Gunung Tarak, Rumah Baru bagi Orangutan Korban Kebakaran

by in News, Release Berita 24 January, 2020

Hutan Lindung Gunung Tarak kembali menjadi rumah bagi orangutan yang diselamatkan dari hutan yang rusak terbakar di Kabupaten Ketapang. Setelah sebelumnya menjadi tempat pelepasaan orangutan jantan bernama Junai, kali ini HL Gunung Tarak menjadi rumah baru bagi orangutan betina yang diberi nama Epen. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan melepaskan Epen di dalam kawasan HL Gunung Tarak pada Senin, 20 Januari 2020.

Sebelumnya Epen di selamatkan di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, pada penghujung November 2019. Ketika diselamatkan kondisinya sangat kurus dan mengalami malnutrisi akibat kekurangan makan selama berapa bulan. Epen juga diduga mempunyai bayi karena orangutan ini masih menghasilkan air susu. Ketika menjalani pemeriksaan dan perawatan untuk memulihkan kondisinya, tim medis menemukan adanya peluru yang bersarang pada punggung dan paha Epen.

Setelah sebulan menjalani perawatan di IAR Indonesia yang memiliki fasilitas rehabilitasi bagi satwa liar terutama orangutan, Epen dinilai siap untuk kembali hidup di habitat alaminya. Kedua peluru di paha dan punggung diputuskan tak diambil dengan pertimbangan bahwa peluru ini tidak berdampak signifikan terhadap kondisi kesehatannya.

Hutan lindung yang dikelola olah Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan ini sudah menjadi tempat pelepasan orangutan sejak tahun 2014. Total sudah ada 16 orangutan yang sudah dilepaskan di kawasan ini. Berdasarkan hasil survey habitat dan populasi, lokasi ini cocok untuk menjadi tempat pelepasan orangutan. Selain karena jumlah jenis pakannya yang tinggi, populasi asli orangutan di kawasan inipun masih termasuk rendah.

Selain itu, di dalam kawasan seluas kurang lebih 24.000 juga terdapat stasiun monitoring orangutan dan patroli yang dikelola oleh IAR Indonesia sebagai bagian dari prosedur yang ditetapkan IAR Indonesia dalam program pelepasliaran orangutan. Staf yang menjalankan kegiatan monitoring orangutan dan patrol hutan ini berasal dari dusun-dusun di sekitar HL Gunung Tarak. Belasan staf ini secara bergantian bertugas untuk memastikan keselamatan dan kehidupan orangutan yang dilepaskan di dalam kawasan ini.

Pernyataan Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez, Memberikan kesempatan kedua bagi orangutan merupakan hal yang sangat membahagiakan dan penuh harapan. Meskipun kehilangan habitat karena kebakaran hutan dan alihfungsi lahan untuk perkebunan dan pertanian, orangutan ini mendapatkan kesempatan kedua untuk bisa kembali hidup di habitat aslinya. Semuanya ini berkat kerjasama yang baik antara IAR Indonesia, BKSDA Kalbar dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat.

Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T. “Sudah saatnya manusia harus berubah. Sudah waktunya manusia mulai sadar bahwa mereka sedang membunuh dirinya pelan-pelan. Semua bencana alam, konflik satwa dan lain-lain hanyalah pesan. Pesan yang disampaikan oleh alam bahwa kehidupan sedang bermasalah dan tidak baik-baik saja. Perusakan habitat satwa, yakni hutan, pada akhirnya akan menyengsarakan manusia juga. Ingat lah bahwa konflik-konflik satwa dan manusia hanyalah pesan bahwa kita bersama sama sedang menuju pada kepunahan. Selain itu, kawasan yang di pilih sebagai lokasi pelepasliaran sudah dilakukan observasi dalam penentuan sumber makanan bagi Epen untuk melanjutkan hidup di alam bebas, serta memungkinkan untuk berkembang biak, mengingat ada individu orangutan lain yang juga terdeteksi berada di sekitar lokasi pelepasliaran.”

Pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimatan Barat, Ir. ADI YANI, MH

“Orangutan merupakan spesies “payung” dalam sebuah ekosistem, yang memiliki peran besar dalam menjaga ekosistem secara luas dikarenakan daya jelajah mereka luas dan berdampak positif terhadap kelestarian ekologi yang ada di lokasi tempat hidupnya. Ditemukannya orangutan bernama “Epen” dalam kondisi yang memprihatinkan disebuah lahan perkebunan sawit menandakan bahwa akibat dari pembukaan hutan berdampak terhadap kelangsungan hidup spesies payung ini. Kami berterima kasih kepada pihak YIARI yang secara cepat tanggap menangani dan merehabilitasi epen sampai pada kondisi yang baik dan siap untuk dilepasliarkan. Hutan Lindung Gunung Tarak merupakan lokasi yang masih terjaga untuk pelepasliaran ini, selain itu Hutan Lindung Gunung Tarak memiliki interkoneksi dengan Taman Nasional Gunung Palung yang merupakan lokasi besar tempat hidupnya spesies orangutan. Maka dari itu kita berharap agar epen dapat segera beradaptasi dengan baik dan hidup sebagai hewan yang bebas seperti sediakala. Kami berpesan kepada semua pihak, marilah kita menjaga alam…niscaya alam akan menjaga kita.”

Leave a Reply