SUASANA “MISTIS” SAAT MONITORING KUKANG JAWA DI LERENG GUNUNG SALAK-TNGHS

Moni, di kandang habituasi
Sedikit berbagi tentang pengalaman teman-teman saat monitoring kukang, tenyata kejadian mistis juga pernah dialami oleh teman-teman tim monitoring dari YIARI. Berikut ceritanya :
ditulis oleh : Robithotul Huda
BAGIAN 1
Diceritakan oleh : Jakaria Mastur
Dunia timur selalu tidak lepas dari kepercayaan terhadap hal-hal mistis. Benda-benda, hari, tempat seta banyak hal lain yang bisa dikaitkan dengan hal mistis tersebut.
Bagi orang awam mistis sering diidentikkan dengan hal-hal seram “hantu” dan kegelapan.
Suatu hari saat survey habitat untuk pelepasaliaran kukang jawa di lereng  gunung salak oleh IAR Indonesia, tim IARI melewati sebuah tempat yang auranya sangat terasa aneh, membuat bulu kuduk merinding. “ kok aneh ya tempat ini, biasanya aku tidak merasakan seperti ini” kata mastur. Kemudian dia bertanya kepada seorang guide lokal. “lokasi apa ini pak?” kata mastur lagi. “Disini dulu pernah ada pesawat Cassa N-211-200 milik TNI-AU yang jatuh tahun 2008 yang lalu dan seluruh penumpangnya (11 orang) tewas mengenaskan (sensor).  korban dari dalam dan luar negeri. Saya adalah salah satu orang yang ikut mengevakuasi korban”. Kata seorang guide lokal.
Mendengar cerita tersebut, tim IARI semakin merinding. Namun berbeda dengan Richard (bule). Dia tak sedikitpun menampakkan ketakutan. Malah dia ketawa-tawa melihat anggota tim IAR yang ketakutan.
Gelap Malam semakin larut, rembulan yang dinantikan, tidak menampakkan dirinya dari sore tadi. Kabut dan embun jadikan “pepohonan kapas”, dingin menusuk terseok-seok dalam langkah kaki yang tak kunjung usai. Detak jantung menyatu dalam beat rock metal. Waktu berjalan selamban keong dan “hantu” bersarang dalam otak tak kunjung hilang.
Tim survey yang dibagi menjadi beberapa kelompok dengan menyusuri jalan yang sama dan jarak yang ditentukan 10 meter. Kini menjadi menciut jadi 1 meter. Dan langkah yang semestinya pelan, menjadi dipercepat (tidak konsentrasi) sampai akhirnya ada keputusan “kita selesaikan saja survey kali ini karena tim tidak kondusif dan kita lanjutkan besok lagi” kata mastur.
Kejadian yang serupa juga terjadi saat monitoring kukang jawa hasil pelepasliaran IARI yang bernama moni. Pulsa/sinyal yang terpancar dari gelombang radio transmitter kebetulan mengarah ke lokasi jatuhnya pesawat Cassa N-211-200 milik TNI-AU. Tim yang awalnya tak menyadari sedang berada lokasi tersebut tidak merasa ketakutan namun setelah beberapa saat mereka menyadari lokasi tersebut penuh misteri, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke camp. Namun saat perjalanan, mereka tidak menemukan jalan setapak arah kembali ke camp. Setiap mengikuti jalan yang dianggap baru, ternyata mereka kembali ke lokasi semula hingga berulang-ulang.
Tim pun terduduk lemas sambil berpikir dan menenangkan diri akhirnya mencoba kembali dengan membuat jalan baru. Dan sampailah mereka di camp. Pada pukul 03.00 wib.
Di camp. Tim 2 sudah bersiap untuk berangkat menggatikan tim 1 memonitoring si Moni.” Gak usah berangkat, mending kalian masak saja kami sudah sangat lapar “ kata mastur tanpa menceritakan kejadian yang di alaminya.
Di Makam Tua di lereng gunung salak

BAGIAN 2

Diceritakan oleh : Bobby Muhidin

Saat itu tim monitoring; Boby, Ricard dan guide local sedang memonitoring  2 ekor kukang jawa hasil rilis IARI yaitu Tengah dan Paloma. Monitoring di mulai setelah hari menjelang gelap. Setelah lama mencari, akhurnya tim menemukan sinyal/ pulsa dari radio colar yang terpasang di kukang. Sinyal mengarah ke pohon besar yang tampak menonjol dari kejauhan. Tim segera melangkah ke arah pohon tersebut. Sesampai dibawah pohon, tim terperanjat ketika melihat sebuah kuburan kuno dengan  pelataran yang luas. Meskipun makam kuno, namun terlihat terawat dan bersih. Bau kemenyan dan bunga-bunga sesaji  semerbak  menusuk kedalam jiwa, asapnya sebentuk mahluk putih. Bobby tampak gusar, jantungnya berdebar. Rasa lelah dan kantuk yang hinggap sirna terbawa hantu-hantu gentayangan yang menggerogoti otaknya.

Namun Ricard yang orang barat malah santai di atas makam sambil rebahan meluruskan kakinya. “Kalau capek istirahat ja bob?” kata richard

“Ah.. gak ngantuk aku” jawab Bobby sambil menutupi rasa ketakutanya. Dan dia selalu mendekat ke Richard, mengekor seperti sanak kecil yang tidak mau lepas dari induknya.

Waktupun terasa berjalan sangat lamban namun akhirnya terlewati juga. Dan pagi menjelang, matahari bersinar terang, seterang perasaan kami saat melangkah pulang.

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit