Covid-19: Hubungan Zoonosis, Pasar Hewan dan Perdagangan Satwa Liar Ilegal

by in Blog, Release Berita 20 March, 2020

Wabah Covid-19 terus meluas ke sejumlah negara-negara di Asia, Australia, Eropa dan Amerika. Tidak terkecuali Indonesia. Pada awal Maret lalu secara resmi Presiden dan Kementerian Kesehatan mengumumkan satu kasus pertama positif Covid-19 di Indonesia. Dalam kurun waktu empat pekan, angka positif Covid-19 di Indonesia meningkat menjadi lebih 1600 orang (Data covid19.go.id 1 April 2020, pukul 11.00 WIB).

Virus corona atau coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan seperti flu, demam hingga infeksi saluran pernapasan. Virus tersebut umum ditemukan pada berbagai hewan mamalia, burung dan reptil. Beberapa jenis coronavirus yang sudah dikenal dapat menyebabkan infeksi serius pada manusia, di antaranya adalah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada 2002, Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada 2012, dan yang terakhir adalah Covid-19 yang laporan gejala awalnya terjadi pada akhir Desember 2019 lalu.

Covid-19 kini menjadi pandemi global yang serius. Berdasarkan data terkini dari Coronavirus Global Cases by Johns Hopkins CSSE, lebih dari 750.000 orang terjangkit (data: 1 April 2020, pukul 11.00 WIB). Angka tersebut diperkirakan terus meningkat mengingat penyebaran virus corona yang pesat. Di samping itu, mobilitas manusia yang cepat dan pola makan dengan konsumsi binatang, termasuk hewan liar di dalamnya merupakan faktor-faktor penunjang tersebarnya virus.

Satu hal terpenting yang sampai saat ini masih terus dicari oleh para ahli dan ilmuwan adalah dari mana asal Covid-19 muncul. Para ilmuwan juga berpacu mencari tahu bagaimana Covid-19 berasal dan menular ke manusia. Beberapa hasil penelitian mengungkapkan Covid-19 bersumber dari sejumlah hewan di antaranya kalelawar, ular, trenggiling dan mamalia lainnya. Hewan-hewan terebut umum dijualbelikan di pasar dan dikonsumsi masyarakat kota di mana pertama kali virus itu diduga mulai muncul.

Infografis penularan virus corona

Zoonosis dan perdagangan satwa liar

Hubungan erat antara mengonsumsi hewan liar dan menyebabkan pandemi Covid-19 mencuat di kalangan para ilmuwan. Sejumlah hewan liar juga berpeluang untuk menjadi inang bagi virus itu. Zoonosis atau penularan penyakit dari hewan ke manusia (juga sebaliknya) diduga kuat berperan menjadi faktor utama munculnya Covid-19. Satwa liar yang dibawa dan dimanfaatkan oleh manusia untuk tujuan tertentu seperti halnya untuk diperjualbelikan di pasar-pasar hewan dan menjadi konsumsi perlu menjadi fokus mitigasi zoonosis.

Sugiono Saputra, Peneliti Mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengimbau agar masyarakat mewaspadai wabah virus tersebut dan mencegahnya muncul kembali dengan mengurangi, bahkan menghindari interaksi atau kontak langsung dengan satwa liar. karena itu dia menegaskan untuk tidak menangkap, menjual, memelihara bahkan mengonsumsi satwa liar guna mencegah timbulnya virus baru. Biarkan satwa liar berkembang di habitat alaminya. “Satwa liar memang ada yang dikonsumsi sebagai sumber makanan atau obat. Tetapi, risiko biologis dari pengolahan dan konsumsi hewan tersebut justru jauh lebih besar dan membahayakan, yaitu transfer virus (transmisi patogen),” ungkap Sugiono.

Sebagai upaya antisipasi, perlu langkah nyata mencegah penularan penyakit dari satwa liar ke manusia. Caranya, dengan pengendalian pemanfaatan, baik pembatasan maupun pelarangan. Namun, upaya tersebut perlu landasan kuat dari sisi ilmiah dan kesehatan. Selain itu, upaya penyadartahuan kepada masyarakat untuk mengurangi konsumsi satwa liar perlu dilakukan. Terutama, di masa kritis seperti saat ini.

Hal senada diungkapkan oleh Sigit Wiantoro, Peneliti Biosistematika Vertebrata Pusat Penelitian Biologi LIPI. Sigit mengatakan, dengan tidak mengganggu satwa liar dan merusak habitat alaminya merupakan solusi yang lebih tepat untuk mencegah terjadinya wabah virus di masa mendatang. Dia melanjutkan, fenomena membasmi kelelawar di beberapa daerah juga merupakan langkah yang kurang tepat, sebab hal itu justru memberikan efek yang berlawanan terhadap penyebaran penyakit.

Sigit mencontohkan, upaya pembasmian kelelawar di Amerika Selatan untuk mengontrol rabies bahkan tidak berhasil. “Yang timbul justru perubahan ekosistem yang disebabkan oleh manusialah yang menjadi penyebab utama kemunculan penyakit- penyakit yang dapat ditularkan dari satwa liar ke manusia,” kata Sigit.

Pasar hewan telah menjadi salah satu sumber ancaman nyata penyebaran penyakit zoonosis dan sejumlah kajian telah membuktikan hal tersebut. Karenanya pandemi Covid-19 bisa menjadi momentum untuk menguatkan peraturan pencegahan perdagangan satwa liar. Di samping itu, kondisi ini bisa juga dijadikan untuk mengambil langkah serius dan tegas dengan memberi hukuman setinggi-tingginya pada pelaku perdagangan satwa liar. Sebab hal ini bukan lagi sekadar isu konservasi spesies atau kesejahteraan hewan, melainkan isu kesehatan manusia secara global.

Perdagangan satwa ilegal adalah bom waktu yang tidak akan pernah tahu kapan itu meledak dan menjadi ancaman sulit dikendalikan. Selama beberapa dekade para ahli mengatakan bahwa ada risiko wabah penyakit dalam perdagangan satwa, jadi ini bukan hal yang mengejutkan ketika saat ini terjadi ledakan Covid-19. Selain itu, perdagangan satwa ilegal tidak hanya kejam, tapi juga mengurangi keanekaragaman hayati dan spesies, serta melanggengkan jaringan mafia ilegal, hal ini turut menambah rantai perdagangan satwa ilegal.

 

Leave a Reply