Mama dan Dede, Pulang ke Rumah Asalnya di Gunung Sawal

CIAMIS – Pusat penyelamatan dan rehabilitasi primata Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan translokasi (pemindahan) dua individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) ke Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat, Kamis, 1 Oktober 2015. Kukang bernama Mama dan Dede itu merupakan dua individu yang telah melewati masa rehabilitasi di YIARI Ciapus, Bogor. Keduanya adalah satwa hasil operasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat di Tasikmalaya pada tahun 2013.

Tim dalam perjalanan menuju kandnag habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal Ciamis
Tim dalam perjalanan menuju kandnag habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal Ciamis

Kedua primata nokturnal itu dititiprawatkan di pusat rehabilitasi YIARI untuk dipulihkan sifat liarnya supaya bisa dikembalikan ke habitat alaminya. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan medis, proses karantina, dan tahapan rehabilitasi seperti pengenalan pakan alami, akhirnya mereka bisa pulang ke rumah sebenarnya di alam bebas. “Dari hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan Mama dan Dede sehat, tidak membawa penyakit dan kondisi tulangnya bagus. Mereka sudah selesai menjalani masa rehabilitasi sehingga bisa dilepas liar,” ujar staf media YIARI drh. Fitri Yanti.

Sebelum benar-benar dilepas ke alam liar, Mama dan Dede dipasang radio collar terlebih dahulu. Radio collar berfungsi sebagai pengirim sinyal yang nantinya ditangkap oleh antenna dan menimbulkan bunyi di receiver (penerima sinyal). Bunyi yang keluar dari receiver itu memudahkan tim monitoring  untuk menemukan keberadaan kukang nantinya saat pemantauan. Setelah dipasang radio collar, barulah kukang ditranslokasi dari pusat rehabilitasi YIARI Ciapus, Bogor ke kandang habituasi di kawasan Gunung Sawal, Ciamis. Proses translokasi ke kandang habituasi itu merupakan tahapan pra-lepasliar kukang sebelum benar-benar dilepas ke habitat liarnya.

Kandang habituasi atau rumah sementara kukang berada di habitat hutan Gunung Sawal. Bentuknya lahan bundar terbuka dikelilingi fiber plastic, di dalamnya tumbuh berbagai jenis pepohonan hijau untuk pakan dan tempat tidur kukang. Selama sekitar satu bulan, kukang dibiarkan beradaptasi dengan habitat dan pakan alaminya. Staf Survey Release Monitoring (SRM) YIARI Hilmi Mubarok mengatakan dalam kandang habituasi aktivitas kukang dipantau oleh tim monitoring sehingga bisa mengetahui perkembangan perubahan perilakunya.

“Apabila kondisinya bagus dan perilakunya sudah kembali liar barulah kukang itu bisa dilepas ke habitatnya di kawasan hutan Suaka Margasatwa Gunung Sawal,” kata Hilmi.

Pengecekan kondisi Mama dan Dede sebelum lepasliar di kandang habituasi Suaka Margasatwa Gunung Sawal
Pengecekan kondisi Mama dan Dede sebelum lepasliar di kandang habituasi Suaka Margasatwa Gunung Sawal

Suaka Margasatwa Gunung Sawal merupakan bagian dari wilayah pengelolaan Bidang KSDA wilayah III Ciamis dianggap cocok untuk lokasi lepasliar kukang jawa karena kelayakan habitat dan kecocokan pakan kukang. Kawasan hutan gunung seluas 5400 ha itu memiliki keanekaragaman hayati dan ekosistem yang masih terjaga. Banyak flora dan fauna yang masih bisa ditemukan di dalam Suaka Margasatwa tersebut diantaranya: macan tutul, babi hutan, surili, lutung, kukang jawa, dan beberapa elang pegunungan. “Sebelumnya kami sudah melakukan survey kecocokan habitat kukang di Gunung Sawal seperti survei perjumpaan kukang liar, ketersediaan pakan, dan keamanan habitat bagi kukang,” tambah Hilmi.

Translokasi kukang di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal tersebut merupakan kerjasama YIARI dengan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Ciamis, Jawa Barat untuk pelepasliaran dan menjaga populasi kukang jawa sebagai satwa endemik Indonesia yang kini jumlahnya semakin berkurang di alam. “Pelepasliaran kukang ke habitatnya diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi satwa dan ekosistem. Populasi kukang bisa terjaga dan memberi manfaat bagi keseimbangan ekosistem Gunung Sawal,” ujar Kepala Bidang KSDA wilayah III Ciamis Djundjunan Nurzaman.

Kukang merupakan primata endemik Indonesia yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.  Kukang juga dilindungi oleh peraturan internasional dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Ada tiga jenis kukang di Indonesia, kukang jawa, kukang sumatera dan kukang kalimantan. Kukang jawa termasuk dalam kategori kritis, sedangkan kukang sumatera dan kalimantan termasuk dalam kategori rentan dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature).

IMG_5305

Ancaman utama yang dihadapi kukang adalah perburuan dan perdagangan ilegal. Perdagangan terus terjadi karena tingginya permintaan kukang untuk dipelihara. Pengiriman dari pemburu ke pedagang menyebabkan kukang mengalami stress. Di perdagangan, gigi taring kukang dipotong dan itu bisa menyebabkan infeksi pada mulut sehingga nafsu makan berkurang. Hal tersebut membuat kukang lemas, sakit dan berujung kematian. Dengan begitu, jumlah kukang yang yang mati akibat pemeliharaan kian bertambah dan populasi kukang di alam semakin berkurang.

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit