SIARAN PERS: Libatkan Masyarakat Setempat, IAR Indonesia Lepasliarkan Lima Individu Orangutan di TNBBBR

by in Release Berita, Updates 1 July, 2019

Mengembalikan satwa liar ke habitatnya, telah menjadi bagian dari program IAR Indonesia yang dilakukan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Taman Nasional terkait. Dan pada bulan ini, IAR Indonesia kembali mengadakan pelepasliaran yang telah berlangsung di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) pada 28 Juni 2019.

Adapun untuk pelepasliaran ini, IAR Indonesia memilih lima individu orangutan yang dinilai telah siap untuk diantarkan pulang ke habitatnya. Kelima orangutan ini dulunya merupakan orangutan bekas peliharaan yang kemudian berhasil diselamatkan dan kemudian menyelesaikan masa rehabilitasi di IAR Indonesia. Mereka adalah satu orangutan jantan bernama Bujing dan empat orangutan betina bernama Kibo, Japik, Manis, dan Santi.

Bujing merupakan orangutan hasil rehabilitasi IAR Indonesia yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan satwa liar dilindungi di daerah Sekadau, Kalimantan Barat pada 2014. Bujing dibeli oleh seorang warga pada 2009 dan dipelihara selama lima tahun di Sandai. Selama dipelihara, leher Bujing dirantai dan hanya diberi alas karung, sebelum akhirnya direhabilitasi IAR Indonesia pada 2014.

“Kondisi Bujing pasca pemeliharaan sangat memprihatinkan, di mana kondisi tulangnya menjadi bengkok. Namun kondisi cacat ini tidak mempengaruhi kapasitas Bujing untuk hidup bebas di alam dan selama direhabilitasi, malah Bujing memperlihatkan kemampuan hidup yang luar biasa. Dan itu juga disaksikan pada saat orangutan dikeluarkan dari kandang pada hari pelepasan,” ujar drh. Elizabeth Riana, dokter hewan di IAR Indonesia.

Setelah menjalani rehabilitasi selama lima tahun, Bujing akhirnya dinyatakan bisa dilepasliarkan di habitat aslinya.
Tidak jauh berbeda dengan Bujing, Japik juga merupakan orangutan korban pemeliharaan. Japik adalah orangutan betina berusia enam tahun yang dulunya dipelihara seorang warga di Balai Bekuak, Ketapang, Kalimantan Barat sejak usianya belum genap satu tahun.

Japik yang akhirnya kini telah hidup bebas di TNBBBR. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Selama dipelihara, Japik dirantai pada sebatang pohon tanpa ada alas maupun atap untuk melindunginya dari panas dan hujan. Setelah dua tahun mengalami siksaan seperti itu, Japik akhirnya diselamatkan tim gabungan IAR Indonesia dan BKSDA Kalimantan Barat pada akhir 2015. Setelah diselamatkan, Japik menjalani masa rehabilitasi di IAR Indonesia Ketapang.

Adapun Kibo, adalah orangutan betina berusia enam tahun yang dulunya dipelihara oleh warga di Desa Harapan, Baru, Kecamatan Air Upas, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pemeliharanya mengaku menemukan orangutan betina ini ketika masih bayi. Kibo kemudian dipeliharara di dalam kandang berukuran 1m x 1m x 1m di belakang rumah. Setelah menjalani masa rehabilitasi hampir selama lima tahun, Kibo akhirnya dinyatakan layak dikembalikan ke habitat aslinya.

Sedangkan Manis, merupakan orangutan betina yang ditemukan oleh salah satu pekerja ladang di daerah Desa Labai Hilir, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang pada 2012. Menurut pemiliknya, Manis ditemukan ketika berumur sekitar tiga hingga enam bulan. Karena kasihan, pemiliknya memelihara Manis selama satu tahun. Pemiliknya mengaku sudah melepaskan Manis ke hutan tetapi Manis kembali lagi ke rumahnya. Manis akhirnya dipelihara lagi selama delapan bulan sebelum akhirnya diserahkan ke BKSDA dan dititiprawatkan ke IAR Indonesia untuk direhabilitasi. Saat ini Manis berusia enam tahun dan berdasarkan hasil pemantauan perilaku, Manis dinyatakan layak untuk dikembalikan ke habitat aslinya.

Sementara Santi, adalah orangutan yang paling lama menjalani masa rehabilitasi. Santi mulai menjalani masa rehabilitasi pada Oktober 2013. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama hampir enam tahun, Santi yang saat ini berusia sekitar delapan tahun dinilai sudah siap kembali ke habitat aslinya.

Dalam proses rehabilitasi, orangutan ditempatkan di dalam pulau-pulau buatan dan dibiarkan bebas mengeksplorasi pulau untuk mensimulasikan kondisi alami seperti di habitat aslinya. Rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami orangutan. Pada masa rehabilitasi ini orangutan akan belajar kemampuan dasar bertahan hidup di alam seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang, yang memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Saat ini, IAR Indonesia menampung lebih dari 100 individu orangutan untuk direhabilitasi.

Untuk masing-masing orangutan, proses rehabilitasi yang dijalankan tidak bisa dibilang singkat. Proses ini dapat mencapai tujuh hingga delapan tahun tergantung kemampuan masing-masing individu.

Proses pelepasliaran yang menempuh waktu dua hari ini berjalan lancar. Tim pelepasan berangkat dari Pusat Rehabilitasi IAR di Ketapang pada 26 Juni 2019 pukul 04.00 pagi. Selama di perjalanan, tim selalu memperhatikan kondisi orangutan yang dibawa, agar tidak mengalami stres di dalam kandang mengingat jarak tempuh yang sangat jauh. Memerlukan waktu sekitar 17 jam bagi tim untuk mencapai kantor seksi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Nanga Pinoh. Di sini, tim beristirahat satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke titik pelepasan.

Perjalanan dilanjutkan keesokan paginya, 27 Juni 2019, menuju Dusun Mengkilau, yang berada di kawasan TNBBBR yang merupakan dusun terdekat menuju lokasi pelepasliaran. Perjalanan ini dilalui dengan kendaraan mobil dan menempuh waktu lima jam. Dalam perjalanan ini, anggota Koramil dan Polsek Kecamatan Menukung bergabung bersama tim. Sesampainya di Dusun Mengkilau, perjalanan diteruskan dengan perahu motor selama satu jam menuju kamp Teluk Ribas, yaitu kamp survei dan monitoring yang didirikan oleh IAR Indonesia. Di kamp inilah, kelima individu ditempatkan di kandang habituasi terlebih dahulu, untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan berjam-jam, sekaligus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang baru. Keesokan paginya, 28 Juni 2019, tim kembali melakukan perjalanan menuju titik pelepasan yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk mengantarkan pulang kelima individu ini ke rumah baru mereka.

Tim pengangkut kandang transportasi orangutan untuk menuju titik pelepasan terdiri dari masyarakat lokal di desa penyangga kawasan TNBBBR. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Kegiatan pelepasliaran kali ini sangat menarik, karena baru pertama kali inilah, IAR Indonesia juga melibatkan kaum perempuan dari dusun setempat untuk menjadi porter yang mengangkut logistik dan perlengkapan para peserta tim pelepasliaran. Mereka mengangkutnya ke dalam keranjang tradisional dari bahan rotan yang dinamakan tengkalak dalam bahasa Dayak Ransa. Perjalanan para porter wanita ini bergabung bersama para porter pria yang membawa lima kandang berisi orangutan yang masing-masing memiliki berat antara 100 hingga 150 kg. Perjalanan ini memakan waktu hingga lima jam menuju Kamp Teluk Ribas. Keesokan harinya, tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju titik pelepasan.

Keterlibatan masyarakat setempat menjadi pengembangan yang terus dilakukan IAR Indonesia dalam program-programnya. Kali ini, dengan melibatkan kaum perempuan, IAR Indonesia berupaya untuk bisa lebih membantu ekonomi masyarakat. Perempuan sebagai sosok yang berperan penting dalam mengatur perekonomian rumah tangga, merupakan pihak yang perlu dilibatkan dalam kegiatan konservasi. Dengan pemasukan tambahan ini, kaum perempuan di dusun penunjang di TNBBBR bisa menggunakannya untuk keperluan kesehatan atau pendidikan anak-anak mereka tanpa harus mencari pemasukan tambahan dari kegiatan yang berisiko merusak alam.

“Kegiatan pelepasliaran ini tidak hanya fokus pada penyelamatan orangutan tetapi juga bertujuan untuk membantu manusia. Anggota tim monitoring orangutan, kuli angkut, juru masak, dan semua orang yang terlibat dalam kegiatan pelepasliaran ini juga mendapatkan penghasilan alternatif yang dapat menggantikan pemasukan yang biasa mereka dapatkan dari pembalakan liar dan membantu melestarikan hutan. Khususnya ketika bekerja dengan wanita, terutama kepada para wanita super ini yang telah membantu kami pada pelepasliaran ini, mereka akan pulang ke rumah dengan penghasilan tambahan untuk membantu keluarga mereka. Memberdayakan perempuan adalah salah satu cara paling efektif untuk menyelamatkan hutan. Oleh karena itu kami percaya bahwa peran perempuan dalam konservasi sangat penting dan mata pencaharian alternatif yang mencakup perempuan harus dipromosikan,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.

Perempuan-perempuan hebat yang mengangkut logistik tim pelepasliaran orangutan menuju kamp monitoring. Beban yang mereka angkat mencapai 30-50 kg. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dipilih menjadi tempat pelepasliaran orangutan karena hutannya yang masih alami dan bagus. Survei dari tim IAR Indonesia juga menunjukkan jumlah pohon pakan orangutan yang berlimpah. Selain itu statusnya sebagai kawasan taman nasional akan lebih mampu menjaga orangutan ini dan habitatnya sebagai kawasan konservasi. Dari kajian yang pernah dilakukan juga oleh tim ahli dari IAR Indonesia, di lokasi TNBBBR resor Mentatai yang menjadi lokasi pelepasliaran orangutan, tidak ditemukan keberadaan orangutan dan dinyatakan orangutan wilayah ini telah punah dalam 20-30 tahun terakhir. Oleh karena itu upaya untuk pelepasan orangutan sangat penting sekali. Sampai saat ini IAR Indonesia telah melepaskan 41 orangutan di TNBBBR sejak tahun 2016.

Karena orangutan yang dilepaskan merupakan orangutan hasil rehabilitasi, IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring untuk melakukan pemantauan perilaku dan proses adaptasi orangutan ini di lingkungan barunya. Tim monitoring yang terdiri dari warga desa penyangga kawasan TNBBBR ini akan mencatat perilaku orangutan setiap dua menit dari orangutan bangun sampai tidur lagi setiap harinya. Proses pemantauan ini berlangsung selama satu hingga dua tahun untuk memastikan orangutan yang dilepaskan bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

“Kegiatan penyelamatan satwa liar, baik translokasi maupun rehabilitasi, memang harus terus dilakukan tanpa lelah. Dalam hal ini kami memberikan apresiasi sebesar besarnya kepada para mitra atas partisipasi dan kontribusinya. Namun demikian, hal ini belumlah cukup. Ada tugas lebih besar lagi yg harus diupayakan bersama-sama secara terus menerus, yakni mengubah mindset masyarakat dalam memandang satwa liar. Mari kita gencarkan kampanye dan pendidikan konservasi secara masif terutama kepada generasi muda agar ke depan lebih peduli pada konservasi lingkungan dan satwa liar,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut. M.T.

“Sebagai lokasi pelepasliaran orangutan, kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) harus dijaga agar orangutan yang dilepasliarkan dapat membentuk populasi baru, sehingga orangutan tetap lestari. Untuk itu perlu dukungan dari berbagai pihak untuk ikut menjaga kawasan taman nasional sebagai habitat orangutan, karena Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tidak dapat bekerja sendiri,” kata Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Agung Nugroho, S.Si., M.A. (HS-DRU)

Leave a Reply