Peni, Secuil Kisah Bahagia di Tengah Perjuangan Hidup Orangutan

by in News, Release Berita 30 December, 2019

Oleh: Dewi Ria Utari

Siang itu, sorot mata kebahagiaan tim survei dan monitoring mengikuti seekor orangutan betina yang berloncatan di antara liana dan pepohonan sambil menggendong bayi orangutan di pelukannya. Ia begitu lincah. Namun juga hati-hati dan tampak selalu memastikan bahwa bayi di pelukannya tetap aman. Orangutan betina itu bernama Peni

Melihat kondisinya yang telah menjadi ibu, tentu saja ini merupakan kabar bahagia bagi tim survei dan monitoring International Animal Rescue (IAR) Indonesia di Gunung Tarak. Bagaimana tidak, Peni, orangutan yang merupakan individu yang direhabilitasi, ternyata berhasil beradaptasi di alam liar dan bahkan telah menjadi ibu. Karena keberadaan Peni telah memperlihatkan keberhasilan proses reintroduksi orangutan di Gunung Tarak, tim IAR Indonesia pun menamakan bayinya, Tarak.

Peni saat dijumpai tim monitoring tengah menggendong bayinya di hutan Gunung Tarak. Foto: IAR Indonesia.

Sosok Peni terbilang cukup bersejarah bagi pekerjaan IAR Indonesia dalam hal penyelamatan, rehabilitasi, dan kemudian melepaskan satwa (terutama orangutan) ke alam liar. Sejarah itu diukir sejak Peni diselamatkan. Di usia balitanya, ia mengalami kejadian traumatik. Dalam pelukan ibunya, Peni terusir dari hutan yang semakin menipis karena hutan tersebut akan dialihfungsikan menjadi kebun sawit. Sudah menjadi insting, ibu orangutan yang masih memiliki bayi, akan mencari tempat yang diperkirakannya merupakan sumber makanan. Peni dan Ibunya pun tiba di sebuah desa di pinggir hutan. Alih-alih mendapatkan makanan, warga desa yang ketika kejadian tersebut berlangsung, yaitu 2010, belum banyak yang memiliki kesadaran dan pengetahuan bahwa orangutan merupakan satwa dilindungi, segera merenggut Ibu Peni dari bayinya, dan menenggelamkan sang ibu ke dalam kolam.

Orangutan adalah satwa yang tak bisa berenang. Tentu saja tindakan kejam ini berbuntut nyawa. Dalam keadaan sekarat, si ibu kemudian diikat bersama anaknya, dan mereka dilempari benda apa pun oleh warga desa. Sungguh tindakan yang pada dasarnya memperlihatkan bahwa ketidaktahuan merupakan salah satu sumber dari perbuatan keji.

Induk Peni berusaha melepaskan diri dari ikatan saat tertangkap dan jadi tontonan oleh penduduk karena memasuki area ladang dan kebun penduduk setempat. Untuk bisa melumpuhkannya penduduk memukuli, merendamnya dalam kolam lalu mengikatnya. Diperkirakan akibat hutan-hutan tempat habitat orangutan yang terus menyusut menyebabkan orangutan itu berkeliaran di ladang dan kebun penduduk untuk mencari makan. Foto: Feri Latief (2010).

IAR Indonesia tiba terlambat di Desa Peniraman, Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak, tempat kejadian memilukan ini terjadi. Sambil berupaya meredakan emosi warga, tim medis berusaha menyelamatkan ibu dan bayi orangutan ini. Sayangnya terlambat. Nyawa ibu orangutan tak lagi bertahan. Ia meninggal. Untunglah si bayi masih bisa diselamatkan. Ia pun kemudian segera dibawa ke pusat rehabilitasi IAR Indonesia di Ketapang, Kalimantan Barat. Sesampainya di sana, ia pun diperiksa secara lebih lanjut, dan kemudian ia dinamakan Peni – mengacu pada nama desa tempat ia diselamatkan.

Merehabilitasi Peni bukan perkara mudah. Ia diselamatkan dari peristiwa yang membuatnya traumatik. Satwa terutama orangutan, memiliki daya ingatan yang kuat dan menyaksikan kematian ibunya, merupakan pengalaman yang mengguncangkan batin. Rehabilitasi Peni tak hanya berfokus pada bagaimana ia bisa belajar menjadi orangutan sesuai kodrat dan nalurinya, namun juga mengatasi pengalaman traumatiknya.

Peni kecil saat berada di Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Foto: IAR Indonesia.

Perlu kerja sama yang kompak antara tim animal keeper dan medis untuk terus memantau perkembangan Peni di sekolah hutan yang dijalaninya di pusat rehabilitasi IAR Indonesia. Hingga akhirnya, setelah empat tahun di pusat rehabilitasi, Peni dinilai telah berhasil menjalankan semua kemampuan yang diperlukan orangutan untuk hidup di alam liar. Dari mencari makanan, hingga membuat sarang.

Pada 2014, Peni dilepasliarkan di Gunung Tarak. Di hutan inilah, Peni kembali bertemu dengan teman-teman orangutan yang juga direhabilitasi oleh IAR Indonesia, yaitu Helen, Prima, dan Susi. Meski sudah dilepasliarkan, sudah menjadi prosedur wajib di IAR Indonesia, kehidupan para orangutan rehabilitasi ini tetap dimonitor. Tak hanya untuk memantau kemampuan mereka bertahan hidup, namun juga proses adaptasi mereka dengan orangutan liar.

Kabar menggembirakan pun muncul tahun ini. Tim survei dan monitoring yang sebelumnya cukup lama tidak menyaksikan keberadaan Peni, dikejutkan dengan pemandangan membahagiakan di mana ia tampak menggendong bayi orangutan.

Peni adalah kisah sukses kami, kisah membahagiakan yang memberikan harapan dan semangat bahwa kerja keras lembaga-lembaga penyelamatan satwa tidak sia-sia. Tentu saja dukungan dari pemerintah sangat memberikan andil dalam memberikan ruang bagi satwa-satwa dilindungi ini bisa menemukan rumah tempat ia hidup dan bereproduksi. Tanpa dukungan dari Taman Nasional Gunung Tarak, bisa jadi Peni tak menemukan kehidupan baru. Hutan-hutan seperti Taman Nasional di Gunung Tarak ini adalah masa depan mereka. Dan kita memerlukan lebih banyak lagi hutan bagi mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *