Aktif Mengurangi Sampah Plastik dan Berdaur Ulang Bagi Masa Depan Bumi

Tangan-tangan mungil itu tampak terampil memungut sampah plastik yang bertebaran di atas pasir. Debu dan sinar matahari yang masih terik di sore itu, 21 Maret  tidak menyurutkan anak-anak anggota Taman Baca Sir Michael Uren Ketapang melakukan aksi bersih sampah di Pantai Tanjung Belandang, Kabupaten Ketapang. Ditemani tim edukasi kami, puluhan anak-anak usia sekolah dasar ini mampu mengumpulkan lebih dari 80 kilogram sampah plastik hanya dalam waktu satu jam.

Tidak hanya melibatkan anak-anak, aksi bersih pantai yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan ini juga melibatkan beberapa pihak antara lain Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang, Polres Ketapang, Dandim 1203 Ketapang, Polsek Muara Pawan, Komunitas Arcapada Center, Komunitas Webe Advanture, Masyarakat Sadar Wisaya (Masata), serta Putri Wisata Kalimantan Barat, Elisabeth Asri.

Selain membersihkan kawasan Pantai Tanjung Belandang dari sampah, mereka juga aktif melakukan kampanye untuk mengajak pengunjung mengurangi sampah plastik dan membuang sampah pada tempatnya. Hasilnya ratusan tandatangan komitmen dari para pengunjung berhasil didapatkan dan setelah kegiatan ini berjalan tiga kali sampai bulan Maret 2021 ini, jumlah sampah di Pantai Tanjung Belandang mulai berkurang. Bahkan para pedagang di sekitar pantai turut serta berkomitmen untuk melakukan pengawasan dan bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan.

Kegiatan yang dimulai pertama kali pada Januari 2021 ini merupakan aksi nyata dari komitmen kami untuk mengurangi permasalahan terkait sampah. Dilansir dari situs Global Recycle Day, dalam waktu setengah abad, manusia telah membebani bumi dengan 6,3 miliar ton sampah plastik. Dengan adanya aksi bersih sampah dan street campaign ini, diharapkan pengunjung pantai lebih peduli dengan permasalahan sampah.

Anak-anak memungut sampan-sampah plastik di Pantai Tanjung Beladang, Ketapang, Kalimantan Barat. Foto: Heribertus Suciadi.

Langkah lain yang kami lakukan untuk mengurangi sampah plastik adalah dengan menggunaan ecopolybag untuk penyemaian bibit tanaman hutan yang akan ditanam kembali di lahan yang hancur karena kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 dan 2019 silam. Ecopolybag yang digunakan oleh tim restorasi kami ini menggunakan daun nipah dan daun pandan sebagai bahan bakunya. Pembuatan ecopolybag ini dilakukan dengan mengajak ibu-ibu di Desa Pematang Gadung dan Desa Sungai Putri di Kabupaten Ketapang, serta Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring di Kabupaten Melawi. Total ada 110 ibu-ibu dan remaja perempuan yang mendapatkan penghasilan tambahan dalam pembuatan ecopolybag ini.

Selain berhasil mengurangi potensi belasan ribu sampah plastik dari polybag regular, program pembuatan dan penggunaan ecopolybag ini juga memberikan mata pencaharian alternatif bagi kaum perempuan di desa-desa ini. Di awal tahun ini, kami menargetkan penggunaan 13 ribu ecopolybag yang akan digunakan untuk melakukan restorasi di Hutan Desa Pematang Gadung, Hutan Lindung Gunung Tarak, serta lahan di Desa Sungai Awan Kiri di Kabupaten Ketapang.

Di lingkungan internal kami sendiri, upaya untuk menekan jumlah sampah yang dihasilkan  dilakukan dengan melakukan pengurangan dan pemilahan sampah organik dan anorganik. Pengurangan sampah plastik dilakukan dengan mengganti semua botol minuman sekali pakai dengan menyediakan galon dan gelas serta mengggunakan tumbler dalam setiap kegiatan lapangan. Sampah organik yang terkumpul kemudian diolah menjadi biogas dengan biodigester yang berada di dalam Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. Sisa hasil biogas menjadi bioslurry padat dan cair yang bisa dipakai sebagai pupuk organik untuk tanaman hias dan budidaya.

Tidak hanya di dalam lingkungan internal kami saja, tim pertanian organik IAR Indonesia juga mengajak warga di lima desa di sekitar Pusat Penyelamatan Orangutan kami di Desa Sungai Awan Kiri untuk memanfaatkan limbah organik dari rumah dan kebun untuk membuat kompos. Selain Desa Sungai Awan Kiri, kami mengadakan pelatihan pembuatan pupuk kompos dan cair di Desa Tempurukan, Tanjung Baik Budi, Sukamaju, dan Sungai Putri. Total peserta pelatihan yang berlangsung selama 10 hari di lima desa ini mencapai 162 orang yang terdiri dari 78 laki-laki dan 84 perempuan. Harapannya, warga masyarakat di dua desa ini menyadari pentingnya pemanfaatan limbah organik dan mampu memanfaatkan limbah menjadi pupuk untuk pertanian organik yang ramah lingkungan.

Melalui kegiatan-kegiatan ini, diharapkan masyarakat yang terutama berada di kawasan-kawasan konservasi, memiliki inisiatif dan pengetahuan tentang cara-cara merawat dan melestarikan alam, baik itu dengan meminimalisir penggunaan bahan-bahan yang sulit didaurulang oleh bumi, juga mengetahui cara-cara memilah sampah, mengolah sampah organik dan cara-cara daurulang lainnya.

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit