Mengembangkan Kapasitas, Tim YIARI Survei Populasi Kukang Kalimantan Di Hutan Gunung Tarak, Kabupaten Ketapang

by in Blog, News, Updates 12 May, 2015

CIAPUS – Pusat Rehabilitasi YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat mengembangkan kapasitas untuk melakukan program 3R untuk Kukang Kalimantan. Hal ini ditandai dengan memfasilitasi kegiatan mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Pakuan Bogor, Saefur Rahman (22) melakukan penelitian yaitu menghitung estimasi populasi kukang kalimantan (Nycticebus menagensis) dan satwa nocturnal lain di Hutan Lindung Gunung Tarak, Kecamatan Nanga Tayap, Kalimantan Barat. Penelitian itu bertujuan untuk membantu  Yayasan IAR Indonesia (YIARI) menemukan habitat yang tepat untuk pelepasliaran kukang kalimantan di Gunung Tarak. Rahman bersama tim YIARI akan melakukan survei selama 20 hari sejak 8 Mei hingga Juni 2015.

Manajer Program YIARI Ciapus, Richard S. Moore mengatakan survei populasi satwa nokturnal yang dilakukan tim IAR bertujuan untuk mengetahui potensi predator dan kompetitor kukang yang akan di lepasliarkan nantinya. Selain itu, tim juga akan mengecek kondisi hutan, kelayakan habitat, dan ketersediaan pakan untuk keberlangsungan hidup kukang kalimantan di alam liar. “Dari hasil survei, akan muncul estimasi apakah bisa lepas liar kukang kalimantan di sana atau tidak. Sehingga kita juga bisa memastikan bahwa kukang Kalimantan yang dilepas liar bisa bertahan hidup nantinya,” kata Richard di kantor pusat YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Kamis, 29 April 2015.

Kegiatan training di Curug Nangka, Ciapus, Bogor sebagai persiapan teknis sebelum survei ke Gunung TarakRichard menambahkan, sebelum dilepasliar, kukang kalimantan harus menjalani karantina terlebih dahulu di pusat rehabilitasi YIARI yang berada di Ketapang, Kalimantan Barat. Sebelumnya, YIARI di Ketapang hanya fokus terhadap upaya penyelamatan, rehabilitasi dan lepasliar Orangutan. Namun, pada awal 2015 tim YIARI Ketapang mendapat titipan kukang kalimantan hasil peliharaan warga untuk dtitip rawatkan. Sehingga tim YIARI di tanah Borneo itu kini mulai melakukan upaya penyelamatan, rehabilitasi hingga pelepasliaran kukang kalimantan. “Sudah ada program rilis Orangutan, ke depannya akan ditambah dengan rilis kukang dan itu bisa menjadi proyek jangka panjang penyelamatan kukang kalimantan. Kami mulai dengan melakukan survei habitat dan populasinya,” katanya.

Menurut Richard, dari laporan warga di Kalimantan Barat, masih banyak kasus perburuan kukang di kalimantan yang diperjualbelikan untuk hewan peliharaan. Padahal, kukang merupakan satwa liar yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem nya pasal 21 ayat II disebutkan bahwa perdagangan dan pemeliharaan satwa dilindungi termasuk Kukang adalah dilarang. Juga satwa liar yang dilindungi ini dilarang untuk dieksploitasi (diburu, dipelihara, diperjual belikan maupun dimanfaatkan bagian tubuhnya).

Sementara International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat kukang termasuk dalam kategori Vulnerable (rentan) hingga Endangered (terancam punah), yang artinya populasinya di alam semakin menurun dan menuju kepunahan. Sedangkan, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) mencatat Kukang termasuk dalam Apendiks I.

Mahasiswa Universitas Pakuan bersama tim YIARI melakukan training survei pengambilan data populasi hewan nokturnal di Curug Nangka, Ciapus, Bogor, jawa Barat. Training dilakukan untuk latihan teknis sebelum survei di Gunung Tarak Kalimantan Barat. Pengambilan data menggunakan metode Line Transect.

Mahasiswa Universitas Pakuan bersama tim YIARI melakukan training survei pengambilan data populasi hewan nokturnal menggunakan metode Line Transect di Curug Nangka, Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Training dilakukan untuk persiapan teknis sebelum survei di Gunung Tarak Kalimantan Barat.

Proses pengambilan data populasi dilakukan menggunakan metode Line Transect dengan mencatat objek target pada jalur pengamatan.  Beberapa parameter pengamatan yang dicatat antara lain wakru pertemuan, jumlah satwa primata, sudut antara pengamat satwa terhadap primata, tinggi pohon, tinggi posisi satwa primata, jenis pohon, dan lokasi satwa primata pada jalur pengamatan. Untuk memudahkan proses pengambilan data saat penelitian di Gunung Tarak, tim YIARI bersama Rahman melakukan training pengambilan data populasi satwa terlebih dahulu di Curug Nangka, Ciapus, Jawa Barat pada Ahad, 3 Mei 2015. Selayaknya meneliti binatang nocturnal, mereka mulai mendata satwa yang mereka temui  di Curug Nangka dengan metode Line Transect pada malam hari.

Leave a Reply