Pekerjaan Rumah Penyadartahuan Orangutan di Sandai, Kabupaten Ketapang

Edukasi dan sosialisasi tentang penyelamatan dan konservasi orangutan semakin penting untuk dilakukan. Hal ini terungkap dalam kegiatan penyelamatan satu orangutan di Dusun Demit, Desa Demit, Kecamatan Sandai, Jumat (8/5). Dalam diskusi selama proses penyelamatan ini diketahui bahwa hanya sedikit dari warga desa yang paham soal penyelamatan dan konservasi orangutan. Hal ini diungkapkan oleh Pak Deka, seorang tokoh masyarakat yang juga tergabung dalam Dewan Adat Dayak Kecamatan Sandai. “Banyak yang belum paham konservasi satwa. Menurut saya hanya sekitar 10 persen warga yang paham. Itulah mengapa saya merasa perlu minta bantuan untuk mengedukasi warga sini. Karena tidak paham, warga justru menjadi takut mengambil tindakan, jadinya malah abai” katanya di sela-sela proses penyelamatan. Pak Deka sendiri sudah pernah membantu penyelamatan orangutan bernama Muria di daerah Sandai. “Kita membutuhkan lebih banyak orang seperti pak Deka yang bisa membantu dalam rangka penyelamatan orangutan” ucap drh Adi Irawan selaku Manajer Operasional YIARI – “tanpa mereka kita tidak akan bisa memastikan keberlangsungan hidup dari orangutan yang semakin terancam.”

Kegiatan penyelamatan ini berawal dari laporan salah seorang warga Desa Sandai sebagai pemilik orangutan yang secara sukarela hendak meyerahkan orangutan miliknya. Dia menemukan orangutan berusia dua tahun itu di hutan yang dikonversi menjadi perkebunan oleh salah satu perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di Desa Demit. Induknya diduga sudah mati karena bayi orangutan seumur itu biasanya masih selalu bersama induknya. Anak orangutan baru berpisah dari induknya mulai usia 7-8 tahun.

Segera setelah menemukan, warga tersebut melapor ke perusahaan sawit selaku pembuka lahan namun tidak ada tanggapan. Kemudian warga tersebut mengambil inisiatif untuk menghubungi Pak Deka sebagai tokoh masyarakat Desa Demit. Deka sendiri pada Juli 2014 bekerja sama dengan BKSDA dan YIARI Ketapang pernah juga menyelamatkan satu orangutan yang bernama Muria.

Menanggapi laporan Warga, Pak Deka segera menghubungi salah seorang anggota BKSDA Ketapang. Namun setelah dicoba berkali kali tidak ada jawaban dari BKSDA Ketapang. Pak Deka kemudian berinisiatif melapor ke Ibrahim Sindang dari unit investigasi SPORC di Pontianak. Ibrahim kemudian bersama Yefri selaku ketua tim rescue SPORC Kalimantan Barat bergerak ke Sandai setelah berkoordinasi dengan tim dari YIARI Ketapang. Sementara itu Tim YIARI ditambah satu orang dari BKSDA Ketapang juga bergerak menuju Sandai untuk mengambil orangutan yang dipelihara.

Pemilik orangutan sendiri merasa tidak sanggup untuk memelihara orangutan itu. “Saya minta tolong kepada Pak Deka untuk menghubungi BKSDA karena saya tidak mampu merawatnya. Kasihan istri saya kalau saya tinggal kerja, orangutannya sering ngamuk dan merusak perabotan. Makanya orangutan ini saya kurung di belakang,” katanya sambil menunjukkan kandang orangutan di belakang.

Kondisi bayi orangutan jantan yang diberi nama Jacko ini sekilas cukup baik. Tidak ada tanda-tanda penyakit luar atau cedera fisik. Kandang Jacko terbuat dari papan kayu dan jalinan kawat besi. Terletak di sisi luar dapur sebelah atas, anak pemilik orangutan ini seringkali memanjat dan bermain dengan Jacko. Menurut pengakuan pemilik, Jacko diberi makan nasi dan lauk pauk seperti telur dan daging. Selain nasi, Jacko juga diberi minum susu kental manis. Pemiliknya berkisah bahwa kalau sedang dilepaskan di luar kandang, Jacko seringkali makan tanah. Terkadang di waktu malam, Jack menunjukkan adanya gejala asma. Saat ini Jacko sudah berada di dalam kandang karantina di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan milik YIARI di Ketapang

Ibrahim mengapresiasi tindakan warga yang disebutnya bertanggungjawab dengan melaporkan temuannya ke pihak terkait. “Hal ini sangat bagus karena langsung melapor. Semua juga seharusnya begitu lapor ke RT, kades, atau BKSDA untuk mencegah disalahkan kalau terjadi apa apa dengan orangutan. Semestinya dibuat semacam prosedur standar pelaporan,” tambahnya.

Drh Karmele selaku Ketua Program YIARI Ketapang berjanji akan mengupayakan edukasi mengenai konservasi dan penyelamatan satwa di Desa Demit. “Akan kami agendakan untuk melakukan kegiatan edukasi dan sosialisasi soal konservasi di sini, mungkin nanti akan kami adakan pemutaran film atau semacamnya karena kalau hanya ceramah pasti akan sangat membosankan,” ujarnya dalam pertemuan dengan Kepala Desa Demit di rumahnya. Di balai desa sendiri sebenarnya sudah ada tempelan di papan pengumuman yang berbunyi “dilarang memelihara orangutan”. Kepala Desa mengatakan “Saya sudah bilang ke warga, kalau nemu orangutan, segera lapor ke kita, nanti kita bantu untuk lapor ke BKSDA. Tapi kurangnya pengetahuan warga justru membuat mereka takut terkena hukuman kalau melapor” keluhnya. Sebuah panggilan tugas penyadartahuan untuk para rescuers YIARI.

 

 

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit