Kisah penyelamatan Mama Nam, Orangutan yang Kehilangan Habitatnya

Tenda milik Miran, anggota tim Human-Orangutan Conflict Response Team (HOCRT)  masih berdiri di bawah pohon ketika tim penyelamat orangutan dari YIARI datang, Rabu (20/1). Miran sengaja bermalam di bawah sarang orangutan yang akan diselamatkan untuk menjaga agar orangutan ini tidak menganggu kebun warga. Orangutan betina ini berada tidak jauh dari kebun warga karena hutan tempat tinggalnya sudah terbakar habis. Akibatnya orangutan ini menjadi kurus kering karena kehilangan sumber makanannya

Operasi penyelamatan kali ini diawali dari laporan warga bahwa ada dua orangutan, induk dan anak yang berkeliaran di kebun dan memakan pisang milik warga.  Menerima laporan warga, YIARI Ketapang langsung mengirimkan tim Human-Orangutan Conflict Response Team (HOCRT) untuk melakukan verifikasi dan survey.IMG_9095

Tim HOCRT yang dikirim ke lapangan mengkonfirmasi bahwa memang ada dua orangutan yang berada di hutan dekat kebun warga. “Hutan dekat sini sudah habis terbakar, makanya orangutan ini tidak bisa lagi ke mana-mana,” ujar Muhadi, salah seorang anggota tim HOCRT di lapangan. “Makanya dia di sini, cari makan di kebun warga,” imbuhnya. Mendapat laporan verifikasi dari tim HOCRT, YIARI ketapang segera menghubung BKSDA Kalimantan Barat SKW I  Ketapang untuk membahas operasi penyelamatan orangutan.

Operasi penyelamatan ini dimulai sejak pukul 08.00 pagi. Tim HOCRT yang semalaman berkemah di bawah sarang orangutan segera menunjukkan posisi orangutan kepada tim penyelamat. TIM HOCRT memang sudah memonitoring orangutan ini sejak beberapa hari yang lalu.  Tim penyelamat menggunakan senapan bius karena orangutan yang akan dipindahkan adalah orangutan liar.

IMG_9143Perlu 4 kali penembakan bius terhadap orangutan betina berusia sekitar 20-25 tahun ini. Tembakan pertama gagal karena peluru bius mental, tembakan kedua berhasil masuk, namun setelah ditunggu sampe 10 menit, orangutan ini tetap bertahan di atas pohon. Akhirnya drh. Ayu, koordinator tim medis YIARI Ketapang memutuskan untuk memberikan top-up obat bius. Tembakan ketiga tepat sasaran, obat bius masuk ke tubuh orangutan betina yang kemudian diberi nama Mama Nam ini. Namun setelah ditunggu selama 20 menit, Mama Nam tetap bergeming di atas pohon meskipun sudah terlihat sempoyongan.

“Dia sangat kuat dan tidak mau menyerah. Sungguh mengagumkan karena meskipun dia sangat kurus dan lemah, dia masih bertahan dengan kuat karena dia ingin melindungi bayinya. jelas drh. Ayu.  Setelah memperhitungkan dengan matang, akhirnya tembakan keempat menembus pantat Mama Nam dan 5 menit kemudian dia jatuh ke jaring yang sudah dibentangkan oleh tim penyelamat.

Tim medis segera memeriksa kondisi Mama Nam dan bayinya. Kondisi Mama Nam sangat memprihatinkan, tubuhnya kurus kering dengan tulang-tulang yang menonjol. Tim medis memasang infus karena Mama Nam mengalami dehidrasi. “Kelihatannya sudah berhari-hari dia tidak makan,” ujar drh Ayu lagi. Bayinya yang berusia sekitar 2-3 tahun berusaha kabur dan beberapa kali tampak agresif.IMG_9178

Karena kondisinya, tim penyelamat memutuskan untuk membawanya ke Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan (PPKO) YIARI untuk mendapatkan perawatan sebelum dipindahkan ke hutan yang layak. “Ini pasti merupakan yang sangat traumatis bagi orangutan liar. Dia kehilangan habitatnya dengan cepat, kehilangan sumber makanan dan tempat tinggal, kemudian dibius oleh manusia dan dan dibawa ke pusat rehabilitasi.”

IMG_9261Korban kebakaran hutan terus bertambah. Awal tahun ini YIARI telah menyelamatkan 2 individu orangutan setelah tahun 2015 lalu YIARI melakukan tidak kurang dari 44 kali penyelamatan orangutan. “Sangat menyedihkan melihat induk orangutan dan bayinya kelaparan selama berbulan-bulan karena habitatnya habis terbakar,” ujar Karmele, L. Sanchez, Direktur Program YIARI Ketapang. “Kami masih menghadapi akibat dari kebakaran hutan yang terjadi secara besar-besaran di wilayah Ketapang. Kami memperkirakan tahun ini akan ada El Nino yang menyebabkan kemarau panjang. Hal ini tentu berpotensi menyebabkan kebakaran hutan lagi. Saya berharap masyarakat turut membantu memcegah kebakaran hutan sebelum terlambat. Kami tidak tahu seberapa besar kemampuan kami untuk mengatasi pengalaman traumatis menyelamatkan satwa liat dari kebakaran dan melihat habitat mereka terbakar habis sekali lagi,” pungkasnya.IMG_9269

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Event

Kabar Kukang

Kabar Orangutan

Tentang Kami

Yayasan IAR Indonesia merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pascalepasliar. IAR Indonesia juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia.

Ikuti kami

Dapatkan yang terbaru dari kami

Tanpa spam dan hal yang mengganggu lainnya

Lainnya

Kabar Lainnya

Kilas Balik Kami di 2020!

Tak terasa kita sudah berada di penghujung 2020. Kami yakin semua di antara kita mengalami hal yang sama, yakni perasaan

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit