YIARI Kembali Selamatkan Orangutan Peliharaan

Tim YIARI yang melepaskan dua individu orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya masih dalam perjalanan pulang kembali ke Ketapang ketika menerima panggilan untuk melakukan penyelamatan orangutan, Kamis(10/3) silam. Mereka mendapat informasi bahwa ada masyarakat di Kecamatan Simpang Dua, Ketapang yang ingin menyerahkan orangutan peliharaannya. Meskipun tim masih kelelahan karena belum beristirahat total sejak tanggal 5 Maret, mereka tetap bersemangat menuju rumah kepala dusun, Loking, yang menjadi tempat penitipan sementara orangutan sebelum tim dari YIARI datang.

IMG_7536Pemiliknya, Akasius Raman, mau memberikan orangutan terbeut setelah dibujuk oleh kepala dusun untuk menyerahkan orangutannya kepada pihak yang berwenang. Menurut Loking, orangutan betina berusia sekitar 3 tahun bernama Cuun ini ditemukan pemiliknya di hutan yang barus saja dibuka untuk perkebunan sawit 2013 silam. Pemiliknya melihat ada bayi orangutan sendirian di tengah lahan ketika sedang mencari kayu untuk kebutuhan bisnis mebel miliknya. Ketika masih kecil, Cuun diberi makan susu kental manis dan dipelihara dalam kandang. Ketika Cuun semakin besar, kandangnya jebol sehingga pemiliknya memutuskan untuk merantai lehernya.

Ketika diperiksa sekilas oleh tim YIARI, Cuun nampak sehat. “Namun hal ini perlu dipastikan lagi dengan pemeriksaan medis yang lebih komplet. Di sini Cuun makan makanan manusia yang bukan makanan alaminya. Bisa saja ini akan berdampak buruk bagi kesehatannya,” ujar Argitoe Ranting, Advisor Manager YIARI.IMG_7515

Jamilah

Sebelumnya, pada awal bulan Februari, YIARI juga bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang dan Kepolisian Sektor Manis Mata berhasil menyelamatkan orangutan peliharaan seorang warga di Desa Manis Mata, Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Rabu (24/2).

Laporan mengenai adanya warga yang memelihara orangutan ini didapatkan dari Yayasan Palung, organisasi nirlaba yang juga bergerak di bidang konservasi orangutan. Yayasan Palung kemudian melaporkan temuannya kepada YIARI dan BKSDA SKW I Ketapang. Informasi ini kemudian diteruskan kepada pihak kepolisian dari sektor Manis Mata yang segerah melakukan verifikasi dan konfirmasi atas keberadaan orangutan tersebut.

Orangutan betina berusia sekitar 2 tahun ini menurut pengakuan Ahmad, pemiliknya, didapatkan oleh pemilik sebelumnya di perkebunan kelapa sawit milik Sampoerna Group di daerah Manis Mata. Orangutan tersebut kemudian ditawarkan kepada Ahmad seharga Rp. 1.300.000. Dia mengaku memelihara orangutan karena tidak tahu bahwa orangutan merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang. “Saya waktu itu beli karena tertarik aja. Saya tidak tahu kalau orangutan ini satwa yang dilindungi. Kalo saya tahu, saya tidak akan mau pelihara itu orangutan,” ujarnya.IMG_2362

Ahmad sempat meminta sejumlah uang untuk mengganti biaya pembelian orangutan tersebut, namun setelah dijelaskan konsekuensi dan dampak negatif dari memelihara orangutan oleh pihak YIARI, Ahmad yang merupakan transmigran dari Jawa ini ikhlas menyerahkan orangutan yang dipeliharanya. Orangutan yang diberi nama Jamila ini sudah dipelihara selama lebih dari 1 bulan. Selama ini Jamila diberi makan sama nasi dan lauk-pauk, sama seperti yang dimakan oleh pemiliknya. Bahkan dia juga diberi minum teh dan kopi. Makanan ini tidak sesuai pakan alami orangutan

IMG_2306Selama dipelihara dia diikat dengan rantai yang digembok di leher. Rantai tersebut dikaitkan pada tiang besi di bekalang rumah, dekat kolam ikan. Selain itu, ada juga kandang kayu berukutan 1×1 meter yang dibuat di atas kolam. Ketika hendak diambil, Jamila masih terlihat liar dan tidak mau didekati manusia, bahkan beberapa kali sempat mau menggigit tim yang hendak mengambilnya. Tim terpaksa memotong rantai yang membelit leher Jamila karena kunci gembok di lehernya sudah hilang.

Kasus pemeliharaan orangutan memang merupakan hal yang sering terjadi di Kabupaten Ketapang. Sebelumnya, pada awal bulan Februari, YIARI juga menyelamatkan Kandi, orangutan jantan berumur sekitar 8 bulan dari rumah seorang warga di Negeri Baru, Kec. Delta Pawan, Ketapang. Pemilik orangutan tersebut mengambil orangutan dari kamp tambang ilegal di daerah Pelang yang terkena kebakaran besar tahun lalu. IMG_0480

Semestinya anak orangutan tinggal bersama induknya sampai usia 6-8 tahun. Orangutan yang telah direscue ini yang didapatkan dari lahan perkebunan, kemungkinan besar induknya mati atau dibunuh. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan orangutan Kalimantan ke dalam kelompok satwa yang terancam punah. Melihat laju penurunan populasi orangutan di alam liar saat ini, bahkan ada usulan untuk memasukkan orangutan ke dalam kelompok satwa yang sangat terancam punah, satu langkah sebelum benar-benar punah. Sedangkan masyarakat Kalimantan, terutama yang tinggal jauh dari pusat kota, belum terlalu memahami persoalan ini.

“Itu bukan semata-mata salah mereka,” ujar Karmele Sanchez, Direktur program YIARI Ketapang. “Mereka di sini memang tidak pernah mendapatkan pengetahuan tentang konservasi, termasuk jenis-jenis satwa yang dilindungi serta larangan untuk memeliharanya. Kami berencana untuk mengirim tim edukasi dan penyadartahuan untuk mensosialisasikan hal itu di sini,” tambahnya. Selain kurangnya pengetahuan masyakat atas undang-undang konservasi, penegakan hukum yang kurang tegas juga semakin memperparah persoalan yang ada. Oleh karena itu peran dari kepolisian dan dinas-dinas terkait sangat diperlukan.

Langkah cepat pihak kepolisian dalam menanggapi laporan patut diapresiasi. “Kami sangat berterima kasih kepada pihak kepolisian Resort Ketapang dan Kepolisian Sektor Manis Mata yang telah membantu penyelamatan orangutan serta memberi pemahaman kepada masyarakat,” pungkas manager operasional YIARI, drh Adi Irawan.

Kini mereka sudah berada di kandang karantina YIARI di Sungai Awan, Ketapang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut sebelum bisa bergabung dengan bayi orangutan lainnya, IMG_7588

 

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit