Konflik Orang Utan-Manusia Makin Mengkhawatirkan

KONFLIK orang utan dengan manusia semakin sering terjadi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Habitat alam yang rusak akibat eksploitasi hutan menjadi penyebab utama konflik.

“Tidak kurang ada tujuh kali gangguan dari orang utan selama sebulan ini. Mereka mengambil pisang, nangka, serta asam kandis di kebun kami, dan melarikannya ke hutan,” kata Salphia, 40, warga Dusun Batupura, Desa Tanjungpura, Ketapang, Selasa (7/6).

Potensi konflik orang utan dengan manusia di Desa Tanjungpura terbilang tinggi karena padatnya populasi primata tersebut. Survei Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada 2014 memperkirakan ada 300 orang utan bermukim di sekitar desa ini. Sementara itu, ketersediaan pakan mereka semakin menipis akibat alih fungsi lahan.

“Kondisi hutan juga banyak terputus (gersang) akibat kebakaran pada tahun lalu, sehingga tidak ada lagi pakan buat orang utan,” ungkap anggota tim mitra YIARI Ketapang Syarifuddin.

YIARI sudah merekomendasikan agar hutan di Desa Tanjungpura tidak dibuka untuk perkebunan kelapa sawit. Hal ini untuk mencegah konflik terbuka antara orang utan dan penduduk setempat. Walaupun ditentang sebagian warga, ekspansi perkebunan kelapa sawit tersebut tetap berjalan sejak akhir tahun lalu.

Kebun kelapa sawit bakal mengonversi 1.400 hektare hutan di desa yang berada di Kecamatan Muara Pawan tersebut. Potensi konflik orang utan dengan warga pun dikhawatirkan meluas seiring legalitas perubahan kawasan.

“Kami khawatir konflik di Desa Tanjungpura semakin parah, seperti yang terjadi di Desa Mayak,” ujar Koordinator Human-Orangutan Conflict Response Team YIARI Juanisa.

Dia mengatakan konflik orang utan dengan warga di Desa Mayak dilaporkan meningkat, yakni dari 40 kasus pada 2014 menjadi 65 kasus pada 2015. Eskalasi konflik terjadi sejak wilayah yang bertetangga dengan Desa Tanjungpura itu dikepung perkebunan kelapa sawit.

Manajer Program YIARI Ketapang Gail Campbell-Smith menyatakan perlu ada upaya untuk menghubungkan hutan-hutan tersisa agar menjadi koridor bagi orang utan. Dengan demikian, mereka dapat berpindah-pindah untuk mencari makan, tapi tetap berada di kawasan hutan dan tidak mengganggu warga.

“Perlu kerja sama dari semua pihak, terutama pemerintah dan pemilik perkebunan kelapa sawit agar skema (rencana) ini segera tercapai,” tegasnya. (OL-2)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/news/read/49411/konflik-orang-utan-manusia-makin-mengkhawatirkan/2016-06-07

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Kilas Balik Kami di 2020!

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2020. Kami yakin semua di antara kita mengalami hal yang sama, yakni perasaan

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit