Mata, Orangutan yang Migrasi ke Kampung Transmigran

Padang belukar gersang menyambut tim penyelamat di Desa Sei Mata-Mata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, 1 Desember silam. Tim penyelamat datang atas laporan warga yang mengatakan ada orangutan besar yang memakan hasil kebunnya. Seperti biasanya, YIARI menerjunkan terlebih dulu tim Human-Orangutan Conlict untuk mensurvey dan memonitoring orangutan yang dilaporkan. Tim survey melaporkan bahwa ada satu orangutan jantan dewasa yang sering datang dan makan pisang di kebun warga.  Sementara itu hutan sudah tidak ada sama sekali karena kebakaran hebat yang melanda Sei Mata-Mata sejak September. “Kemarin sempat satu bulan api terus berkobar. Asapnya sampai berbulan-bulan,” ujar salah seorang penduduk. Sejauh mata memandang hanya ada kebun warga dan semak belukar. Selain kebun milik warga, di Mata-Mata juga terdapat kebun sawit milik dua perusaahan besar di Indonesia.IMG_6189

IMG_6219Tim penyelamat yang datang menemukan orangutan yang kemudian diberi nama Mata ini sedang berteduh di bawah rumpun pisang. Melihat kondisi orangutan yang berada di bawah dengan jarak tidak terlalu jauh, tim medis memutuskan untuk melakukan pembiusan dengan menggunakan sumpit. Setelah memperkirakan berat si Mata dan menakar dosis, tim medis menyerahkan dart berisi obat bius kepada Argito, Koordinator lapangan YIARI.

IMG_6242Anggota tim penyelamat menarik perhatian Mata sementara Argito mengendap di belakang Mata dan bersiap menyumpit. “Fyyuuh..” Dart meluncur dari sumpit namun karena gerakan Mata, dart gagal menembus kulit punggungnya. Mata yang menyadari ada orang yang berusaha membiusnya berusaha kabur. Argito segera memungut dartnya, memasukkan lagi ke dalam sumpit, serta mengejar orangutan. Ketiadaan pohon tinggi memudahkan tim untuk mengikuti orangutan. Sembari berjalan membuntuti orangutan, Argito berhasil menembakkan dart ke punggung Mata. Mata yang ketakutan terus berjalan ke semak-semak yang tersisa paska kebakaran hutan.

Tim mengikuti Mata pelan-pelan sembari menunggu efek obat bius. Tidak sampai 15 menit kemudian, tim menemukan Mata sudah terbaring di bawah semak-semak. Pingsan ketika mencoba bersembunyi. Sementara tim medis melakulan pemeriksaan, beberapa warga menonton dan saling melempar komentar.

“Ini nih yang kemarin makan pisang di kebun saya,” ujar seorang warga. “Iyo, aku rugi akeh iki,” ucap seorang warga lainnya dengan logat Jawa yang kental. Desa Sei Mata-mata merupakan desa transmigran yang berasal dari berbagai kota di Pulau Jawa. Mereka mengikuti program transmigrasi pemerintah pada tahun 2012 dengan mendapatkan tanah seluas 2 ha dan rumah beserta pekarangannya. Mereka belum pernah melihat orangutan sebelumnya dan mengganggap mereka sebagai hama. Argito,  menanggapi, “iya Pak, tapi kalo orangutan ini lebih rugi karena semua hutan habis dan dia tidak punya rumah maupun makanan. Warga desa menyahut, “ya bukan salah saya, wong bukan saya yang buka hutan kok.” “Saya di sini kan ngikut pemerintah,” tambahnya.IMG_6334

Setelah pemeriksaan selesai, tim membungkus Mata dengan jaring dan membawanya ke tepi jalan. Biasanya tim menggunakan kayu untuk membawa orangutan ke luar dari hutan, namun karena tidak ada kayu sama sekali, maka tim menggotong Mata beramai-ramai.

IMG_6403Sekarang Mata sudah berada di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan YIARI Ketapang untuk mendapat perawatan sebelum dilepaskan ke hutan yang baru.

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit