Induk Baru Bagi Bayi Orangutan Yatim Piatu

by in Media, News, Updates 13 April, 2020

Jauh di jantung Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, pintu kandang transport terbuka perlahan. Monti yang menggendong anak asuhnya melangkah keluar, pelan tapi pasti menuju kebebasannya. Awal Februari ini menjadi saat yang bersejarah ketika Monti mencecap kebebasan sejati setelah lebih dari 10 tahun menjalani proses rehabilitasi di IAR Indonesia. Lebih istimewa lagi karena di rumah barunya ini Monti ditemani anak angkatnya yang didapat selama masa rehabilitasi.  Proses Panjang ini harus dilalui Monti untuk menguasai kemampuan bertahan hidup di alam sebagai orangutan.

Salah satu tantangan terbesar dalam upaya rehabilitasi orangutan adalah tidak adanya buku panduan yang pasti bagaimana cara dan tatalaksana merehabilitasi orangutan dan mengembalikan perilaku serta kemampuan alaminya untuk hidup bertahan di hutan. Proses rehabilitasi merupakan proses panjang yang memakan waktu, tenaga dan upaya yang tidak sedikit. Proses ini dapat mencapai 7-8 tahun bahkan lebih tergantung kemampuan masing-masing individu.

Proses rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami mereka sekaligus membuat mereka memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat aslinya. Orangutan akan hidup bersama induknya sejak lahir sampai usia 6-8 tahun. Selama masa asuh inilah, orangutan seharusnya mempelajari berbagai kemampuan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Namun karena berbagai sebab, bayi orangutan ini terpisah dari induknya dan berakhir di tangan manusia sehingga kehilangan kesempatan untuk mempelajari segala kemampuan tersebut.

Salah satu terobosan yang dilakukan IAR Indonesia untuk mempercepat proses rehabilitasi orangutan adalah memberikan induk asuh bagi bayi orangutan yatim piatu yang menjalani rehabilitasi. Strategi yang pertama kali dilakukan pada pertengahan tahun 2018 ini dilakukan kepada orangutan dewasa bernama Muria dan bayi orangutan bernama Zoya.

Pasangan Induk-anak asuh bernama Muria dan Zoya yang dilepasliarkan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya tawal tahun 2019 lalu.

Muria dulunya merupakan orangutan betina yang dipelihara oleh seorang warga di Ketapang selama ±3 tahun. Muria mulai menjalani proses rehabilitasi di IAR Indonesia pada Juni 2014. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama 4 tahun, Muria yang sudah menguasai semua kemampuan hidup di alam ini menjadi induk asuh bagi Zoya, bayi orangutan berumur 1 tahun yang terpisah dari induknya pada akhir tahun 2017 lalu. Zoya merupakan bayi orangutan yang masih memerlukan induknya sehingga tim rehabilitasi mencarikan induk asuh untuk Zoya. Muria yang dinilai mempunyai naluri sebagai seorang ibu menjadi kandidat kuat dan diperkenalkan dengan Zoya pada Juni 2018. Hasilnya cukup menggembirakan karena keduanya menunjukkan perkembangan yang positif.

Setelah dinilai mampu pulang kembali ke habitat aslinya, Muria dan Zoya dilepasliarkan di dalam kawasan TNBBBRdi Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat pada Februari 2019. Karena orangutan ini adalah orangutan hasil rehabilitasi, IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring yang akan memantau kehidupan mereka di rumah barunya. Hasilnya, selama lebih dari 1 tahun ini, keduanya dapat beradaptasi dengan cepat dan dapat hidup dengan baik di rumah barunya.

Kisah Monti dan Anggun menjadi kisah sukses selanjutnya. Monti merupakan orangutan berusia 12 tahun yang diselamatkan dari Desa Sungai Awan Kiri di Kabupaten Ketapang pada November 2009 sedangkan Anggun yang berusia 3 tahun diselamatkan pada tahun 2012 di Desa Sungai Melayu, Kabupaten Ketapang. Untuk mempercepat proses rehabilitasi, tim animal management IAR Indonesia mencarikan induk asuh untuk Anggun.

Monti yang sudah menjalani rehabilitasi selama lebih dari 10 tahun ini dianggap cocok dipasangkan dengan Anggun sebagai induk asuhnya. Harapannya, Monti bisa mengajari Anggun berbagai kemampuan yang diperlukan untuk bertahan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Monti juga bisa menjadi pelindung bagi Anggun yang bertubuh mungil. Strategi ini berhasil. Monti menjadi induk yang protektif dan Anggun menjadi lebih percaya diri untuk mempelajari hal-hal baru.

Monti bersama anak asuhnya yang bernama Anggun di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia di Ketapang

Monti sejauh ini telah memenuhi dan bahkan melampaui semua harapan sebagai ibu asuh. Dia sangat baik, lembut, dan peduli dengan bayinya, Anggun. Anggun juga telah berperan dalam membantu rehabilitasi Monti karena Anggun adalah orangutan yang tidak bergantung pada manusia yang selalu berada di atas pohon. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di kanopi hutan sehingga membuat Monti mengikutinya ke atas pohon. Saat ini Monti dan Anggun juga telah menjalani kehidupan barunya di TNBBBR, dibawah pengawasan tim monitoring dan dokter hewan yang selalu siaga untuk memastikannya dapat hidup tengan aman dan nyaman di rumah barunya.

Direktur Program IAR Indonesia mengatakan bahwa ini adalah bukti bahwa orangutan juga bisa menjadi ibu angkat untuk orangutan lainnya. “Hal ini bukan hanya mengkonfirmasi bahwa orangutan adalah satwa cerdas yang mirip dengan manusia, tetapi juga ini juga membuktikan bahwa meskipun orangutan seperti Monti kehilangan induknya pada usia yang masih sangat muda, dia mampu untuk menjadi induk yang baik, bukan hanya dengan anak sendiri, tetapi juga dengan bayi orangutan lainnya,” jelasnya. Selama setahun ini, berdasarkan hasil pemantauan, keduanya dapat beradaptasi dengan baik dan bertahan hidup di dalam Kawasan taman nasional. “Kami sangat gembira melihat orangutan Muria dan anak angknya, Zoya yang telah berhasil hidup di hutan selama 1 tahun. Ini menjadi bukti pertama bahwa benar proses rehabilitasi bisa dilakukan oleh orangutan itu sendiri,” tambahnya lagi.

Leave a Reply