Memperkuat Jejaring Konservasi di Kongres Primata

by in Blog, Updates 1 October, 2019

Lima delegasi IAR Indonesia berpartisipasi dalam Simposium dan Kongres Primata Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta pada 18-20 September 2019 lalu. Kelimanya membawa beragam topik penting yang tengah menjadi perhatian dalam upaya konservasi primata di Indonesia, khususnya yang selama ini ditangani IAR Indonesia. Topik itu di antaranya adalah penyalahgunaan dan teror senapan angin pada primata.

“Penyalahgunaan senapan angin sebenarnya bukan hal baru. Sejak 2015 hingga 2018 kami mengumpulkan data primata korban senapan angin. Hasilnya dari 83 orangutan yang diselamatkan, enam di antaranya berpeluru. Sementara dari 330 kukang, ada 24 yang berpeluru serta sebanyak delapan monyet ekor panjang ditemukan berpeluru dari 39 yang diselamatkan,” tutur Wendi Prameswari saat mempresentasikan posternya di acara kongres bergengsi tersebut.

Wendi yang juga menjadi Manajer Animal CareIAR Indonesia melanjutkan, hal itu menjadi penting karena hingga kini kasus-kasus serupa masih ditemukan pada primata yang IAR Indonesia selamatkan maupun di lembaga konservasi lainnya. Namun di sisi lain, peraturan yang ada seperti Peraturan Kapolri No 8 Tahun 2012 mengenai penggunaan senapan angin saat ini masih belum tegas diterapkan.

Topik yang dipaparkan delegasi IAR Indonesia lainnya, Ismail Agung Rusmadipraja dalam kongres pekan lalu adalah peran media sosial di kalangan milenial dalam upaya konservasi primata di Indonesia. Menurut Agung, media sosial memiliki pengaruh yang besar untuk membangun persepsi positif dalam mendukung upaya konservasi primata. Apalagi para generasi milenial ini sudah fasih dengan penggunaan sosial media.

“Bak dua mata koin yang dapat menimbulkan efek negatif maupun positif, media sosial tetap menjadi salah satu strategi yang dirasa tepat untuk membangun persepsi generasi milenial dalam upaya konservasi primata. Karena sudah saatnya media sosial bisa menjadi salah satu cara terkini untuk membagikan informasi positif konservasi primata di Indonesia,” ungkap Agung yang juga menjadi pembicara undangan dalam Simposium dan Kongres Primata Indonesia 2019.

Dia melanjutkan, ajakan generasi milenial untuk berpartisipasi aktif dan terlibat menyebarkan pesan-pesan positif terkait konservasi primata ini sangat perlu. Selain itu, penggunaan media sosial dengan bijak ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan jenis-jenis primata lain yang memang selama ini masih belum banyak dikenal dan minim pesan positif konservasinya,

Topik lainnya yang dipaparkan yaitu penanganan barang bukti primata hasil penindakan hukum. Topik ini dipresentasikan oleh dokter hewan IAR Indonesia, Nur Purba Priambada. Purbo akrab ia disapa, dalam presentasinya menjelaskan kondisi-kondisi umum kukang yang menjadi barang bukti pasca-penindakan hukum yang dilakukan petugas penegak hukum. Menurutnya, seperti jenis primata lainnya di Indonesia, kukang korban aktivitas perdagangan ilegal dalam kondisi memprihatinkan.

“Temuan seperti luka, kondisi stres, dehidrasi, lemah, bahkan tak jarang dalam kondisi kritis dan mati acap kali didapati pada kukang barang bukti yang selama ini kita tangani. Belum lagi permasalahan lainnya yang muncul selama penanganan barang bukti. Karenanya dibutuhkan penanganan yang efektif dan efisien sedini mungkin,” tutur Purbo dalam presentasinya.

Penanganan yang dimaksud dapat dimulai dengan melakukan diagnosa, pengobatan, pemisahan satwa sakit dan sehat, yang selanjutnya dapat dijadikan rekomendasi bagi satwa untuk masuk ke perawatan-rehabilitasi lebih lanjut atau segera dilepasliarkan. “Sehingga pada akhirnya dalam penanganan kukang sebagai barang bukti diperlukan prosedur yang tetap memperhatikan kesejahteraan hewan dan konsisten untuk diimplementasikan oleh semua pihak yang terkait,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Robithotul Huda memaparkan mengenai upaya berdamai dan mengharmoniskan kehidupan manusia dengan monyet ekor panjang liar di kawasan urban di Jakarta. Bersama BKSDA Jakarta dan stakeholderlainnya, IAR Indonesia sejak 2010 sudah mengupayakan hidupan harmonis di wilayah urban yang berdekatan dengan habitat monyet ekor panjang.

“Upaya tersebut meliputi edukasi untuk membangun persepsi positif terhadap monyet ekor panjang dan memitigasi singgungan dengan melakukan patroli. Semua itu dilakukan untuk meminimalisir singgungan negatif antara masyarakat dan monyet dengan poin utamanya yakni masalah tersebut dapat terselesaikan tanpa merugikan kedua pihak, dalam hal ini satwa dan manusia,” kata Huda.

Partisipasi IAR Indonesia dalam acara Simposium dan Kongres Primata Indonesia 2019 tentunya menjadi momen reuni antarpegiat konservasi sekaligus bermanfaat untuk membangun dan memperkuat jaringan dengan para ahli-peneliti primata terbaik di Indonesia. “Dengan ini juga kita merasa semakin kuat dan tidak merasa sendiri menghadapi tantangan konservasi primata di Indonesia,” pungkas Wendi.

Simposium dan Kongres Primata Indonesia 2019 tahun ini mengusung tema Primata Indonesia: Identitas Global dan Tantangan Masa Kini dihadiri 188 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka terdiri dari berbagai kalangan seperti ahli primata (primatologi), paraktisi, akademisi, LSM, pegiat dan pemerhati konservasi serta stakeholder.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem-KLHK, Wiratno di sela-sela sambutannya dalam simposium yang berlangsung selama tiga hari itu menyampaikan arahan dan seruan kepada para pihak khususnya pemerhati satwa liar agar bisa melakukan pendekatan serta inovasi-inovasi untuk menyelamatkan satwa liar, khusunya primata Indonesia.

Beragam topik dikemukakan oleh para peserta. Mulai dari aspek ekologi, perilaku, restorasi habitat, rehabilitasi, perdagangan ilegal, upaya konservasi hingga pengembangan ekonomi berkelanjutan dan penerapan biomedis primata Indonesia. Dari berbagai latar belakang aspek itu, semua dipersatukan dalam satu forum yang bertujuan membangun serta menguatkan jaringan para pegiat dan pemerhati untuk pelestarian primata di Indonesia.

Leave a Reply