Sepuluh Kukang Sumatera Dilepas di Batutegi

Penulis : Rudiansyah

Sumber : lampost.co

BANDAR LAMPUNG — Kawasan Kesatuan Perlindungan Hutan Lindung Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Lampung kedatangan penghuni baru. Sepuluh kukang sumatera (Nycticebus coucang) dipindahkan dari Ciamis, Bogor, Kamis (14/10/2015).  Sepuluh kukang yang terdiri dari enam kukang betina dan empat kukang jantan yaitu Usum, Piala, Mix, Raffi, Indo, Alex Lina, Binok, Kabut, dan Gisel. kukang tersebut merupakan hasil sitaan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat sejak November 2013.

Koordinator Staf Survey Realease Monitoring (SRM) Yayasan Inisasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIAR), Muhidin mengatakan Lebih dari 100 kukang hasil tangkap tangan dari para pedagang satwa liar di daerah Serang, Banten oleh BKSDA Jawa Barat, diserahkan ke YIARI untuk direhabilitasi dan dipulihkan kembali sifat liarnya agar dapat dikembalikan ke alam. Menurut Muhidin, kebanyakan kukang hasil sitaan menderita stress akibat pengemasan yang asal-asalan oleh para pemburu, mereka akan dimasukkan kandang buah tanpa memikirkan luas kandang, sehingga menyebabkan banyak kukang yang mati lemas sebelum diserahkan ke pedagang. Ketika sampai di tangan pedagang, mereka akan memotong gigi taring satwa dengan nama lain si malu-malu ini, karena gigitan kukang mengandung racun yang berbahaya. Ini juga yang menyebabkan banyak kukang sakit dan terinfeksi akibat pendarahan dan nafsu makan berkurang, dan membuat kukang lemas, sakit, hingga berujung kematian.

Setelah direhabilitasi, kukang akan dilepasliarkan secara bertahap. Karena kukang yang dilepasliarkan ini merupakan jenis kukang sumatera, maka penglepasliaran dilakukan di Kawasan Hutan Lindung Batutegi. Sebelum dilepasliarkan, kukang akan dipindahkan lebih dahulu ke kandang habituasi, kandang habituasi merupakan lahan terbuka yang dikeilingi fiber dengan ukuran kurang lebih 12 x 13 m, di dalamnya terdapat berbagai jenis pepohonan yang dapat menjadi sumber pangan dan tempat tidur kukang, agar kukang dapat beradaptasi dengan cepat di lingkungan yang baru, seluruh perilaku kukang terus dipantau oleh tim monitoring untuk mengetahui perkembangannya.

Muhidin juga mengatakan saat kukang berada kandang habituasi aktivitas kukang dipantau oleh tim monitoring untuk mengetahui perkembangan perilakunya. “Setiap malam tim melakukan monitoring untuk melihat perilaku kukang. Apabila kondisinya bagus dan sudah bisa beradaptasi dengan alam barulah kukang itu bisa benar-benar dilepas ke habitatnya di kawaasn KPH Batutegi, Lampung,” kata Muhidin.

Untuk memudahkan dalam monitoring, kukang dipasangi radio collar di bagian leher. Alat ini berfungsi sebagai pengirim sinyal yang dapat ditangkap oleh receiver (penerima sinyal) sehingga tim monitoring dapat mengetahui keberadaan kukang. Selama di kandang rehabilitasi, kukang akan selalu dipantau kesehatan dan perilakunya setiap hari. Semakin cepat kukang beradaptasi dengan tempat barunya maka akan semakin cepat untuk proses penglepasliaran. Dalam translokasi kukang di Kawasan Hutan Lindung Batutegi, YIARI bekerja sama dengan KPHL Lampung dan BKSDA Lampung. Lebih dari 100 kukang telah dilepasliarkan sejak 2009 di Kawasan Hutan Lindung Batutegi. Sementara di pusat rehabilitasi YIARI Ciapus, Bogor masih terdapat sekitar 140 kukang, yang terdiri dari kukang yang akan dilepasliarkan dan kukang tidak dapat lagi dilepasiarkan karena tidak ada kemungkinan untuk hidup di alam liar.

Kukang merupakan satwa liar yang dilindungi oleh Undang-Undang No.5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No 7 tahun 1999. Kukang juga dilindungi oleh peraturan internasional dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasioan. Ada tiga jenis kukang di Indonesia., kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis). Berdasarkan data IUCN (International union for Conservation of Nature) kukang jawa termasuk dalam kategori kritis atau terancam punah sedangkan kukang sumatera dan kalimantan termasuk dalam kategori rentan punah. Masih tingginya permintaan kukang untuk dipelihara, membuka kesempatan yang sangat lebar untuk para pemburu dan para pedagang satwa liar untuk terus memburu kukang.

YIARI merupakan organsisasi nirlaba yang bergerak di bidang penyelamatan dan konservasi satwa liar di Indonesia. Berdiri sejak bulan Februari 2008, YIARI berkembang sebagai organisiasi yang fokus pada upaya 3R+M yaitu rescue (penyelamatan), rehabilitation (rehabilitasi), realease (pelepasliaran) dan monitoring (pemantauan satwa pasca pelepasliaran). YIARI mepunyai dua pusat rehabilitasi satwa yaitu Pusat Rehabilitasi Satwa YIARI Ciapus, Bogor yang fokus pada upaya penyelamatan dan rehabilitasi satwa yaitu satwa kukang (Nycticebus sp), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina) serta Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orang Utan YIARI Ketapang, Kalimantan Barat khusus menangani orang utan (Pongo pygmaeus). YIARI juga terlibat dalam program pendidikan dan penyadartahuan kepada masyarakat untuk mempertahankan kelangsungan hidup satwa liar, melestarikan habitat dan meningkatkan kesejahteraan satwa liar.

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit