Kukang Jawa Terancam Tinggal Cerita

by in Kliping Media, News, Updates 7 November, 2017

Kukang Jawa yang memiliki nama latin Nycticebus javanicus terancam tinggal cerita. Ancaman kepunahan, Kukang Jawa ini akibat dari perburuan liar dan karena alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan.

“Populasi Kukang Jawa di alam terus mengalami penurunan,” ujar pakar konservasi satwa liar UGM, Muhammad Ali Imron, Jumat (3/11/2017).

Muhammad Ali Imron mengungkapkan Kukang Jawa yang memiliki nama latin Nycticebus javanicus bisa di temukan di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Tren yang ada populasi satwa yang memiliki bahasa latin Nycticebus javanicus mengalami penurunan. Bahkan bisa dikatakan terancam punah.

Meskipun, sampai saat ini belum ada survei pasti mengenai total populasi di seluruh Jawa. Sebab cukup sulit untuk menemukan dan mengamati satwa yang beraktivitas pada malam hari ini.

“Di lokasi penelitian jami di Hutan Kemuning Temanggung saat ini hanya tinggal 8 ekor. Penelitian kami di Kemuning dari 2015 lalu,” tegasnya.

Dia menjelaskan, penyebab utama penurunan populasi Kukang Jawa akibat dari praktik perdagangan ilegal baik secara konvensional maupun secara online untuk pemeliharaan.

Selain itu, hilangnya habitat karena alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan dan fragmentasi hutan turut berkontribusi terhadap menurunnya keberadaan satwa ini.

“Perburuan kukang cukup tinggi, terutama untuk diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan. Ini salah satu yang menjadi penyebab turunya populasi Kukang Jawa di alam liar,” tandasnya.

Padahal, lanjutnya Kukang Jawa adalah salah satu satwa yang dilindungi UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya dan PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Bahkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah memasukan satwa ini dalam kategori kritis atau terancam punah (critically endangered).

Oleh sebab itu, Imron menekankan pentingnya upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap keberadaan kukang yang sudah terancam punah. Masyarakat diharapkan dapat berkontribusi dalam menyelamatkan dan melestarikan di alam dengan cara tidak menjadikannya sebagai hewan peliharaan.

“Di lokasi penelitian, kita memberikan edukasi ke masyarakat dan akhirnya saat ini mereka ikut menjaga keberadaan kukang. Masyarakat sebaiknya memang tidak ikut-ikutan memelihara, biarkan mereka hidup di habitat aslinya,” pungkasnya.

Laporan kontributor Kompascom, Wijaya Kusuma

Leave a Reply

    Cart