Satwa Langka Dijual Bebas di Kediri

KEDIRI KOTA – Bisnis jual beli satwa lindung (apendix) di Kota Kediri, rupanya, bukan lagi sesuatu yang tersembunyi. Coba tengok saja di salah satu sudut Pasar Setonobetek. Sangat mudah ditemui beragam hewan langka. Mulai mamalia hingga unggas.

Ironisnya, di kandang-kandang itu banyak terisi hewan yang seharusnya tak boleh diambil dari habitatnya. Tapi, di tempat ini justru dipajang tanpa ditutup-tutupi. Di gerobak seorang pedagang terlihat hewan langka hystriz brachyura alias landak, dan juga musang.

Tapi, yang ditawarkan dengan harga mahal tidak berada di kandang ini. Tapi di kantung kain. “Ini Rp 500 ribu saja,” ujar Gun (nama samaran) sambil mengeluarkan seekor Felis bengalensis dari dalam kantung tersebut. Hewan itu punya nama lokal beragam. Ada yang menyebut macan rembah, blacan, kucing hutan, atau juga ada yang menyebut meong cangkok. Tawar-menawar pun di lokasi terbuka. Diketahui banyak orang.

Apa saja satwa langka yang dijual di Setonobetek?

Kondisi kandang burung hantu yang dijual di Pasar Setonobetek, Kota Kediri. (YAYI FATEKA - RadarKediri/JawaPos.com)
Kondisi kandang burung hantu yang dijual di Pasar Setonobetek, Kota Kediri. (YAYI FATEKA – RadarKediri/JawaPos.com)

Sejumlah satwa langka dijual bebas di Pasar Setonobetek. Banyak sekali jenisnya. Mulai dari sejenis kucing hutan seperti meong cangkok atau macan rembah. Hinggga sejumlah hewan lainnya yang termasuk langka. Seperti Nycticebus coucang (kukang/malu-malu), elang brontok hitam, elang ular bido, dan masih banyak lagi jika disebutkan.

Seperti yang dijual oleh, On. Namun tak semencolok lainnya, di lapak ini hanya ada beberapa batang kayu tempat bertengger burung. Yang bertengger adalah Lorius domicellus (Nuri Kepala Hitam). “Rp 1,2 juta aja ini, udah nurut,” ujar On menawarkan.

Saat ingin melihat-lihat, On mengarahkan ke sebuah ruangan yang berada di rumahnya. Ia takkan mengarahkan sembarangan orang ke sini. Di dalam ruang tersebut ternyata ada tiga burung kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita). Kakatua ini dijual seharga Rp 3 juta untuk yang paling besar.

Semua binatang tersebut adalah binatang-binatang yang dilindungi undang-undang. Menurut Pasal 21 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tertulis jelas bahwa “Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa atau bagian tubuh satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati, serta mengeluarkan satwa dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain dalam atau luar Indonesia.”

Kegiatan jual-beli hewan terlindung ini rupanya sudah berjalan puluhan tahun. Koi (nama samaran) mengatakan sudah sejak 1996 ia mengetahui kegiatan ini. “Sebelum tahun itu juga sudah ada,” terangnya. Ia sendiri pun pernah terjun langsung dengan bisnis semacam ini sejak 2001.

Sumber: Radar Kediri Jawapos

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Kilas Balik Kami di 2020!

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2020. Kami yakin semua di antara kita mengalami hal yang sama, yakni perasaan

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit