Sayang Binatang Secara Keliru, Komunitas Mendorong Kepunahan Satwa Dilindungi

Lembaga penyelamatan dan rehabilitasi satwa liar Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengkampanyekan ancaman kepunahan primata di Indonesia akibat berkurangnya habitat, perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar. Menurut data Badan Konservasi Internasional IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red list terdapat 3 jenis primata endemik Indonesia masuk dalam daftar terancam punah, salah satunya Kukang Jawa (Nycticebus javanicus). CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) mengkategorikan semua jenis kukang di Indonesia masuk dalam daftar Apendiks I yaitu dilarang untuk diperjualbelikan secara komersil.

Kukang (Nycticebus sp) merupakan primata unik yang terancam punah karena perdagangan dan kurangnya data ekologinya di alam. Ancaman terbesar terhadap kelestarian kukang yang utama adalah perdagangannya untuk peliharaan. Supervisor Slowloris Conservation Program YIARI, Indah Winarti mengatakan permasalahan konservasi kukang (Nycticebus sp) yang utama berada pada rantai perdagangan kukang. Dimana, tingginya permintaan kukang sebagai satwa peliharaan akan meningkatkan supply pasar. Oleh karena itu, jumlah kukang di alam akan terus menurun karena kukang yang diperjualbelikan di pasar hewan diburu langsung dari alam.

“Dalam konteks tersebut, komunitas pemelihara kukang menjadi salah satu penyebab utama yang membuat populasi kukang berkurang di alam. Adanya pemelihara yang membeli kukang membuat pemburu kian giat menangkap kukang di habitatnya,” kata Winar.

Menurut dia, saat ini banyak sekali pemelihara satwa liar yang bergabung menjadi komunitas dan merancang kegiatan gathering. Hal itu kemudian menarik orang lain untuk ikut membeli dan memelihara satwa tersebut sehingga komunitas pemelihara menjadi semakin berkembang. “Kegiatan membeli dan memelihara itu harus dihentikan supaya alur perdagangan dan perburuan kukang juga bisa berhenti,” ujarnya.

 

Staf medis YIARI Bogor, drh. Nur Purba Priambada mengatakan butuh waktu yang panjang untuk mengembalikan sifat liar kukang yang telah dipelihara manusia. Pada umumnya, kondisi kukang eks peliharaan yang diselamatkan oleh tim YIARI perilakunya sudah tidak liar dan fisiknya dalam kondisi buruk. “Kondisi giginya sudah tidak utuh, biasanya sebelum sampai tangan pembeli, gigi kukang dipotong oleh pedagang supaya tidak menggigit pemeliharanya,” ujar Purba.

Pemotongan gigi tersebut, dapat menyebabkan infeksi dan rasa sakit yang luar biasa sehingga berakibat turunnya nafsu makan dan kondisi fisik yang melemah. Di sisi lain, tanpa perawatan medis yang tepat, akibat pemotongan gigi juga menyebabkan infeksi yang berujung kematian. Menurutnya, tidak semua kondisi kukang yang masuk klinik YIARI giginya sudah dalam kondisi dipotong. Ada juga kukang sitaan yang masih dalam kondisi yang baik. Namun, dengan kondisi yang seperti itu tetap membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merehabilitasi satwa kembali menjadi liar.

Saat masuk klinik YIARI, kukang medapatkan pemeriksaan dan perawatan kesehatan, kemudian menjalani masa karantina dan proses rehabilitasi untuk mengembalikan sifat liarnya. “Proses rehabilitasi memerlukan waktu yang lama serta tenaga dan biaya besar. Sedangkan ketersediaan habitat semakin menipis diiringi dengan tingginya tingkat perdagangan yang dapat  mempercepat kepunahan kukang,” ujarnya.

Perdagangan satwa liar merupakan ancaman serius terhadap banyak keanekaragaman hayati dunia. Dalam skala global, perdagangan satwa liar merupakan industri beromzet milyaran rupiah yang memberikan peluang ekonomi yang menarik dan menguntungkan bagi mereka yang terlibat. Meskipun perlindungan dalam bentuk Undang-undang sudah ada (UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya), tetapi perdagangan ilegal satwa liar tetap pada tingkat yang mengkhawatirkan. Jika tidak dikontrol dengan baik, perdagangan satwa liar dapat mengakibatkan eksploitasi yang berlebihan dan berujung pada kepunahan spesies.

 

 

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit