YIARI Ketapang Lepasliarkan Tiga Orangutan

by in Kliping Media, News 24 June, 2015

Pontianak (Antara Kalbar) – Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang melepasliarkan tiga orangutan dari hutan Sungai Besar ke Batu Barat, di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Kabupaten Kayong Utara.
Menurut Humas YIARI Ketapang Heribertus saat dihubungi di Pontianak, Sabtu, ketiga orangutan itu yakni Brama, Mama Padi dan bayi Padi, dilepasliarkan pada Kamis (11/6).

“Total dari bulan Maret sampai Mei, lima orangutan liar telah diselamatkan dari kawasan Sungai Besar dan Sungai Bakau,” ujar dia.

Kelima orangutan ini sering muncul di perkampungan warga serta merusak ladang. Mereka masuk ke ladang warga karena makanan di hutan tempat tinggalnya mulai habis.

Hutan tersebut merupakan hutan gambut dengan tingkat keragaman hayati yang cukup tinggi. Namun kini kondisinya semakin menyempit dan menyebabkan makanan orangutan berkurang drastis.

Menurut laporan, hutan ini berstatus Hutan Desa dengan populasi orangutan yang sangat besar. Studi yang dilakukan oleh YIARI pada tahun 2013 menunjukkan ada total lebih dari 500 orangutan yang berada di kawasan Sungai Besar dan Pematang Gadung.

Perambahan hutan untuk pertanian, perkebunan, serta pertambangan emas illegal merupakan ancaman nyata bagi orangutan.

YIARI Ketapang menempatkan tim mitra di Sungai Besar untuk memantau orangutan yang sering masuk ke ladang warga. Setelah data dirasa cukup, penyelamatan untuk pertama kalinya dilakukan pada bulan Maret 2015.

Dari kegiatan ini tim YIARI berhasil menyelamatkan satu orangutan betina dewasa dan satu anak orangutan. Kondisi mereka kurus karena mengalami kelaparan dalam waktu yang lama. Pemeriksaan medis juga melaporkan adanya tanda-tanda kekurangan nutrisi. Saat ini kedua orangutan itu berada di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan milik YIARI di Ketapang.

Upaya penyelamatan kedua kalinya dilakukan pada tanggal 4 mei 2015. Hasilnya didapat dua orangutan betina. Penyelamatan kedua ini merupakan hasil kerja sama antara YIARI dan BKSDA. Kondisi dua orangutan betina ini juga tidak jauh berbeda dengan orangutan yang didapatkan pada penyelamatan Maret silam.

Dua orangutan ini kurus dan menderita kekurangan nutrisi. Bahkan tim medis perlu memberinya cairan infus sebelum membawanya keluar dari hutan

Penyelamatan ketiga dilaksanakan pada akhir bulan Mei setelah tim melakukan pengintaian selama dua hari. Agak berbeda dengan penyelamatan sebelumnya. Pada penyelamatan kali ini tim harus bekerja ekstra keras dan hati-hati karena kondisi hutan yang banjir. Bahkan di beberapa bagian kedalamannya mencapai pinggang. Orangutan terakhir yang diselamatkan ini terlihat bugar dan berisi. Hanya bulu bagian belakang yang terlihat botak.

Ia melanjutkan, butuh waktu yang lama untuk menunggu orangutan masuk ke dalam jangkauan aman sebelum dapat dilumpuhkan dengan peluru bius. “Kondisi hutan yang tergenang air menyulitkan pergerakan tim yang harus mengikuti pergerakan orangutan,” ujar dia.

Lantai hutan yang terendam juga membahayakan orangutan bila sampai jatuh ke sampai ke dasar hutan. Setelah berjibaku di dalam hutan selama 4 jam, akhirnya tim bisa membawa orangutan ini ke luar untuk memasukkannya ke dalam kandang transport sebelum dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan YIARI Ketapang.

Setelah menjalani rehabilitasi selama hampir tiga bulan di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan di Ketapang, Tim medis menyatakan Brama dan Padi sudah cukup bagus keadaanya untuk dikembalikan ke alam bebas. Sementara dua orangutan lainnya masih perlu mendapatkan perawatan sebelum bisa dilepaskan.

“Kondisi fisik Brama dan Padi bagus, berat badannya sudah ideal dan mereka terlihat bugar. Sedangkan untuk tiga orangutan yang lain, saya rasa masih membutuhkan perawatan lebih lanjut,” ujar koordinator tim medis, drh Ayu Handayani.

Kegiatan pelepasliaran ini dipimpin langsung oleh Argito Ranting selaku manager lapangan YIARI Ketapang. Selain diikuti oleh tim medis dan staf YIARI Ketapang, pelepasliaran ini juga diikuti jajaran BKSDA Ketapang, dan petugas Taman Nasional Gunung Palung.

“Ini adalah kali kedua YIARI Ketapang dan BKSDA Melakukan kegiatan pelepasliaran di Taman Nasional Gunung palung. Sebelumnya, pada bulan Februari silam, enam individu orangutan dilepaskan di kawasan Batu Barat,” kata dia.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Dadang mengatakan, pada prinsipnya mendukung kegiatan pelepasliaran asal syarat-syaratnya terpenuhi, seperti pengecekan  habitat dan pemeriksaan medis terhadap orangutan yang hendak dilepasliarkan agar tidak membawa penyakit kepada orangutan yang memang sudah ada di Taman nasional Gunung Palung.

Proses pelepasliaran dimulai tengah malam. Petugas bius sudah siap dengan sumpit berisi jarum bius, dan membidik orangutan di dalam kandang karantina. Setelah orangutan tertidur, tim medis segera melakukan pemeriksaan terakhir. Setelah semua beres, petugas memasukkan orangutan ke dalam kandang transport. Membutuhkan waktu satu jam untuk masing-masing orangutan menjalani prosedur bius dan pemeriksaan akhir.

Menjelang pukul 03.30 dini hari, tim pelepasliaran berangkat menuju desa Batu Barat di kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Kegiatan pelepasliaran orangutan ini dilakukan pada malam hari untuk melindungi orangutan dari stress dan panas.

Menjelang pagi, tim pelepasan dan dua orangutan sudah melaju dengan speedboat melintasi Sungai Melano untuk menuju titik pelepasan. Beberapa hari sebelumnya, titik pelepasan sudah disurvei terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan hutan, ketersediaan pakan, serta tingkat populasi orangutan yang ada.

“Di sini pakan berlimpah, jumlah orangutan yang ada pun belum terlalu padat sehingga persaingan ketat untuk merebutkan pakan tidak akan ada. Status Taman Nasional juga memestikan keselamatan orangutan dari tangan manusia yang tidak bertanggungjawab,” jelas Ahmad selaku koordinator survei.

Kegiatan yang berlangsung selama 10 jam berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Anggota tim YIARI yang melakukan pemantauan pascapelepasliaran mengatakan bahwa orangutan yang dilepaskan dalam kondisi baik dan sedang sibuk mencari makan.

Tiga orangutan ini dilaporkan tidak berpindah tempat karena banyak persediaan pakan di hutan.

“Dalam 5 tahun terakhir ini, orangutan di daerah Ketapang yang sudah diselamatkan oleh YIARI dan BKSDA tidak kurang dari 150 individu,” ucap Karmele L Sanchez selaku Direktur Program YIARI.

“Masalah kita semakin banyak. Semakin banyak kerusakan hutan, semakin banyak orangutan yang perlu diselamatkan, dan mendapatkan tempat pelepasan yang layak semakin sulit.

Upaya penyelamatan orangutan harus berasal dari para semua pihak, bukan hanya LSM dan pemerintah tetapi juga dari pihak swasta dan dari masyarakat sebelum waktunya terlambat untuk melestarikan orangutan di Ketapang,” pungkasnya.

Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © 2015

Sumber: AntaraKalbar

Leave a Reply