Si Gemuk Bohay dan Jubile Pulang ke Habitatnya di Gunung Sawal Ciamis

by in Blog, Kukang Diary, News, Updates 23 June, 2015

CIAMIS – Tiga orang petugas medis dan dua orang perawat satwa membawa peralatan kesehatan serta box transportasi menuju kandang satwa di Pusat Rehabilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Berbekal sinar lampu dari senter yang menempel di kepala, mereka bergerak melakukan penangkapan dan pemeriksaan kesehatan terhadap Bohay dan Jubile di kandang rehabilitasi, Selasa malam, 9 Juni 2015.

Tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap Bohay dan Jubile sebelum ditranslokasi

Tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap Bohay dan Jubile sebelum ditranslokasi

Bohay dan Jubile adalah kukang jawa (Nycticebus javanicus) hasil rehabilitasi YIARI yang akan ditranslokasi (dipindahkan) untuk dilepasliarkan ke Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat. Primata itu merupakan hasil sitaan di wilayah hukum Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam(BBKSDA) Jawa Barat dan serahan dari warga.

Mereka sudah menjalani rehabilitasi sekitar satu tahun. Kini, kukang berjenis kelamin betina dengan postur badan gemuk itu lolos seleksi untuk dilepasliarkan kehabitatnya. “Bohay dan Jubile perilakunya sudah liar kembali, mereka berdua sudah bisa dilepas di habitat alaminya,” ujar koordinator manajemen satwa YIARI, drh. Wendi Prameswari.

Pukul 19.30 WIB, perawat satwa menangkap kukang terlebih dahulu di dalam kandang. Kondisi kukang yang sudah kembali liar membuat tim bekerja ekstra untuk menangkap kukang tersebut. Petugas medis melakukan medical check up untuk memastikan kondisi kukang baik dan sehat. Pertama-tama, petugas medis memeriksa mikrocip yang dipasang untuk identifikasi satwa. Selanjutnya mereka memeriksa suhu tubuh, memberikan suplemen dan menimbang berat badan kukang untuk pendataan. Bohay dan Jubile kemudian dimasukan ke dalam box transportasi untuk segera ditranslokasi.

Masuk box transportasi

Masuk box transportasi

Sekitar pukul 22.00 WIB, tim YIARI berangkat untuk translokasi kedua primata nokturnal itu. Rabu pagi, 10 Juni 2015 tim Survey Release Monitoring (SRM) YIARI sampai di Dusun Palasari, Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Setelah menempuh perjalanan darat selama sekitar delapan jam-an, tim YIARI sampai di rumah warga yang biasa digunakan sebagai basecamp untuk beristirahat.

plang

Suasana pedesaan dikelilingi pepohonan menyambut kedatangan tim YIARI yang membawa Jubile dan Bohay untuk dipindahkan ke kandang habituasi di Blok Cibakokak kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat. Menjelang prosesi lepasliar ke kandang habituasi, perawat satwa YIARI melakukan pengecekan ulang terhadap Bohay dan Jubile. Mereka memastikan kondisi satwa dalam kondisi sehat setelah melewati perjalanan panjang. Kegiatan translokasi Bohay dan Jubile ke pagi itu merupakan upaya kerjasama YIARI dengan Bidang Konservasi  Sumber Daya Alam (KSDA) wilayah III Ciamis, Jawa Barat.

Persiapan translokasi

Persiapan translokasi

Gunung Sawal yang merupakan bagian dari wilayah konservasi Bidang KSDA wilayah III Ciamis dianggapcocok untuk lokasi lepasliar kukang jawa karena kelayakan habitat dan kecocokan pakan kukang.Kawasan hutan gunung yang merupakan seluas 5400 ha itu memiliki keanekaragaman hayati danekosistem yang masih terjaga. Banyak flora dan fauna yang masih bisa ditemukan di dalam SuakaMargasatwa tersebut diantarannya: macan tutul, babi hutan, surili, lutung, kukang jawa, dan beberapaelang pegunungan.

Koordinator program SRM YIARI Wilayah Ciamis, Hilmi Mubarok, mengatakan sebelum waktu pelepasliaran timnya sudah melakukan survey panjang untuk mengetahui kecocokan habitat di Gunung Sawal untuk primata jenis kukang. Hasilnya, dari dua lokasi yang disurvey, lokasi di Blok Cibakokak menjadi pilihan untuk pelepasiaran kukang jawa. “Kami melakukan survey habitat meliputi survey perjumpaan kukang liar, ketersediaan pakan, dan keamanan habitat bagi kukang. Kawasan di Blok Cibakokak yang paling pas lepasliar kukang jawa,” ujar Hilmi.

Tim lepasliar menyusuri jalan setapak masuk ke dalam hutan menuju kandang habituasi

Tim lepasliar menyusuri jalan setapak masuk ke dalam hutan menuju kandang habituasi

Pagi itu, tim lepasliar YIARI bersama pihak kepolisian dan staf BKSDA Wilayah III Ciamis bersama-sama mengantar Bohay dan Jubile menuju rumah barunya. Rombongan dari Galuh Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Galuh Ciamis juga ikut berpastisipasi dalam kegiatan translokasi tersebut. Mereka berbaris menyusuri jalan setapak  Desa Palasari masuk ke dalam hutan Gunung Sawal. Setelah melewati kebun, menyeberang sungai kecil dan menyusuri jalan tanah yang basah akibat hujan mereka mulai masuk ke dalam hutan yang rimbun dengan pepohonan.

Sekitar satu jam menyisir jalan setapak di dalam kawasan hutan, tim lepasliar beserta rombongan sampai di kandang habituasi rumah sementara Jubile dan Bohay. Bentuknya lahan bundar terbuka yang dikelilingi fiber plastik. Di dalamnya terdapat berbagai jenis pepohonan hijau untuk pakan dan tempat tidur kukang. “Di kandang habituasi ini mereka dibiarkan untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya, mereka akan dipantau terus menerus. Jika kondisinya bagus atau normal, setelah sebulan di habituasi mereka akan dilepasliar secara pasti ke alam,” katanya.

Kukang dipasang radio collar untuk mengetahui keberadaannya selama di hutan

Kukang dipasang radio collar untuk mengetahui keberadaannya selama di hutan

Pintu box transportasi berisi Bohay dan Jubile pun dibuka, mereka dikeluarkan dan di cek kembali kondisinya oleh pertugas medis. Selanjutnya, kedua primata lambat itu dibiarkan naik ke batang pohon yang mengarah ke pohon kaliandra di dalam kandang habituasi. Kukang gemuk bernama Bohay mendapat giliran pertama dilepas. Perlahan, badan tambunnya mendaki batang pohon kemudian masuk ke rerimbunan pohon kaliandra. Dia naik terus ke puncak pohon. Sementara Jubile yang mendapat giliran kedua, memanjat dengan cepat dan menuju batang pohon nangka yang tumbuh menjulang tinggi di kandang habituasi. Mereka bersembunyi di rerimbunan daun.

“Mereka akan mulai beradaptasi. Selanjutnya tim akan melakukan pemantauan untuk mengetahui perkembangan perilaku dan kondisinya,” tambah Hilmi.

Jubile memanjat batang pohon menuju pohon kaliandra

Jubile memanjat batang pohon menuju pohon kaliandra

 

Analisis Perlindungan Hutan BKSDA III Wilayah Ciamis, Untung Wantoro mengatakan kukang merupakan satwa yang dilindungi menurut Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Namun saat ini kukang sedang mengalami berbagai ancaman kepunahan sebab berkurang habitatnya di hutan.  Selain itu, juga maraknya perburuan, penangkapan dan perdagangan satwa liar. “Perburuan dan perdagangan itu merupakan ancaman yang paling parah bagi kukang. Pemelihara harus segera menghentikan kegiatannya itu dan mengembalikan kukang ke BKSDA, jika tidak akan ada proses hukum,” ujar Untung.

Penasehat Program Pengembangan Konservasi Satwa, Christine Rattel mengatakan YIARI melakukan upaya penyelamatan, rehabilitasi dan pelepasliaran hingga monitoring bagi satwa liar seperti kukang. Tujuannya untuk melestarikan populasi kukang yang ada di Indonesia dari kepunahan. YIARI juga melakukan edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat untuk mempertahankan kelangsungan hidup satwa dan melestarikan habitatnya guna meningkatkan kesejahteraan satwa liar.  “Kami harap dengan pelepasliaran kukang jawa di sini, masyarakat juga bisa aktif menjaga habitat dan ikut melestarikannya,” ujar Christine.

RISANTI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *