Perjalanan Baru Orangutan Yatim Piatu

by in Media, News, Release Berita 30 June, 2020

Siang sudah menjelang ketika dokter hewan IAR Indonesia tampak berhati-hati menggendong bayi orangutan kecil keluar dari kandang karantina di Pusat Penyelamatan dan Konservasi IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Kalimantan Barat. Bayi orangutan jantan bernama Batis ini akhirnya menyelesaikan masa karantinanya sejak diselamatkan tim gabungan IAR Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi (SKW) I Ketapang di Dusun Sabang Keramat, Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu sungai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat pada 17 April silam. Saat ini Batis sudah selesai menjalani proses karantina selama 8 minggu di kandang karantina di Pusat Penyelamatan dan Konservasi orangutan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang.

Semua pemeriksaan medis selama masa karantina sudah selesai dilakukan. Hasilnya, Batis dinyatakan sehat dan bebas dari segala penyakit oleh tim medis. Karena usianya yang masih sangat belia, Batis ditempatkan di dalam kandang monitoring dan belum bisa bergabung dengan orangutan yatim piatu lainnya di sekolah hutan. Sembari dipantau, tim medis dan babby sitter IAR Indonesia juga membimbing Batis untuk pelan-pelan belajar memanjat dan menggunakan daun dan ranting sebagai alas tidur. Hal ini penting sebagai bekal Batis untuk bisa hidup di habitat aslinya nanti sebagai orangutan sejati.

Batis di dalam kandang monitoring

Dengan usia kurang dari 10 bulan, Batis adalah orangutan termuda di dalam pusat penyelamatan dan konservasi IAR Indonesia saat ini dan kisahnya menambah panjang daftar orangutan yang terpaksa harus masuk ke pusat rehabilitasi karena kehilangan induknya. Dalam setiap kasus pemeliharaan orangutan, hampir bisa dipastikan bahwa induknya mati. Kehilangan induk semua ini tentu menimbulkan trauma dan menghilangkan kesempatan bagi bayi orangutan untuk berlajar bertahan hidup secara alami di habitat aslinya. Bayi orangutan seharusnya tinggal bersama induknya selama 6-8 tahun untuk mempelajari segala kemampuan bertahan hidup dari induknya sebelum mereka bisa lepas dan hidup mandiri tanpa induknya.

Proses rehabilitasi ini membutuhkan waktu bertahun-tahun dan biaya yang tidak sedikit. Untuk mempercepat proses rehabilitasi Batis, tim IAR Indonesia berencana untuk mencarikannya induk asuh untuk Batis. Strategi semacam ini mempunyai banyak keuntungan dan telah terbukti keberhasilannya. Beberapa pasang induk-anak orangutan asuh telah berhasil menjalai rehabilitasi dan bersama-sama dilepasliarkan di habitat aslinya di dalam kawasan Taman Nasional dan Hutan Lindung.

Guru terbaik bagi orangutan adalah orangutan. Dengan adanya induk asuh ini, Batis bisa belajar bagaimana memanjat, mencari makan, dan membuat sarang langsung dari orangutan yang sudah menguasai kemampuan ini. Selain itu, Batis juga bisa mendapatkan kasih sayang dan afeksi yang tidak bisa didapatnya dari ibu kandungnya.

Di sisi lain, pemeliharan satwa liar memang sudah saatnya dihentikan. Selain mengancam kelestarian satwa liar, perilaku tidak bertanggungjawab seperti ini juga beresiko membahayakan manusia dengan penyakit yang mungkin dibawa oleh satwa liar. Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez menegaskan, “Sudah saatnya kita semua menghentikan pemeliharaan satwa liar baik orangutan maupun satwa lainnya yang seharusnya tetap tinggal di hutan. Orang yang menemukan atau melihat orangutan dan satwa liar lainnya di tempat yang tidak semestinya harus segera melaporkannya ke pihak berwajib.” “Kita tidak pernah tahu virus, bakteri, atau penyakit apa yang bisa dibawa oleh satwa liar dan ditularkan ke manusia. Jika masyarakat tidak mau bekerja sama menyerahkan orangutan, maka diperlukan penegakan hukum, sebab hal ini bukan lagi sekadar isu konservasi spesies atau kesejahteraan satwa melainkan isu kesehatan manusia secara global,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *