Mama Nam Kini Huni Taman Nasional Gunung Palung

Senin, 4 April 2016, menjadi momen baru bagi Mama Nam dan Nam. Dia dan anaknya memulai hidup baru di kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Mama Nam adalah individu orangutan berusia sekitar 20 hingga 25 tahun. Bayinya berusia tidak lebih dari lima tahun. BKSDA Kalimantan Barat dan Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang melepaskan induk dan anak orangutan tersebut di Dusun Parit Bugis, Desa Simpang Tiga, Kabupaten Kayong Utara yang termasuk dalam kawasan pengelolaan TNGP.

Ini kali keempat BKSDA dan YIARI Ketapang melakukan pelepasliaran di TNGP. Sebelumnya, Februari 2015, enam individu orangutan dilepaskan di kawasan Batu Barat, menyusul pelepasan 3 individu di kawasan Batu Barat pada Juni 2015 dan pelepasan 6 individu di resort Riam Berasap pada November 2015 lalu. Total, ada 17 individu yang dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

Pelepasliaran ini dihadiri Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Dadang Wardhana. “Dengan dilepasliarkannya orangutan di kawasan TNGP diharapkan kehidupannya lebih terjamin karena kondisi hutannya relatif bagus dan statusnya kawasan konservasi yang dilindungi,” kata Dadang. Dia menambahkan, kerja sama dan partisipasi semua pihak perlu ditingkatkan untuk melindungi populasi serta habitat orangutan dan satwa liar lainnya, baik di kawasan TNGP maupun di hutan yang merupakan daerah penyangganya.

 

Mama Nam saat akan dilepasliarkan di TNGP. Foto: YIARI

 

Mama Nam dan bayinya diselamatkan dari perkebunan karet milik warga di Semanai, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Januari 2016. Ketika diselamatkan kondisi Mama Nam sangat memprihatinkan, tubuhnya kurus kering dengan tulang-tulang yang menonjol.

Tim medis memperkirakan sudah beberapa hari dia tidak makan karena hutannya habis terbakar. Karena kondisinya itu, tim penyelamat memutuskan untuk membawanya ke Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan YIARI di Ketapang untuk mendapatkan perawatan sebelum dipindahkan ke hutan yang layak. “Sangat penting untuk memastikan kondisi kesehatan mereka sebelum mengembalikan mereka ke habitatnya, ujar drh. Ayu Budi Handayani, Manager Animal Care YIARI.

Setelah menjalani rehabilitasi hampir tiga bulan di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan di Ketapang, tim medis menyatakan Mama Nam dan bayinya sudah cukup baik kondisinya untuk dikembalikan ke habitatnya. “Kondisi fisik Mama Nam dan bayinya sudah bagus, berat badannya sudah ideal dan mereka terlihat bugar,” jelas drh Ayu.

Kegiatan yang dimulai dengan pembiusan orangutan sejak pukul 03.00 WIB ini berlangsung sampai pukul 11.00. Dibantu oleh enam orang porter lokal, kegiatan berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Pembukaan kandang dilakukan oleh Ayu Budi dan Dadang Wardhana. Begitu pintu kandang dibuka Mama Nam langsung melesat ke atas pohon sembari menggendong bayinya.

 

Mama Nam kini telah kembali ke habitat alaminya di TNGP. Foto: YIARI

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Kilas Balik Kami di 2020!

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2020. Kami yakin semua di antara kita mengalami hal yang sama, yakni perasaan

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit