam tanah dalam membudidaya ikan air tawar. Peningkatan penghasilan di semeter kedua adalah sebesar 42 % dari semester 2.

Selain usaha perikanan, Kelompok Peternakan di Desa Sungai Besar mulai memanfaatkan pupuk kompos hasil swadaya masyarakat untuk meningkatkan hasil pertanian yang dikelola oleh masyarakat sungai besar. Penerapan kompos sebagai pupuk awal/dasar bagi tanaman pertanian dapat menghemat 50 – 70 % biaya operasional pengolahan sawah di Sungai Masyarakat.

Berbeda dengan di Sungai Besar, di Desa Pematang Gadung pemanfaatan bioslury hasil fermentasi kotoran ternak melalui teknologi biodigester membuhakan hasil. Tahun ini, kami mendorong uji coba penggunaan bioslury pada tanaman hortikultur. Hasil yang paling terlihat dari penggunaan bioslury ini adalah hasil panen petani yang meningkat sebanyak 50 %. Selain itu, secara visual terlihat bahwa tanaman yang menggunakan bioslury memiliki jumlah buah yang lebih banyak dan besar serta warna daun lebih hijau dibandingkan dengan komoditi yang tidak menggunakan bioslury. Berdasarkan Ujicoba ini, bioslury memiliki keunggulan dibandingkan dengan pupuk berbahan organik lainnya.

Selain upaya persuasif yang dilakukan melalui mendorong mata pencaharian alternatif bagi masyarakat sekitar hutan, juga dilakukan kegiatan pengamanan hutan dengan memberdayakan masyarakat setempat yang berasal dari Sungai Besar dan Pematang Gadung. Kegiatan Pengamanan yang dilakukan adalah dengan Patroli gabungan antara LPHD setempat, KPH Ketapang Selatan, TNI, Polri dan Kecamatan Matan Hilir Selatan. Dari 3 kali Patroli Gabungan yang telah dilakukan telah menurunkan jumlah aktifitas pelaku ilegal logger di dalam kedua hutan desa tersebut.

Melalui kegiatan yang telah dilakukan tersebut, kami telah turut serta menjaga hutan dalam lansekap pematang gadung – sungai besar seluas 13.678 hektar (analisis spasial, 2020).

Kegiatan yang diterapkan di lansekap Sentap Kancang dimulai dengan memberdayakan masyarakat setempat sebagai fasilitator desa yang bertugas menjadi penghubung dan pengorganiser masyarakat setempat agar peduli terhadap isu kebakaran hutan dan lahan, sehingga bidang pertanian menjadi unsur penting dalam pendekatan dengan masyarakat disamping mendorong mata pencaharian alternatif bagi masyarakat setempat.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah yang dihadapi masyarakat tanjung baik budi dan sungai putri, fasilitator desa mendorong pemanfaatan lahan rawan kebakaran hutan dan lahan yang non produktif menjadi lahan pertanian yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Dengan adanya pemanfaatan tersebut, akan mendorong masyarakat agar melakukan pengolahan lahan tanpa bakar dan menjaga lokasi agar tidak mudah terbakar saat musim kering terjadi. Di Sungai Putri, Fasilitaor desa mendorong pemberdayaan perempuan untuk pemanfaatan daun pandan menjadi wadah ecopolibag bagi tanaman jangka panjang dan jangka pendek yang diusahakan oleh masyarakat sungai putri. Kegiatan yang didorong oleh Fasilitator Desa menjadi salah satu strategi kampanye pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Pada Desa Sungai Awan Kiri, pendampingan petani yang dilakukan diarahkan pada optimalisasi lahan dan pemanfaatan lahan non produktif dengan menerapkan pola pengolahan lahan tanpa bakar. Total lahan yang dikelola adalah seluas 3,1 hektar dari 7 orang. Pendampingan pertanian dimulai sejak tahun Juni 2019 sebanyak 2 orang dan telah bertambah menjadi 7 orang. Setelah adanya intervensi melalui pendampingan yang telah diberikan, petani mendapatkan peningkatan hasil rata-rata sebanyak 66 % dari penghasilan sebelumnya. Selain pendekatan melalui bidang pertanian, Fasilitator Desa mendorong adanya kolaborasi antarpihak di lingkup tapak dalam upaya pencegahan kebakran hutan dan lahan. Pihak yang terlibat diantaranya Pemerintahan Desa, YIARI, PT. MPK, TNI, Polri dan Kelompok Masyarakat setempat seperti Masyarakat Peduli Api. Dan pada tahun 2020, Fasilitator Desa bersama Babinsa berhasil mendorong adanya pemanfaatan biaya oeprasional MPA sebesar Rp 18.000.000,-

Masa Pandemi tahun 2020 membuat masyarakat banyak yang kehilangan pekerjaan. Untuk itu, Program Pemulihan Ekonomi Nasional yang dikucurkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Areal Mangrove disambut baik oleh Fasilitator Desa untuk menjadi pengalihan aktifitas masyarakat agar tidak menekan ke dalan hutan. Setidaknya sebanyak 148 orang berhasil dimobilisasi oleh Fasilitator Desa dari Sungai Besar, Sungai Awan Kiri, Tempurukan, Sungai Putri, Kuala Tolak dan Kuala Satong untuk Rehabilitasi seluas 84 hektar. 50 orang diantaranya adalah perempuan. Setidaknya per orang mendapatkan manfaat sebanyak Rp 720.000 hingga Rp 1.930.000. Dari Sungai Awan Kiri, program PEN menyerap 6 orang yang terdampak oleh pandemic khususnya pemutusan kerja oleh perusahaan.

Di Desa Kuala Satong, selain Rehabilitasi Mangrove, sebelumnya kami juga sudah melakukan pendampingan kelompok sadar wisata mangrove di Kuala Satong. Tahun 2020, pembangunan infrastruktur untuk mendukung pengembangan usaha wisata mangrove mulai dilakukan, diantaranya jungle track, saung dan fasilitas umum dan juga promosi wisata melalui social media. Selain itu, juga ditemukan adanya keanekaragaman hayati yang tinggi pada lokasi tersebut, yang ditandai dengan ditemukannya Bekantan (Nasalis Larvatus).

Pendekatan yang berbeda diterapkan pada lansekap taman nasional bukit baka bukit raya karena erat kaitannya dengan budaya dan suku. Mayoritas masyarakat sekitar taman nasional bukit baka bukit raya adalah dayak, sehingga masih sangat bergantung pada sumber daya hutan untuk hidup, dimulai dari makan hingga obat. Tahun 2020, YIARI bersama dengan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya mengidektifikasi tanaman obat di dalam Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Hasilnya terdapat setidaknya 196 tumbuhan obat yang berasal dari 62 family, 130 genus. 174 sepcies diantaranya sudah teridentifikasi, 22 jenis laiinya sedang dalam proses identifikasi. Obat-obatan alami tersebut setidaknya mampu mengobati 60 jenis penyakit dan luka secara tradisional.

Selain itu, sekali lagi budaya menjadi dasar dalam mengimplementasikan kegiatan. Terdapat 144 masyarakat petani yang biasa bejualan sayur, mereka berasal dari Desa Nusa Poring ada 86 orang, dan dari Mawang Mentatai ada 58 orang. Pembeli sayur terdapat di Serawai dan Menukung. Untuk itu, YIARI mendorong budidaya sayur-sayuran lokal untuk peningkatan ekonomi rumah tangga, yang dimulai dengan termanfaatkannya lahan non produktif seluas 3.479 m² di Muara Juoi dan Nanga Dawai oleh 24 KK.

Dengan Pemanfaatan ini, maka masyarakat turut serta melindungi hutan dan budaya yang telah menjadi warisan secara turun temurun.

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Orangutan Laksmi dan Lusiana, Ibu dan Anak.

Kilas Balik Kami di 2020!

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2020. Kami yakin semua di antara kita mengalami hal yang sama, yakni perasaan

Nawala IAR IndonesiaDapatkan yang Terbaru dari Kami

Mari berlangganan nawala kami untuk mendapatkan informasi menarik seputar penyelamatan satwa liar di pusat rehabilitasi kami.

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit