Kukang, Bukan Peliharaan

by in Kliping Media, Media, News 29 June, 2015

ayobandung.com – Matanya besar seperti burung hantu. Hidungnya lancip dan basah. Ukuran tubuhnya tidak lebih besar dari seekor anak kucing. Terkadang dia hidup bergelantungan di atas pohon, tapi sesekali dia hidup di atas tanah.

Kukang (Nycticebus sp) memang memiliki penampilan yang menggemaskan.Tapi tentunya dia bukan hewan yang tepat untuk dipelihara di rumah, layaknya kucing atau anjing. Rumah hewan mamalia yang satu ini adalah di hutan dan perkebunan.

Menurut International Animal Rescue, Richard S Moore, ada lima spesies kukang yang hidup di Asia. Dua di antaranya, hidup di Burma dan Vietnam. Sementara tiga spesies tersebar di tiga pulau di Indonesia, yakni Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

“Untuk mengidentifikasinya, kami melihat dari corak pada wajah kukang dan ukuran tubuhnya,” katanya saat Workshop Pengenalan Kukang dan Tantangan Konservasinya di Perum Perhutani Jawa Barat dan Banten, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung.

Hutan primer dan sekunder adalah habitat utamanya. Di sana, kukang bisa menemukan makanannya sendiri. Makanan kukang bukan hanya buah-buahan. Dia tidak memiliki spesifikasi makanan khusus. Terkadang dia memakan serangga. Sesekali dia memakan burung yang ada di atas pohon. Tidak jarang juga dia memakan kadal, bunglon, dan katak.

Bukan hanya daging yang dia konsumsi, nectar pun menjadi panganan favoritnya. Nectar yang paling digemari kukang (Nycticebus sp) adalah bunga Kaliandra Merah.

Hewan yang masih satu kerabat dengan lemur ini tercatat sebagai hewan yang dilindungi.  International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan, kukang (Nycticebus sp) sebagai hewan yang keberadaannya terancam punah.

Kepunahan hewan malam ini bukan hanya disebabkan oleh habitatnya yang kian sempit. Faktor yang mempercepat kepunahan kukang (Nycticebus sp) adalah munculnya komunitas-komunitas pecinta kukang.

Keberadaan komunitas yang tersebar di seluruh Indonesia ini bukan untuk melindungi kukang (Nycticebus sp). Mereka malah memperjualbelikan kukang, layaknya pakaian. Mereka memang memberinya tempat tinggal, tetapi bukan tempat tinggal yang sebenarnya. Para pemelihara  yang mengaku sebagai pecinta ini kerap menempatkan kukang di kandang-kandang sempit, memakaikannya pakaian, layaknya manusia.

Bukan hanya itu, para pemelihara juga kerap memberinya makanan yang bukan makanan alaminya. Kondisi itu membuat karakter asli kukang (Nycticebus sp) berubah. Salah satu contoh perubahan karakter yang paling mencolok adalah, kukang yang biasanya beraktivitas pada malam hari berubah menjadi beraktivitas pada siang hari. Sementara malam hari, dia tidur.

Saat ini kukang (Nycticebus sp) sudah menjadi sebuah komiditi. Karena permintaan tinggi, maka para pemburunya pun kian gencar menangkapnya. Memperjualbelikannya di pasar hewan. Padahal dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya melarang adanya penangkapan dan perdagangan satwa liar.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat mencatat, setidaknya terdapat 247 kasus penyitaan kukang (Nycticebus sp) sepanjang 2013 hingga 2014 silam. Sementara Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mencatat, terdapat 380 kukang yang disita sepanjang 2013 lalu.(mega)

Sumber: AyoBandung

Leave a Reply

    Cart