Kampanye Konservasi Kukang di Indo Pet Expo 2015

TANGERANG – Poster berukuran 60 cm x 40 cm bergambar kukang (Nycticebus sp) tidak bergigi menempel di dinding pameran milik Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dalam acara Indo Pet Expo, Jumat, 11 September 2015 lalu. Di dalam booth berukuran 2 m x 4 m itu dipasang informasi mengenai primata nokturnal kukang atau disebut malu-malu.

Pengunjung membaca informasi mengenai penderitaan kukang yang dipajang di stand YIARI dalam acara Indo Pet Expo 2015, di Indonesia Convention Exhibiton, BSD City Tangerang
Pengunjung membaca informasi mengenai penderitaan kukang yang dipajang di stand YIARI dalam acara Indo Pet Expo 2015, di Indonesia Convention Exhibiton, BSD City Tangerang

Banner panjang bergambar kukang dipasang di sudut dinding lain berdampingan dengan back drop bertuliskan #savekukang.  Video singkat pemotongan gigi kukang juga diputar oleh tim kampanye YIARI di acara pameran hewan peliharaan yang digelar oleh Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) itu.

11-13 September 2015 lalu, tim kampanye YIARI melakukan sosialisasi tentang kukang  kepada para pecinta hewan peliharaan yang hadir di acara Indo Pet Expo di Indonesian Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai, Tangerang.

Indo Pet Expo merupakan  pameran pertama mengenai hewan kesayangan dan para pelaku yang berkiprah dalam industri terkait. Dalam pameran itu, pengunjung dipertemukan dengan komunitas pencinta hewan, dokter hewan, klinik, rumah sakit hewan, salon hewan, serta para penyedia pakan dan obat-obat hewan.

 

 

Dalam kesempatan itweb edu, YIARI juga berkesempatan untuk melakukan edukasi dan memberikan penyadartahuan mengenai satwa liar khususnya kukang. Berbagai material kampanye mengenai kukang dan tantangan konservasinya di tampilkan di dalam booth YIARI. Salah satunya video pemotongan gigi kukang oleh pedagang yang membuat pengunjung meringis ngeri saat menontonnya.  Pemasangan material kampanye itu bertujuan untuk mengenalkan kukang yang kini jumlah populasinya kian berkurang di alam karena perburuan dan perdagangan untuk dijadikan hewan peliharaan.

“Mas, kenapa gigi kukangnya dipotong?”  tanya Faradilla, seorang pengunjung booth dari Yogyakarta setelah menonton video pemotongan gigi.  Edukator YIARI yang bertugas memberikan penyadartahuan kemudian menjelaskan mengenai penderitaan kukang yang saat ini banyak dieksploitasi menjadi hewan peliharaan.

“Saat ditangkap oleh pemburu, diperdagangkan hingga sampai ke pemelihara, kukang mengalami banyak penderitaan. Salah satunya gigi kukang dipotong  potongan kuku atau tang supaya kukang itu tampak jinak. Padahal, itu menyebabkan gusi kukang mengalami infeksi, nafsu makan berkurang karena nyeri, kukang lemas dan berujung kematian,” ujar Relawan Edukator YIARI, Adi Wicaksono.

Adi mengatakan kukang merupakan satwa endemik Indonesia yang dilindungi. Menurut Undang-undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, barang siapa yang memiliki dan memelihara satwa yang termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh negara maka akan diberikan sanksi tegas berupa sanksi pidana maksimal 5 tahun penjara dan denda maksimal 100 juta.

2015_09_11 pengunjung edukasi

“Menurut badan konservasi dunia IUCN (international Union Conservation Nation) kukang Jawa (Nycticebus javanicus) dalam kategori vulnareble (rentan), sedangkan menurut CITES (Convention On International Trade In Endagered species of Wild Fauna and Flora) memasukkan kukang dalam kategori apendix I yang artinya spesies tersebut dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional,” ujar dia.

Namun, saat ini marak sekali perdagangan kukang untuk peliharaan.  “Bahkan alasan menyelamatkan dijadikan alasan oleh pemelihara yang mengklaim kasihan melihat kukang dipajang di pasar hewan hingga akhirnya mereka membeli satwa endemik Indonesia tersebut.  Padahal, membeli kukang dari perdagangan itu bukan solusi untuk menyelamatkan mereka dari penderitaan. Bantu stop rantai perdagangan kukang dengan tidak membeli dan tidak memelihara,” kata Adi.

Setelah mendapat edukasi, Faradilla yang mulanya tidak tahu bahwa ternyata kukang mengalami penderitaan panjang jika dipelihara, menjadi peduli dan membantu menyebarluaskan informasi tersebut kepada teman-temannya. “Ternyata kukang menderita ya kalau dipelihara, rumahnya satwa liar itu ya di alam bukan dikandang,” katanya. Dia kemudian turut serta kampanye konservasi kukang dengan menyebarkan  foto dirinya  memegang quote tag ‘sayang kukang = tidak pelihara’.

Talk Show YIARI dan BKSDA DKI Jakarta di Indo Pet Expo 2015, 11 September 2015
Talk Show YIARI dan BKSDA DKI Jakarta di Indo Pet Expo 2015, 11 September 2015

Selain edukasi kepada pengunjung dan kampanye dengan photo booth, YIARI bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta juga menjadi pembicara Talk Show mengenai ‘Sayang Kukang, Tidak Pelihara’. Dalam talkshow dibahas mengenai peran komunitas pemelihara yang mendorong kepunahan kukang.

“Pemelihara kukang yang berkumpul dan menjadi komunitas itulah yang menjadi masalah utama maraknya perdagangan dan perburuan, untuk itu kami megimbau kepada komunitas pecinta hewan  untuk turut aktif kampanye tidak pelihara kukang dan tidak memelihara satwa liar lainnya,” ujar Budi Mulyanto, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA DKI Jakarta.

Dia juga mengingatkan para peserta talk show untuk melaporkan ke BKSDA atau kepolisian di wilayah terdekat apabila melihat perdagangan satwa liar khususnya kukang. “Mohon partisipasi semua pihak untuk memutus rantai perdagangan kukang. Laporkan jika melihat perdagangan kukang, biarkan jika melihat kukang di hutan atau kebun,” katanya.

Pada hari terakhir, Minggu, 13 September 2015, YIARI membuka program ‘Penerimaan Pengembalian Kukang’ on the spot. YIARI membuka kesempatan bagi para pemelihara yang terlanjur memelihara kukang untuk mengembalikannya ke alam. Komunitas Kukangku memfasilitasi program tersebut dengan menyiapkan web khusus penerimaan pengembalian kukang di kukangku.org sebagai media pendaftaran.

 

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit