Menyelamatkan Primata Langka Bukan Perkara Eksotisme Semata

by in Kliping Media, News 4 September, 2017

Ebola menjadi salah satu virus yang mematikan di Afrika, termasuk Liberia. Kebanyakan masyarakat Afrika ternyata tidak menyadari bahwa salah satu sumber virus Ebola berasal dari kebiasaan mereka memakan binatang-binatang liar. Penyakit mematikan itu berkumpul dalam darah dan daging hewan liar, terutama monyet dan kelelawar pemakan buah yang kemudian dikonsumsi. Penduduk Liberia menganggap hal itu hanya sebagai rumor. Mereka tetap memakan binatang liar yang umumnya diperjualbelikan dalam bentuk yang sudah dibakar.

Dalam laporan Vice dua tahun silam, sebagian besar penduduk di Liberia selalu berpegang teguh pada kenyataan bahwa kebiasaan memakan daging monyet liar telah dilakukan oleh leluhur mereka. Leluhur mereka itu, diklaim baik-baik saja. Mengapa kemudian kini ia dilarang? Teori konspirasi lalu menyebar, diyakini bahwa Ebola sesungguhnya bukan dari negara mereka—apalagi kebiasaan memakan daging monyet serta kelelawar liar (bush meat).

Sayang, keyakinan itu tidak sesuai dengan realita. Ebola benar-benar menyerang penduduk Liberia dan menyebar ke negara-negara bagian barat Afrika lain seperti Guinea dan Sierra Leone sepanjang tahun 2014-2015. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat korban yang meregang nyawa akibat Ebola per 7 April 2015 mencapai 4.809. Hingga satu tahun setelahnya, korban terpapar Ebola mencapai 10.675 jiwa. Sementara itu penyebaran Ebola di Kongo menyerang ke 66 orang dan 49 di antaranya meninggal dunia. Korban di negara tetangga dan keluar teritori Afrika terhimpun lebih banyak lagi, yakni mencapai belasan ribu.

Kebiasaan menyantap daging monyet liar berdampingan dengan faktor-faktor penyebab lain seperti kurangnya sanitasi, korupsi di tubuh pemerintahan, konspirasi tingkat lokal yang menyembunyikan pasien Ebola yang terinfeksi maupun mati, hingga transfusi darah yang sembarangan, telah memicu penyebaran Ebola.

Monyet liar di Liberia dan negara-negara lain di Afrika menjadi sumber pemenuhan protein sebab membiakkan hewan ternak diklaim susah. Kebiasaan lambat-laun ini tak hanya membunuh para konsumen, namun secara gamblang menyusutkan populasi monyet liar yang di Afrika. Lebih dari satu dekade ke belakang, ancaman kepunahan monyet jenis simpanse hingga gorilla di Afrika pernah diberitakan oleh sejumlah media internasional, salah satunya The Guardian.

Daging monyet tak hanya diminati oleh warga Afrika, melainkan juga diekspor ke Eropa. Salah satunya ke Inggris, di mana daging kera dijual secara terselubung di sejumlah restoran. Salah satu spesies monyet yang kerap diburu, Miss Waldron Red Colobus, telah dikonsumsi habis hingga menuju punah di tahun 2001. Perdagangan “bush meat” terjadi begitu massif sehingga primata liar di Afrika Tengah dan Barat terancam punah dalam satu dekade selanjutnya.

Diusir dari Habitat, Diburu untuk Santapan

Prediksi kepunahan menuai kenyataannya saat Majalah Science Advance edisi 18 Januari 2017 memaparkan temuan Anthony Rylands dan kawan-kawan lain di Conservation International serta sejumlah lembaga lain. Menurut isi laporan, lebih dari separuh primatan dunia kini terancam punah. Lebih tepatnya, 60 persen populasi kera, monyet, lemur, dan lorises. Sementara itu, ¾ lainnya kini dalam kondisi penurunan jumlah yang stabil.

Laporan tersebut meragukan masa depan kurang lebih 300 spesies primata termasuk gorila, simpanse, owa, marmoset, tarsius, lemur, dan lorises. Rylands mengaku ketakutan saat melihat datanya. Baru kali ini ia melihat kepunahan primata dalam skala yang begitu masif di level global. Rylands hanya berharap pada upaya penanggulangan yang dilakukan LSM maupun otoritas negara dimana sang primata tinggal.

“Mengingat sebagian besar spesies primata saat ini sedang terancam dan mengalami penurunan jumlah populasi, dunia akan segera menghadapi kepunahan raksasa jika tindakan yang efektif tak dilaksanakan dengan segera,” tulis Rylands.

Faktor paling utama yang menyebabkan bencana kepunahan ini masih klasik, yakni pertumbuhan areal pertanian dan perkebunan. Dari tahun 1990-2010, faktor tersebut telah mengganyang kurang lebih 1,5 juta km persegi habitat primata.

Di Sumatera dan Kalimantan, penghancuran hutan tropis demi membuka lahan kelapa sawit memakan korban penurunan jumlah orang utan. Di Cina ekspansi perkebunan karet mengusir siamang jambul pipi putih dan siamang Hainan dari tempat tinggalnya, menyisakan 30 ekor saja. Sementara itu pola yang sama di India telah memukul mundur kukang Bengal, owa hoolock Barat dan monyet daun Phayre.

Primata tersebar di 90 negara, namun dua per tiganya hanya menghuni empat diantaranya, yakni Brazil, Madagaskar, Indonesia, dan Republik Kongo. Di Madagaskar, 87 persen spesies primata menghadapi ancaman kepunahan, bersama dengan 73 persen primata di Asia. Saat tempat tinggal punah dan sumber makanan menipis, mau tidak mau primata malang itu mesti ke area hunian manusia. Kontak dengan manusia, menurut laporan, justru membuat mereka rentan terinfeksi penyakit baru.

