Ketika Laju Perubahan Iklim Semakin Menderu

by in News, Release Berita 28 December, 2019

Oleh: Dewi Ria Utari

Pasca kebakaran yang terjadi di wilayah Ketapang, Kalimantan Barat, pada akhir Juli hingga September 2019, kami di IAR Indonesia menerima sejumlah laporan tentang banyaknya satwa liar dan dilindungi yang berada di wilayah warga. Habitat mereka telah koyak. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain memasuki area manusia untuk mencari makanan. Untunglah setelah selama bertahun-tahun, NGO dan pemerintah bekerja sama untuk melakukan edukasi tentang sikap dan tindakan yang harus diambil ketika melihat satwa liar dan dilindungi, masyarakat secara sadar memberikan laporan kepada pihak berwenang ketika mendapati satwa liar ada di wilayah mereka.

Dari laporan-laporan warga inilah, IAR Indonesia bersama pemerintah terkait, di antaranya BKSDA setempat melakukan penyelamatan satwa. Dari sejak September hingga Desember ini, kami telah menyelamatkan sembilan orangutan dan satu beruang. Sebagian dari mereka telah dilepaskan kembali ke hutan.

Di antara kasus penyelamatan sembilan orangutan tersebut, kami mendapati keberadaan Epen, orangutan betina dewasa yang diselamatkan dari Desa Sungai Besar dua hari setelahnya. “Orangutan betina ini sangat kurus,” jelas Argito Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia. “Sepertinya orangutan ini telah menderita kelaparan selama berbulan-bulan sejak habitatnya terbakar. Kami juga menduga dia kehilangan bayinya karena orangutan ini masih mengeluarkan air susu. Mungkin bayinya mati karena kekurangan nutrisi. Jilka kami tidak segera menyelamatkannya, mungkin dia sudah mati sekarang,” katanya lagi

Pilihan hutan sebagai tempat mereka pulang pun semakin menipis. Kini, mungkin hanya hutan-hutan berstatus taman nasional yang bisa menjadi “rumah aman” bagi para satwa. Tak ada jaminan di masa depan apakah hutan-hutan yang tak mendapatkan status taman nasional, bisa diperuntukkan bagi kepulangan mereka.

“Kehilangan habitat orangutan karena kebakaran adalah ancaman terbesar bagi orangutan saat ini,” ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia. “Sungguh memilukan melihat orangutan korban kebakaran hutan ini yang menderita kelaparan, tidak mempunyai apa pun untuk dimakan, sama seperti yang kita saksikan pada 2015. Meskipun demikian, kekuatan untuk tetap hidup dalam kondisi seperti ini cukup mencengangkan. Bagian yang paling menyedihkan adalah kita tidak bisa menghitung berapa banyak dari orangutan ini yang tidak berhasil bertahan dan akhirnya terbakar dalam kebakaran atau mati perlahan karena kelaparan.”

 

Secara parsial, mungkin kita hanya akan melihat situasi penyelamatan satwa yang terusir dari hutan sebagai habitatnya, sebagai dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sejak pertengahan tahun ini. Namun jika kita bersedia untuk melihatnya secara lebih bijak, karhutla adalah salah satu dari alarm akan perubahan iklim yang tengah terjadi secara global.

Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 90 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi atau bencana yang disebabkan oleh faktor cuaca. Tidak bisa dipungkiri, cuaca ekstrem ini merupakan salah satu dampak perubahan iklim. World Economic Forum pada The Global Risk Report 2019 juga menyatakan, perubahan iklim menempati posisi paling atas sebagai penyebab musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, dan runtuhnya ekosistem. Dengan situasi demikian, kita harus bisa siap untuk bencana kebakaran pada tahun ke tahun berikutnya.

Isu perubahan iklim ini menjadi isu penting dan serius yang dibahas dalam United Nation Climate Change Conference yang berlangsung di Madrid, Spanyol pada 2-13 Desember lalu. Pertemuan yang disebut juga COP25, ini merupakan pertemuan lanjutan para pihak yang hadir pada konvensi PBB tentang perubahan iklim untuk memastikan hasil kesepakatan konvensi tersebut dilaksanakan.

“Kita memerlukan kemauan dan komitmen yang kuat dari semua negara untuk memerangi perubahan iklim. Kebakaran hutan merupakan penghasil rumah kaca terbesar di dunia. Bila kita tidak melindungi hutan yang tersisa, kita tidak hanya akan menderita akibat perubahan iklim, tetapi juga akan menyaksikan keanekaragaman hayati dari Kalimantan, termasuk orangutan, akan musnah,” ujar Karmele.

Penulis penerima banyak penghargaan tingkat dunia, Jonathan Safran Foer menulis dalam buku terbarunya, “We Are The Weather: Saving The Planet Begins at Breakfast”, menyatakan bahwa masalah yang dihadapi dengan krisis yang dialami planet ini, masih banyak dari kita menilai bahwa bencana yang menyertai perubahan iklim – cuaca ekstrem, banjir, kebakaran hutan, hingga kelangkaan sumber daya alam – adalah sesuatu yang abstrak, jauh, dan terisolasi. Mereka yang kerap kali menyangkal keberadaan perubahan iklim, menolak kesimpulan bahwa 97 persen para ilmuwan iklim telah bersepakat bahwa planet ini memanas karena aktivitas manusia.

Di luar para penyangkal ini, di bukunya tersebut, Safran Foer mengajak para pembacanya untuk sama-sama bertanya, bagaimana dengan kita yang mengatakan menerima kenyataan perubahan iklim yang disebabkan manusia? Kita mungkin tidak berpikir bahwa para ilmuwan itu bohong, tetapi apakah kita bisa mempercayai apa yang mereka katakan kepada kita? Keyakinan semacam itu pasti akan menyadarkan kita pada keharusan etis yang mendesak dan melekat, mengguncang hati nurani kita bersama, dan membuat kita bersedia untuk berkorban kecil di masa sekarang untuk menghindari yang dahsyat di masa depan. Bersediakah kita?

Leave a Reply