Immanuel Peter Sumarsono: Mengelola Pusat Pembelajaran dengan Penuh Dedikasi

by in Media 1 October, 2019

Sebagai Pusat Pembelajaran Lingkungan terbesar dan pertama di Ketapang, Sir Michael Uren Learning Centre Ketapang, tidak sedikit kegiatan seminar, lokakarya, pelatihan, sosialisasi, dan berbagai kegiatan konservasi dilakukan di situ. Sejak dibuka secara resmi pada 10 Juli 2019, Sir Michael Uren Learning Center ini menjadi kiblat pembalajaran konservasi. Membicarakan berbagai kegiatan yang diadakan di Learning Center (LC) ini tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok Immanuel Peter Sumarsono. Pria kelahitan Malang, 38 tahun yang lalu ini menjabat sebagai Supervisor Learning Center Sir Michael Uren Ketapang.

Berbekal pengalamannya sebagai executive housekeeper di salah satu hotel ternama di Indonesia, Peter bertanggungjawab untuk membantu operasional LC secara keseluruhan, membuat penganggaran operasional dan fasilitas, mengontrol operasional (baik untuk mempersiapkan ruang rapat dan kamar), serta menjaga dan merawat aset di LC. Selain itu, bersama dengan kempat stafnya, dia juga bertanggungjawab untuk menyediakan makan siang bagi 120 staf IAR Indonesia setiap harinya.

Meskipun demikian, kesibukannya sebagai supervisor di LC ini tidak membuatnya abai dengan  divisi lain dan lingkungan sekitar IAR Indonesia. Selama dua bulan terakhir ini, IAR Indonesia disibukkan oleh kebakaran hutan dan lahan. Meskipun belum genap setahun menjadi staf IAR Indonesia, bapak tiga anak ini menjadi salah satu orang tersibuk di antara satgas pemadam IAR Indonesia.

Selama dua bulan berjibaku melawan api, Peter sudah pernah menjadi garda terdepan memegang nozzle berhadapan langsung dengan api, menjaga mesin pemadam, menyediakan logistik, mengontrol dan menyimpan alat pemadam, sampai membungkus nasi dan menyediakan makanan bagi 80 orang satgas Karhutla Ketapang Unit Utara pun pernah dilakokinya. Tidak jarang Peter baru pulang larut malam dan kembali bekerja kesokan paginya untuk memastikan kegiatan operasional di LC berjalan dengan baik. “Untung anak istri bisa memahami kondisi dan tidak mempermasalahkan hal ini,” ujarnya. “Motivasinya ya ingin bantu saja, masa kawan-kawan sedang susah kita diam saja. Pokoknya tetap ikhlas dan pantang pulang sebelum padam,” ujarnya menambahkan.

Menurutnya tantangan paling besar ketika memadamkan api adalah ketika angin berbalik arah dan apinya mengarah ke tim pemadam. “Pernah waktu itu tiba-tiba arah angin berbalik sehinggal api, asap, dan hawa panas ke arah kita. Langsung kita lari. Waktu malam pun juga menjadi tantangan tersendiri karena kondisi gelat membuat tim susah mencari jalan dan celah.”

Pria yang merantau ke Ketapang sejak 2006 ini berharap masalah kebakaran hutan segera selesai dan bisa kembali fokus untuk mengelola LC. “Saya berharap api segera padam, sehingga kita bisa fokus lagi ke kegiatan-kegiatan pembelajaran di LC, dan semoga dengan semakin banyak orang mengenal LC untuk kegiatan konservasi dengan visi misinya, dan dengan demikain pesan-pesan konservasi bisa bergaung lebih jauh lagi,” jelasnya

 

Heribertus Suciadi

Leave a Reply