Faktor besar kedua setelah hilangnya habitat berkaitan dengan epidemi Ebola di Liberia dan kawasan Afrika, yakni komersialisasi daging kera, monyet, dan bahkan lemur. Laporan tersebut menyebutkan kurang lebih 150.000 primata dari 16 spesies diperdagangkan tiap tahun di Nigeria dan Kamerun. Di Kalimatan, kurang lebih ada 2.000 hingga 3.000 orang utan yang terbunuh untuk disantap manusia tiap tahunnya. Sebuah angka yang menurut laporan tentu tak akan berkelanjutan.

TIRTO-primataterancampunah

Bukan Eksotisme Semata

Orang sering bertanya, adakah manfaat praktis dari penyelamatan satwa liar dari ancaman kepunahan selain karena mereka eksotis? Apa yang akan terjadi dengan manusia saat eksistensi mereka lenyap dari muka bumi? Bukannya kepunahan adalah bagian alami makhluk, sebagaimana dulu dialami dinosaurus? Mengapa menurut riset U.S. Fish and Wildlife Service kita mesti membelanjakan dana hingga $76 miliar untuk perkara ini?

Bencana Ebola yang menjangkiti warga Afrika akibat kebiasaan mengonsumsi daging monyet menjadi bahaya konkret mengapa perlindungan terhadap primata itu penting. Saat ia dianggap remeh dan bahkan ditambah oleh konspirasi yang disokong negara, bukan hanya populasi primata yang terancam lenyap dari muka bumi, demikian juga populasi manusia. Kerakusan dan ketiadaan alternatif membuat manusia jatuh ke lubang pesakitannya sendiri.

Ulasan Michael Marshal dalam BBC dan U.S. Fish and Wildlife Service dalam laporannya memiliki benang merah serupa atas pertanyaan di atas. Jawabannya sederhana: sebab tanpa eksistensi satwa liar, kehidupan manusia sendiri akan diterpa beragam gangguan. Marshal dan U.S. Fish and Wildlife Service mengajukan istilah “nature services”.

Dalam prinsip “nature services”, manusia berada dalam satu ekosistem dengan makhluk hidup lain di alam sehingga memiliki pola saling mengisi kebutuhan satu sama lain. Meski terasa remeh, kondisi ini lebih kompleks daripada sekadar wacananya.

Marshal mencontohkan bagaimana gorila di pegunungan pada tahun 1981 terancam populasinya. Penghuni kawasan pegunungan di Afrika bagian tengah itu hanya tersisa 254 ekor selama perang sipil. Tahun lalu kondisinya mengalami kemajuan. Sebuah survei di tahun 2012 melaporkan jumlahnya naik menjadi 880—meski jumlah yang sekian masih menjadikan statusnya sebagai satwa yang terancam punah.

Apakah kita hanya menyelamatkan sang gorila? Marshal berkata tidak. Sebab sebagaimana manusia, habitat seekor satwa tak pernah untuk dirinya sendiri. Menyelamatkan gorila berarti menyelamatkan pegunungan dan ekosistem yanga da di dalamnya. Matinya gorila pegunungan, dalam arti lain, akan mengakibatkan bencana bagi spesies lain dan mengganggu rantai makanan alami. Gorila dan habitat hutannya adalah satu paket yang tak terpisahkan. Dan barangkali kuliah tentang pentingnya hutan bagi manusia terkait ketersediaan oksigen hingga air bersih sudah sedemikian jelasnya.

Pada 1997 ekologis Robert Costanza dan kawan-kawannya memperkirakan bahwa biosfer menyediakan layanan bernilai sebesar $33 triliun bagi umat manusia sedunia. Sebagai perbandingan, mereka mencatat bahwa seluruh ekonomi global di tahun itu menghasilkan keuntungan sekitar $18 triliun per tahun.

Lima tahun kemudian, tim Costenza menganalisis argumennya lebih lanjut lagi dengan bertanya seberapa untung jika manusia melestarikan keanekaragaman hayati. Mereka menyimpulkan bahwa manfaatnya akan lebih besar dari biaya yang mesti dikeluarkan dikalikan dengan 100. Dengan kata lain, melestarikan alam adalah investasi jangka panjang yang amat baik.

Sebaliknya, membiarkan spesies di bumi menurun jumlahnya akibat punah adalah keputusan yang buruk. Sebuah studi di tahun 2010 menyimpulkan bahwa hilangnya spesies yang dilindungi akan mengacaukan 18 persen dari ekonomi global pada tahun 2050 mendatang. Riset ini mematahkan langkah rakus pada investor dan pemodal di banyak negara yang membabat hutan demi menumpuk profit. Kebijakan tersebut, menurut Marshal, tak mewariskan apa-apa di masa depan.

Marshal mengkompromikan pandangan “alam untuk dirinya sendiri” dan “alam untuk manusia”. Alih-alih mengambil sisi ekstrem dan mengacuhkan salah satunya, lebih baik untuk memandang alam dan manusia sebagai dua entitas yang setara dan saling membutuhkan. Ini bukan berarti untuk melestarikan tiap spesies. Juga menjaga segalanya tetap sama, sebab keduanya tak mungkin terwujud.

“Yang tepat adalah memastikan ekosistem dunia sekaya dan dalam tingkat keragaman setinggi mungkin. Maka hal itu akan baik untuk mereka, dan juga untuk kita,” tandas Marshal.

Laporan Wartawan Tirto.id, Akhmad Muawal Hasan

Leave a Reply

    Cart