Induk dan Bayi Orangutan Diselamatkan dari Habitatnya yang Musnah Terbakar

by in News, Release Berita 14 October, 2019

Tim gabungan yang terdiri dari IAR Indonesia, BKSDA Kalimantan Barat dan Babinsa, Selamatkan Sepasang Induk-Anak Orangutan dari Habitatnya yang Musnah Terbakar. 

Dua individu orangutan yang merupakan induk dan bayinya, diselamatkan oleh tim IAR Indonesia bersama BKSDA Kalimantan Barat setelah habitat tempat mereka hidup selama ini di hutan dekat wilayah desa Tempurukan, ikut musnah akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda sebagian besar wilayah Ketapang dari sejak Juli lalu.

Orangutan yang kemudian dinamai Mama Sifa dan Sifa ini, ditemukan berkeliaran di sekitar perkebunan di sekitar Desa Tempurukan. Induk anak yang diperkiraka berusia 20 tahun dan 8 bulan ini memasuki wilayah perkebunan tersebut setelah api meniadakan sebagian besar kawasan hutan tempat mereka tinggal, dan kedua individu ini pun masuk ke area perkebunan warga untuk mencari makan.

Keberadaan mereka dilaporkan warga kepada IAR Indonesia yang kemudian melakukan penyelamatan bersama BKSDA Kalimantan Barat dan Babinsa setempat, dibantu warga sekitar, pada 10 Oktober 2019. “Evakuasi dan translokasi orangutan selalu menjadi pilihan terakhir dan jika bisa, kita akan menghindarinya dan memastikan orangutan dapat bertahan hidup di habitatnya. Namun kali ini tidak ada pilihan lain, keduanya terjebak hanya di beberapa bidang pohon yang tersisa. Setelah kebakaran, kawasan hutan besar telah terbakar dan orangutan ini tidak dapat kembali ke habitatnya. Jika kita tidak ada di sini, orangutan ini tidak akan selamat,” ujar Argitoe Ranting, ketua tim penyelamatan dari IAR Indonesia yang telah memiliki 20 tahun pengalaman dalam penyelamatan satwa.

Meski saat diselamatkan, keduanya dalam kondisi kurus dan dehidrasi karena kekurangan nutrisi selama beberapa hari, tim penyelamat yang juga melibatkan keberadaan dokter hewan, menilai keduanya bisa segera ditranslokasi ke wilayah hutan. Setelah diberikan perawatan kesehatan dengan segera, keduanya pun dibawa kembali ke hutan dengan menggunakan traktor dikarenakan jarak dari perkebunan warga ke batas hutan, cukup jauh. “Kami sangat menghargai perhatian dan kepedulian masyarakat setempat serta pihak berwenang sepetti polisi dan TNI di Ketapang yang membantu kami dalam upaya penyelamatan orangutan,” kata Argitoe Ranting yang membuka kandang Mama Sifa bersama Koptu Andi S dari Babinsa Sungai Awan Kiri/Tempurukan yang membuka kandang.

Setelah tim medis memeriksa kondisi Mama Sifa dan dinyatakan sehat, mereka akhirnya ditranslokasi ke tempat yang aman untuk melanjutkan hidupnya di alam bebas.

Sejak kebakaran melanda kawasan hutan dan lahan di daerah Ketapang dari akhir Juli lalu, IAR Indonesia bersama para mitra pemerintah dan warga masyarakat, telah menyelamatkan enam individu orangutan termasuk Mama Sifa dan bayinya. Hilangnya habitat tempat mereka hidup menjadikan Unit Perlindungan Orangutan dan Tim Penyelamat dari IAR Indonesia harus siap 24 jam setiap hari ketika menerima laporan masyarakat.

“Ketika Anda melihat mata Sifa, Anda menyadari ketakutan dan keputusasaan orangutan yang melihat bagaimana rumah mereka hancur,” ujar Karmele Llano Sanchez. Kejadian ini, menurutnya, sama seperti yang terjadi pada 2015 di mana operasi penyelamatan berlangsung berbulan-bulan setelah kebakaran, dan dampak buruk yang ditimbulkan kebakaran hutan pada orangutan dan satwa liar lainnya begitu nyata. “Mereka yang berhasil diselamatkan, adalah yang beruntung karena masih mendapatkan kesempatan untuk bertahan hidup. Tetapi masih banyak orangutan yang mungkin mati dalam kebakaran dan yang tidak bisa selamat karena kekurangan makanan atau dibunuh manusia,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia. “Kita perlu bekerja sangat keras untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi kebakaran hutan. Jika tidak, akan sangat sulit untuk memastikan kelangsungan hidup hewan-hewan ini di alam liar,” ujarnya menambahkan. (Heribertus)

Leave a Reply