Peringati Hari Primata, Sejumlah Aktivis Kampanyekan Pelestarian Primata di Tasikmalaya

by in Kliping Media, Media, News 29 January, 2018

Menggenakan topeng, sejumlah aktivis penyelamat satwa menggelar kampanye perlindungan dan pelestarian primata. Kampanye digelar di Alun-Alun Kota Tasikmalaya, Jalan Otto Iskandardinata, Kelurahan Empangsari, Kecamatan Tawangsari, Minggu (28/1/2018) pagi.

Sambil membawa kertas yang bertuliskan “Saya primata, Jangan Pelihara Saya” para aktivis melakukan orasi dan membagikan stiker dan pin piramata yang dilindungi.

Para aktivis adalah gabungan dari komunitas konservasi di antaranya mahasiswa Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Kelompok Studi Konservasi Universitas Kuningan, International Animal Rescue (IAR) Indonesia serta komunitas Uniku, Kukangku.

Pulau Jawa masih menjadi habitat besar bagi sejumlah primata seperti kukang, owa, surili, lutung. Namun, keberadaannya kian terancam akibat perburuan dan kerusakan habitat. Foto: Ismail Agung/IAR Indonesia.

Pulau Jawa masih menjadi habitat besar bagi sejumlah primata seperti kukang, owa, surili, lutung. Namun, keberadaannya kian terancam akibat perburuan dan kerusakan habitat. Foto: Ismail Agung/IAR Indonesia.

Menurut Diki Muhamad Chaidir (32) koordinator aksi, kampanye itu dilakukan untuk menyambut Hari Primata Indonesia pada Selasa (30/1/2018).

“Dalam aksi ini, kami mengkampanyekan dan mengedukasi masyarakat supaya peduli terhadap pelestarian primata yang ada di Indonesia,” katanya saat ditemui di lokasi.

Diki menyatakan lewat orasi serta bagi-bagi stiker dan pin menjadi sarana edukasi bagi masyarakat agar menyadari pelestarian primata, satu di antaranya membiarkan primata hidup di habitatnya.

“Salah satu cara bagaimana untuk melestarikan primata adalah membiarkannya hidup di alam, dengan begitu itu juga mendukung bagaimana kita menjaga kehidupan primata,” ujarnya.

Diki menambahkan, selain itu aksi hari ini bentuk kepedulian untuk menjaga dan melestarikan primata.

“Di Indonesia ini ada 60 jenis primata. di Jawa ada sejumlah permasalahannya (terkait primata) yaitu diburu, diperdagangkan, dipelihara, dan habitatnya hilang. Primata dijadikan peliharaan itu ancaman, paling besar,” katanya.

Selain itu, para aktivis mengedukasi warga secara langsung soal larangan berburu, memperdagangkan, dan memelihara primata serta menyampaikan sanksi hukum bagi pelanggar aturan soal primata.

Kampanye ini diharapkan menjadi pemicu generasi muda untuk tetap melindungi dan melestarikan primata Indonesia. Foto: Ismail Agung/IAR Indonesia.

Kampanye ini diharapkan menjadi pemicu generasi muda untuk tetap melindungi dan melestarikan primata Indonesia. Foto: Ismail Agung/IAR Indonesia.

Aksi itu mendapat perhatian warga yang tengah berolah raga dan jalan-jalan mengisi libur akhir pekan.

“Aksi yang sangat bagus sekali. Kami jadi mengetahui jenis hewan yang dilindungi dan lebih sadar untuk melestarikan supaya tidak punah, dengan cara tidak memelihara hewan langka tersebut,” kata Indah (28), seorang warga.

Kampanye ini menjadi bagian rangkaian peringatan Hari Primata Indonesia pada akhir Januari ini.

Rangkaian kegiatan akan dipuncaki dengan pelepasliaran primata kukang oleh IAR Indonesia di SM Gunung Sawal, Ciamis, Selasa (30/1/2018).

Selain kampanye, para aktivis berencana melakukan kegiatan lainnya seperti pelatihan pengamatan primata.

Laporan wartawan Tribun Jabar, Isep Heri

Leave a Reply

    Cart