YIARI Ketapang Kembali Selamatkan Orangutan dari Kecamatan Sandai

by in News, Release Berita 3 July, 2015

YIARI Ketapang bersama dengan BKSDA Kalimantan Barat berhasil menyelamatkan satu orangutan dari Rangau Jekak, Kecamatan Sandai, Ketapang, Jumat (26/6). Orangutan yang diberi nama Jecka ini dipelihara oleh Antonius Doko, seorang pengajar di Gereja Rangau Jekak, Kecamatan Sandai. Antonius mengaku membeli orangutan tersebut dari seseorang karena merasa kasihan dengan bayi orangutan tersebut. Tim rescue YIARI yang dikoordinir oleh Argitoe terdiri dari satu orang tim medis, satu orang animal keeper, satu orang perwakilan BKSDA, satu orang polisi hutan, serta 2 anggota Polsek Sandai. Sebelum orangutan diambil oleh tim rescue, terjadi perdebatan yang cukup panas karena si pemilik tidak mau menyerahkan orangutan sebelum mendapat imbalan. Antonius Doko mengaku bahwa di sudah sejak lama dia mencari informasi di mana dia bisa menyerahkan orangutan tersebut, namun hal ini bertolak belakang dengan sikapnya yang tidak bersahabat kepada tim rescue.

Orangutan berumur kurang dari 1 tahun ini dipelihara di atas ayunan di dalam rumah. Ada pengasuh bernama Teresia yang setiap hari merawat orangutan tersebut. Dari pengakuan Teresia orangutan ini hanya diberi susu formula setiap harinya, dan belum bisa makan buah seperti biasa. Setiap hari, Jecka dimandikan dengan shampoo. IMG_1063

Setelah melalui perdebatan yang alot dan panjang, akhirnya tim berhasil mengambil orangutan itu mesti pemiliknya masih belum rela karena tidak mendapat uang pengganti. Sejauh ini orangutan tersebut terlihat sehat dan aktif, namun tim medis YIARI akan melakukan pemeriksaan medis secara lengkap untuk mengetahui kondisi sebenarnya. “Sekarang orangutan ini sudah masuk ke karantina bayi, akan segera kita jadwalkan untuk pemeriksaan medis lengkap untuk mengetahui kondisnya,” ujar koordinator tim medis, drh. Ayu.

Pihak kepolisian sektor Sandai menyayangkan kejadian ini. “Seharusnya di sini diadakan penyuluhan dan edukasi lebih lanjat karena memang banyak orang yang belum tahu kalau orangutan dan beberapa primate dilindungi lainnya tidak boleh ditangkap dan dipelihara,” ungkap salah seorang anggota polsek Sandai yang ikut serta dalam kegiatan ini. Sejak Akhir April 2015 sampai akhir Juni 2015 ini, YIARI Ketapang dan BKSDA telah menyelamatkan lima orangutan di kecamatan Sandai. Pada beberapa kasus sebelumnya, masalahnya masih sama, yaitu ketidaktahuan warga atas peraturan pemerintah yang dituangkan dalam UU no 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Di UU tersebut jelas tertulis bahwa setiap orang dilarang untuk : a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan meperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati; c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.

“Dalam 5 tahun terakhir ini, orangutan di daerah Ketapang yang sudah diselamatkan oleh YIARI dan BKSDA tidak kurang dari 150 individu” ucap Karmele L. Sanchez selaku Direktur Program YIARI. “Masalah kita semakin banyak. Semakin banyak kerusakan hutan, semakin banyak orangutan yang perlu diselamatkan, dan mendapatkan tempat pelapasan yang layak semakin sulit. Upaya penyelamatan orangutan harus berasal dari para semua pihak, bukan hanya LSM dan pemerintah tetapi juga dari pihak swasta dan dari masyarakat sebelum waktunya terlambat untuk melestarikan orangutan di Ketapang,” pungkasnya

Leave a Reply

    Cart