Pemasangan Radio Transmitter Pertama Pada Rusa Bawean

by in Blog, News, Updates 5 November, 2017

International Animal Rescue (IAR) Indonesia membantu Balai Besar KSDA Jawa Timur memasang radio transmitter pada rusa bawean yang akan dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Rusa-rusa yang terdiri dari dua jantan dan empat betina itu diketahui berasal dari penangkaran rusa bawean yang berada di Pudakit, Pulau Bawean, dan lembaga konservasi Maharani Zoo Lamongan.

Untuk mendukung program pemasangan radio transmitter pada rusa bawean, IAR Indonesia juga memberikan pelatihan mengenai metode dan tata cara penggunaan radio transmitter ke Bidang KSDA Wilayah II Gresik, pada Rabu (25/10) lalu.

Harapannya, setelah dilepasliarkan, rusa endemik Pulau Bawean itu dapat dimonitoring secara rutin dengan alat bantu radio transmitter tersebut. Penggunaan transmitter itu, diharapkan dapat ikut membantu proses pemantauan pasca pelepasliaran nanti. Sehingga petugas dapat mengetahui lokasi penyebaran rusa-rusa yang dilepasliarkan.

Rusa endemik Pulau Bawean ini tengah dipindahkan menuju lokasi habituasi di Suaka Margasatwa Pulau Bawean.

Satu individu rusa endemik Pulau Bawean yang akan dilepasliarkan ini tengah dipindahkan menuju lokasi habituasi di Desa Pudakit Timur, Pulau Bawean. Foto: Robithotul Huda/IAR Indonesia

Kini, pada Minggu (05/11) kemarin, rusa bawean telah dilepasliarkan di SM Pulau Bawean, Jawa Timur. Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Ir. Herry Subagiad mendapat kesempatan melepasliarkan enam ekor rusa bawean tersebut. Sebelumnya rusa-rusa tersebut menjalani masa habituasi hampir dua minggu di suaka margasatwa yang terletak di Desa Pudakit Timur Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean – Gresik.

Menurut Heri, rusa bawean merupakan jenis rusa terkecil dan bersifat unik, serta hanya satu di dunia yakni di Pulau Bawean. “Oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) rusa bawean ditetapkan sebagai spesies yang terancam punah, dan oleh pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai satwa yang dilindungi,” imbuhnya. Namun dengan status dilindungi bukan berarti tidak diperbolehkan azas pemanfaatan, tetap ada melalui mekanisme penangkaran, contohnya.

Berdasarkan inventarisasi tahun 2014, populasi rusa bawean di hutan Bawean tinggal 275 ekor, jumlah yang sangat sedikit dibanding dengan populasinya selama 20 tahun terakhir. Untuk itu perlu melakukan upaya-upaya penyelamatan, seperti penindakan yang tegas terhadap perburuan rusa bawean, jangan sampai nasibnya seperti harimau jawa yang telah punah.

Bagi Herry bangsa yang tidak mampu menyelamatkan satwa endemik dan menjadi ikon bangsanya di cap sebagai bangsa tidak bermartabat. Untuk itu ia menyampaikan kepada hadirin yang ada untuk ikut serta memberi dukungan terhadap kegiatan penyelamatan rusa bawean.

 

Leave a Reply

    Cart