Mengantar Reva Pulang ke Habitatnya..

IAR Indonesia/Heribertus Suciadi Proses pelepasliaran orangutan bernama Reva di Hutan Desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Selasa (6/3/2017).

 

KETAPANG, KOMPAS.com – International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Komando Distrik Militer Ketapang dan Lembaga Pengelolaan Hutan Desa Pematang Gadung memulangkan satu individu orangutan (Pongo Pygmaeus) betina ke Hutan Desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Selasa (6/3/2017).

Orangutan yang diberi nama Reva ini diselamatkan dari persawahan milik warga di Desa Pematang Gadung pada tanggal 15 Januari 2017 silam. Ketika diselamatkan, kondisi Reva sangat memprihatinkan. Kedua tangan dan keki Reva terikat dan tubuhnya ditemukan banyak luka.

Manager Animal Care IAR Indonesia, Ayu Budi Handayani mengungkapkan, kondisi Reva saat itu kritis dan kedua pergelangan kaki dan tangan bengkak karena diikat terlalu lama.

“Ketika dilihat lebih dekat, ternyata banyak luka di sekujur tubuhnya. Luka sobek yang parah terdapat di jempol kanan, jari tengah tangan kanan, lengan kanan belakang, jari tengah kaki luka beset di punggung, luka lebam bekas pukulan benda tumpul di bagian mata kanan dan dahi bagian kiri memar dan bengkak,” ujar Ayu, Rabu (7/3/2017).

Melihat kondisi Reva yang memprihatinkan, tim medis langung memberikan cairan infus dan suntikan anti paradangan. Selanjutnya orangutan ini dibawa ke Pusat Penyelamatan Orangutan IAR Indonesia di Sungai Awan, Ketapang.

“Pada saat itu kami tidak yakin Reva bisa diselamatkan atau tidak,” ujarnya.

Ketika dilakukan perawatan yang lebih intensif dan pemeriksaan yang lebih teliti dan dilakuan foto rontgen, Reva juga diketahui mengalami beberapa luka tembak senapan angin di beberapa bagian. Hasil foto rontgen Reva menunjukan ada peluru di pinggul kiri bagian belakang, paha kanan, tengkuk, punggung, pergelangan tangan kanan, dan jari tengah.

“Setelah menjalani perawatan selama 1,5 bulan kini kondisi Reva sudah pulih dan siap untuk dipulangkan ke habitat asalnya. Kondisi Reva saat ini sudah bagus, luka-lukanya sudah pulih dan tingkat stressnya sudah berkurang jauh,” jelas Ayu.

Perilaku Reva juga masih liar, sehingga diyakini ia bisa cepat beradaptasi ketika dikembalikan ke habitatnya.

Hutan Desa Pematang Gadung seluas 14.000 ha ini merupakan hutan desa terluas di Indonesia dan merupakan rumah besar bagi beragam populasi satwa liar. Hutan ini dipilih untuk pelepasliaran berdasarkan hasil survei tim IAR Indonesia pada tahun 2012 yang menyatakan bahwa Hutan Desa Pematang Gadung dihuni oleh sekitar 500 individu orangutan.

Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Desa Pematang Gadung, Abadi menyebutkan, hutan dengan potensi keaneragaman hayati yang tinggi ini digadang-gadang untuk menjadi tujuan wisata berbasis ekologi di Kabupaten Ketapang.

Kegiatan pelepasan orangutan ini pun disambut positif oleh warga Desa Pematang Gadung. Mereka sangat bersemangat melihat Reva pulang ke habitatnya.

“Mayarakat Desa Pematang Gadung memang meminta agar Reva dilepas di Hutan Desa Pematang Gadung. Kami menyambut baik dan sangat mendukung kegiatan pelepasan orangutan ini,” katanya.

Abadi menambahkan, ekowisata mempunyai peran penting sebagai upaya perlindungan dan pelestarian orangutan berbasis masyarakat.

Selain upaya tersebut, ekowisata juga merupakan upaya peningkatan dan pengembangan ekonomi masyarakat dan juga upaya memperkenalkan bahwa peleatarian dan perlindungan tidak melulu hanya sebatas melindungi saja tetapi bisa juga mendapat nilai ekonomi dari manfaat jasa lingkungan.

Sementara Letkol Inf Riko Haryanto, Komandan Distrik Militer 1203/Ketapang menyatakan keikutsertaan TNI dalam kegiatan pelepasan ini sekaligus menunjukkan komitmen dan dukungan TNI dalam kegaiatan konservasi.

“Kami dalam hal ini Kodim 1203/Ktp sangat mendukung kegiatan pelepasliaran orang utan ini di Hutan Desa Pematang Gadung. Dengan ikut serta dalam kegiatan ini, kami sebagai institusi negara di wilayah ketapang, turut berkomitmen dan memberi kontribusi untuk melestarikan lingkungan demi kesejateraan masyarakat dan melindungi orangutan sebagai salah satu aset Ketapang,” ujarnya.

Kepala BKSDA Kalbar, Margo Utomo mengatakan, pelepasliaran orangutan berjenis kelamin betina tersebut merupakan kegiatan translokasi dan pelepasliaran yg pertama di kawasan Hutan Desa Pematang Gadung pada tahun 2017.

“Satwa tersebut berasal dari hasil penyelamatan di tempat yang sama ketika satwa keluar dari habitatnya dan mengganggu kebun warga Pematang Gadung,” ujar Margo.

Sumber, http://regional.kompas.com/read/2017/03/08/07460021/mengantar.reva.pulang.ke.habitatnya.

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit