International Animal Rescue http://www.internationalanimalrescue.or.id Perlindungan Habitat dan Pelestarian Satwa Liar Wed, 01 Jul 2020 08:40:42 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.7 http://www.internationalanimalrescue.or.id/wp-content/uploads/2019/07/cropped-IAR-siteicon-512-32x32.png International Animal Rescue http://www.internationalanimalrescue.or.id 32 32 Kala Hidup Jakaria Untuk Kesejahteraan Kukang http://www.internationalanimalrescue.or.id/kala-hidup-jakaria-untuk-kukang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kala-hidup-jakaria-untuk-kukang http://www.internationalanimalrescue.or.id/kala-hidup-jakaria-untuk-kukang/#respond Wed, 01 Jul 2020 06:41:49 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=10003 Sekilas rupa, dia tampak seperti orang kebanyakan. Perawakannya sedang, dengan wajah mudah tersenyum. Sosoknya juga kerap melempar gurauan di kala senggang. Dia adalah Jakaria (38). Sejak 2009 silam, Jakaria menjadi perawat satwa dan menangani kukang-kukang yang bernasib tidak beruntung di bawah perawatan pusat rehabilitasi IAR Indonesia di Bogor, Jawa Barat. Meski tidak memiliki latar belakang sebagai seorang ahli, dedikasinya sebagai perawat kukang tak diragukan. Kemampuan yang kini ia miliki pun dimulainya dari nol.

Bagi dia, merawat kukang bukan sekadar pekerjaan biasa. Butuh nyali besar untuk memulainya. Karena konsekuensi nyata yang timbul dari pilihan itu, selain riskan tergigit kukang, bersiap tidak bisa menikmati jam tidur seperti orang pada umumnya akan menjadi rutinitas sehari-hari. Hal itu bukan tanpa dasar. Kukang merupakan primata nokturnal atau aktif di malam hari, yang menantang dirinya untuk bisa ikut menyesuaikan kehidupan kukang.

“Mulanya memang sulit untuk beradaptasi dengan jam tidur yang tidak biasa. Tapi demi misi memberikan kesejahteraan bagi kukang yang bernasib tak beruntung, apapun tantangannya perlahan dapat teratasi,” ungkapnya.

Berkat giatnya, Jakaria kini begitu piawai menangani kukang yang berada dalam masa pemulihan. Dari menyiapkan pakan, treatment kandang, mengamati perilaku hingga melakukan handling. Khusus handling, jika tak pandai, bukan tidak mungkin kukang dapat melukai tangannya dengan sekali gigitan.

“Saya sudah tidak mengingat persis berapa kali digigit kukang, tidak terhitung,” ujar dia seraya berusaha mengingat kembali momen pertamanya digigit kukang. Namun begitu, yang paling persis Jakaria iingat adalah saat efek gigitannya tidak hanya membuat tangannya terluka, tapi juga membuatnya sulit tertidur menahan nyeri.

Jakaria (kanan) saat membantu tim medis memeriksa kondisi kukang di pusat rehabilitasi IAR Indonesia.

Selama sekitar satu dekade, pria kelahiran Bogor 38 tahun silam ini menjadi perawat kukang. Dalam kurun waktu itu juga dia banyak mengenyam pelajaran dan pengalaman penting yang membuatnya menjadi seperti saat ini. Dia bahkan mengaku, perasannya dengan kukang sudah begitu terikat. Sebagian besar dari sekitar 150 individu kukang yang tengah menjalani perawatan dan pemulihan di pusat rehabilitasi, mampu ia kenali. Dari bentuk fisik, perilaku, hingga karakter tertentu pada setiap indvidu.

“Terlebih jika kukang itu sudah lama tinggal dan berada di pusat rehabilitasi, saya tahu persis karakter dan keseharian mereka,” tambah dia. Kendati begitu, selamanya tinggal di pusat rehabilitasi bukanlah harapan dirinya terhadap kukang-kukang itu. Sebab sejatinya, kukang harus hidup di tempat yang sesungguhnya. Mereka memiliki hak yang sama dengan makhluk hidup yang lain. Seperti tempat tinggal yang aman di habitat, mendapatkan pakan alami, bebas berekspresi dan melangsungkan hidup generasinya tanpa ada gangguan.

Namun kenyataan selama ini berkata lain. Sampai saat ini masih ada kukang yang masuk ke sini dengan beragam kondisi. Ada yang cukup baik, tapi tak sedikit yang memprihatinkan karena menjadi korban pedagangan ilegal atau telah lama menjadi hewan peliharaan. Karenanya butuh waktu yang relatif panjang untuk merawat dan memulihkan mereka.

Untuk itu, dia bersama timnya berusaha maksimal untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan kesejahteraan kukang-kukang selama di bawah perawatan IAR Indonesia. “Meski tak seperti hutan, tempat tinggal mereka yang menyediakan beragam kebutuhannya, saya selalu menaruh harapan penuh agar mereka dapat menikmati kebebasannya kembali setelah selesai menjalani masa pemulihan. Upaya keras ini semata hanya untuk memberikan kesempatan kehidupan kedua bagi mereka,” pungkas dia.

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/kala-hidup-jakaria-untuk-kukang/feed/ 0
Apa kabar Kukang: Refleksi 10 Tahun IAR Indonesia Menyelamatkan Kukang http://www.internationalanimalrescue.or.id/apa-kabar-kukang-refleksi-10-tahun-iar-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=apa-kabar-kukang-refleksi-10-tahun-iar-indonesia http://www.internationalanimalrescue.or.id/apa-kabar-kukang-refleksi-10-tahun-iar-indonesia/#respond Tue, 30 Jun 2020 02:58:21 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=9951 Tidak mudah, itu adalah kata yang tepat untuk mereflesikan bagaimana upaya penyelamatan kukang yang dilakukan oleh Yayasan IAR Indonesia selama satu dekade terakhir. Dinamika yang muncul begitu beragam dan menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi.

Oleh: Ismail Agung Rusmadipraja

Sebagai pusat rehabilitasi kukang pertama di Indonesia, saat itu tidak banyak acuan dan literatur yang bisa digunakan untuk menangani perawatan kukang di pusat rehabilitasi. Namun karena itu pula, IAR Indonesia akhirnya bisa membuat sebuah standar prosedur komperehensif yang ideal untuk diterapkan oleh lembaga-lembaga lain di pusat penyelamatan satwa lainnya.

Sejak 2008, IAR Indonesia memfokuskan programnya untuk membantu merawat kukang yang menjadi korban perburuan, perdagangan dan pemeliharaan. Selama itu pula, lebih dari 1.000 individu kukang pernah menjalani perawatan di pusat rehabilitasi yang berlokasi di Curug Nangka, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Permasalahan yang kerap terjadi pada kukang di tahun-tahun pertama itu sangat tinggi. Di mana angka perdagangannya mencapai 7.000 individu per tahun. Fakta tersebut menjadi dasar bagi lembaga konservasi dunia (IUCN) mengkategorikan status kepunahan satwa untuk meratifikasi ulang status kukang (terutama kukang jawa) menjadi Kritis (Critically Endangered), yang berarti satu tingkat di bawah punah.

Hingga kini, status tersebut masih bertahan setelah lebih dari satu dekade berlalu.

Meski data mengenai angka perdagangan kukang telah mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir yaitu sekitar 2.000 individu per tahun, namun populasi di alam tetap masih dalam ancaman dan tanda tanya besar. Berapa lagi yang masih tersisa dan sampai kapan akan bertahan. Pertanyaan ini tetap menjadi misteri karena masih minimnya penelitian di lapangan.

Penuh tantangan

Upaya yang dilakukan IAR Indonesia di awal dekade memang penuh dengan tantangan. Mulai dari fasilitas yang belum memadai, jumlah kukang yang masuk, hingga kondisi kesehatan satwa yang tak sepenuhnya baik.

Idealnya, fasilitas pusat rehabilitasi hanya mampu menampung 100 individu kukang. Kapasitas ini tak hanya dipengaruhi oleh area yang terbatas pada lahan seluas 1 hektar, akan tetapi juga dipengaruhi oleh SDM tenaga medis dan perawat satwa. Daya tampung yang ideal akan berdampak pada kesejahteraan satwa yang menjadi etika dasar dalam memperlakukan satwa.

Kasus penegakan hukum yang terjadi di tahun 2013 merupakan kasus terbesar dalam sejarah kejahatan perdagangan kukang. 238 individu kukang sumatera berhasil diselamatkan, lalu dititiprawat di pusat rehab IAR Indonesia.

Kehadiran ratusan kukang secara tiba-tiba tentu tidak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas yang ada. Meski begitu, IAR Indonesia tetap berusaha untuk memberikan perawatan kepada seluruh kukang, dengan kata lain, tim harus bekerja ekstra untuk itu semua.

Menyembuhkan yang sakit

Di setengah dekade pertama, 70% kukang yang diterima oleh IAR Indonesia berada dalam kondisi kesehatan yang buruk. Seperti, rusaknya gigi akibat dipotong paksa, malnutrisi, infeksi kulit, cacingan dan sederet kasus kesehatan lainnya. Tidak semua kukang dengan kondisi buruk tersebut bisa bertahan lama, beberapa di antaranya seakan mampir hanya untuk berpamitan, sebelum tindakan medis sempat diberikan.

Selain gigi yang dipotong oleh pedagang, tingginya angka kasus kesehatan kukang besar dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan. Pemberian pakan yang tidak sesuai, kebersihan kandang, hingga interaksi antara pemelihara dan satwa.

Di IAR Indonesia, proses menyembuhkan kukang harus melalui prosedur yang panjang. Semua itu dilakukan agar kukang bebas dari luka maupun penyakit yang mungkin diidap.

Untuk memastikan hal tersebut, selama dua minggu pertama di pusat rehab, kukang akan melalui proses karantina dan juga pemeriksaan. Mulai dari cek fisik, hingga cek laboratorium.

Satu individu kukang menjalani pengecekan fisik dan pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.

Dengan menggunakan mesin x-ray, pemeriksaan fisik kukang tidak hanya sekedar kasat mata. Kondisi tulang tulang yang bengkok menjadi catatan penting bahwa kukang peliharaan tumbuh dengan perlakuan dan nutrisi buruk. Belum lagi masalah baru yang akhir-akhir ini sering ditemukan, teror senapan angin.

Dari hasil pemeriksaan fisik tersebut akan ditentukan apakah perlu dilakukan tindakan medis seperti operasi atau lolos menuju tahap berikutnya.

Pemeriksaan laboratorium juga tak kalah pentingnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak adanya penyakit zoonosis yang berpotensi menular kepada manusia atau satwa lainnya. Dalam hal ini uji darah dan tubercolosis harus dilakukan karena kukang peliharaan rentan terpapar penyakit.

Proses pemeriksaan kesehatan di atas hanya bagian dari keseluruhan rangkaian perawatan, yang tentunya membutuhkan biaya besar dan tak sebanding dengan angka perdagangannya.

Menyiapkan pulang ke habitat

Tidak semua kukang memiliki kesempatan untuk bisa kembali ke habitatnya. Kondisi fisik yang cacat menjadi penilaian utama dalam penentuan ini. Hal ini berkaitan dengan kemampuan kukang untuk bertahan hidup di alam liar nantinya.

Kukang-kukang tanpa gigi adalah salah satu kondisi yang rentan jika harus dilepasliarkan. Meski secara insting liar, mereka akan kesulitan untuk mempertahankan diri dari serangan predator, ataupun kukang liar di alam. Termasuk pula kemampuan mereka mencari pakan alami yang bersumber dari batang kayu keras.

Bukan itu saja, kukang yang terlalu lama dalam pemeliharaan menunjukkan perilaku abnormal yang sulit untuk dipulihkan. Perubahan perilaku satwa tersebut tentu akan menyulitkan jika ia harus dilepaskan kembali ke alam.

Mengembalikan insting liar satwa tentu tidak mudah. Perlu perlakuan-perlakuan khusus yang diberikan untuk merangsang kembali insting mereka. Oleh karena itu, pengayaan selama perawatan sangat dibutuhkan agar naluri kukang terdorong ke sifat liarnya.

Aktivitas dan perilaku kukang selama di kandang perawatan perlu dipantau dengan metode ilmiah, sehingga hasil yang didapat menjadi sebuah evaluasi dalam penentuan kelayakan pelepasliaran.

Tak ada standar yang pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan kukang selama direhabilitasi. Ada yang cepat, ada juga yang lama. Semua itu kembali kepada kemampuan individu satwa.

Kini, ada 160 individu kukang yang menjadi bagian perawatan pusat rehab IAR Indonesia. 120 lebih di antaranya akan dirawat hingga akhir hayat. Sisanya menanti harapan terwujud untuk bisa pulang ke habitatnya dan kembali berperan bagi alam.

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/apa-kabar-kukang-refleksi-10-tahun-iar-indonesia/feed/ 0
Memulihkan Hutan Hujan untuk Generasi Masa Depan http://www.internationalanimalrescue.or.id/memulihkan-hutan-hujan-untuk-generasi-masa-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=memulihkan-hutan-hujan-untuk-generasi-masa-depan http://www.internationalanimalrescue.or.id/memulihkan-hutan-hujan-untuk-generasi-masa-depan/#respond Tue, 30 Jun 2020 02:37:12 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=9977 Belum pudar dari ingatan ketika pada akhir Juli 2019, selepas makan siang bersama, kami mendadak disibukan dengan informasi adanya kebakaran besar, tidak jauh dari lokasi hutan rehabilitasi orangutan IAR Indonesia Desa Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang. Asap hitam pekat membubung ke udara menyesakan napas, serpihan arang dan abu beterbangan dibawa angin memerihkan mata. Sejak hari itu, selama hampir dua bulan penuh, kami berjuang sekuat tenaga memadamkan api yang berkobar siang dan malam.

Lahan Restorasi Sungai Deras yang terbakar

Dibantu dengan berbagai pihak mulai dari TNI, Polisi, Pemda, BPBD, BPK, Damkar, dan masyarakat sekitar, kami akhirnya berhasil menghentikan si jago merah sebelum bisa menyentuh sekolah hutan kami, tempat orangutan rehabilitasi menghabiskan waktunya untuk mengasah kemampuan bertahan hidup di alam sebagai orangutan.
Api memang telah padam, namun dampaknya mengerikan dan masih terasa hingga saat ini. Kebakaran ini turut menghancurkan rumah bagi ribuan spesies tumbuhan dan ratusan jenis burung dan mamalia. Sebagian besar adalah satwa langka seperti macan tutul, beruang madu, burung enggang, trenggiling, dan orangutan Kalimantan. Sejak kebakaran 2019 ini, belasan orangutan telah diselamatkan dari kawasan yang terbakar dan jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah. Orangutan-orangutan malang ini dengan putus asa mencari makan di kebun warga dan seringkali menyebabkan konflik dengan manusia.Walaupun berhasil diselamatkan dan dipindahkan ke hutan yang lebih aman, hal ini bukanlah solusi utama atas permasalahan konflik manusia-orangutan. Kabar buruk lainnya, 98% lahan restorasi kami di Sungai Deras di dalam kawasan Hutan Desa  yang kami bangun sejak tahun 2017 untuk mengembalikan hutan hujan yang hancur karena kebakaran 2015 habis terbakar oleh kebakaran 2019 ini.

Sejumlah staf restorasi IAR Indonesia merawat bibit pohon hutan di dalam rumah pembibitan Sungai Deras di dalam kawasan Hutan Desa Pematang Gadung

Meskipun demikian, kami tidak putus asa. Pelan tapi pasti, kami tetap melanjutkan komitmen kami untuk memulihkan hutan yang hancur. Untuk menyelamatkan hutah hujan yang tersisa serta keanekaragan hayati di dalamnya, IAR Indonesia terus bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pematang Gadung dan Balai Taman Nasional Gunung Palung melakukan proyek restorasi di Hutan Desa Pematang Gadung dan Hutan Lindung Gunung Tarak di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.

Sampai saat ini, kami telah berhasil menanam lebih dari 40 ribu bibit pohon hutan di lahan seluas 75 hektar. Jumlahnya akan terus bertambah dengan adanya ribuan bibit pohon yang sudah siap tanam. Selain penting untuk mengembalikan hutan dan membantu orangutan dan spesies lainnya , proyek ini juga penting sebagai mata pencaharian alternatif bagi warga desa. Proyek restorasi ini melibatkan serta memberikan pekerjaan kepada puluhan orang sebagai pencari bibit tanaman hutan, penyemai, penanam, serta perawat pohon sampai berusia 2 tahun. Proyek restorasi ini sempat meraih penghargaan utama dalam kategori Lingkungan dan Konservasi di Charity Awards 2019, sebuah penghargaan paling bergengsi dan telah lama dilakukan di sektor amal. Penghargaan yang diberikan di London Tower ini dianugerahkan ke IAR untuk proyek restorasi di Kalimantan untuk melindungi orangutan Kalimantan dan spesies yang terancam punah lainnya.

 

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/memulihkan-hutan-hujan-untuk-generasi-masa-depan/feed/ 0
Bioslurry, Harapan Baru Para Petani Masa Kini http://www.internationalanimalrescue.or.id/bioslurry-harapan-baru-para-petani-masa-kini/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bioslurry-harapan-baru-para-petani-masa-kini http://www.internationalanimalrescue.or.id/bioslurry-harapan-baru-para-petani-masa-kini/#respond Tue, 30 Jun 2020 02:30:22 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=9993 Kiah dan Siti tampak tersenyum sembari memanen cabai di kebun mereka di Desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Sebagai petani sayur mayur, mereka juga menanam buncis, oyong, kacang panjang, jagung , dan timun. Mereka bersama empat petani lainnya mengaku hasil panennya bertambah banyak setelah menggunakan produk turunan biogdigester yang disebut bioslurry.

Bioslurry merupakan hasil turunan yang diperoleh dari proses fermentasi kotoran ternak (sapi) dan air di dalam kubah biodigester secara anaerobic (tanpa oksigen). Bioslurry dapat dijadikan sebagai pupuk organik kaya nutrisi sehingga sangat baik untuk diaplikasikan ke lahan dan tanaman budidaya. Bioslurry baik padat maupun cair dapat dimanfatkan sebagai pupuk, campuran pestisida atau fungisida organik, bahan campuran untuk pakan ternak, sampai sebagai bahan tambahan dalam meningkatkan ketersediaan hara bagi fitoplankton di kolam budidaya ikan.

Pelaksana teknis biodigester Desa Pematang Gadung mengisi kubah bidogester dengan kotoran ternak

Pendampingan pengolahan biogigester ini merupakan salah satu bentuk program community development melalui pemberdayaan masyarakat kearah pertanian yaitu pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik, penerapan pertanian adaptif dan pendampingan petani. Harapannya dari beberapa kegiatan tersebut masyarakat secara sadar untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan yang berkelanjutan demi kesehatan mereka sendiri. IAR Indonesia tidak hanya fokus pada upaya penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran dan monitoring satwa dilindungi, namun fokus pula terhadap pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan. Pemberdayaan tersebut ditujukan agar aktivitas masyarakat teralihkan dari dalam hutan ke luar hutan. Secara langsung adanya pengalihan aktivitas masyarakat melalui kegiatan (pekerjaan) tanpa merusak ekosistem hutan memberikan berkontribusi dalam kegiatan konservasi. Selain itu, aktivitas yang mereka lakukan juga memberikan manfaat atau keuntungan secara ekonomi, sosial dan kesehatan.

Pengembangan ekonomi masyarakat yang digerakkan di Desa Pematang gadung melalui biodigester memberikan dampak positif terhadap warganya. Dampak positif tersebut diantaranya adalah termanfaatkannya limbah kotoran sapi, adanya pemasukan tambahan bagi pemilik sapi, pekerjaan tambahan dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat yang terlibat serta keaktifan masyarakat desa. Dampak ini tentunya memberikan kontribusi terhadap konservasi lingkungan dimana masyarakat tidak lagi melakukan aktivitas illegal walaupun hal ini belum menyentuh seluruh elemen masyarakat. Pemanfaatan biodigester melalui hasil turunannya berupa bioslurry ditujukan agar memiliki nilai jual. Nilai inilah yang kedepannya akan didorong menjadi suatu usaha melalui BUMDes agar memberikan keuntungan ke semua pihak baik berupa material maupun non material. Selain itu, pemanfaatan bioslurry ke demplot pertanian memberikan nilai tambah berupa daya tarik atau promosi produk yang telah terbukti nyata. Di mana masyarakat sekitar dapat melihat langsung bagaimana pertumbuhan dan hasil budidaya ketika mengaplikasikan bioslurry sebagai pupuk. Secara langsung, demplot pertanian menjadi langkah awal dalam memperkenalkan produk yang dikembangkan oleh kelompok usaha Saripati kepada masyarakat luas.

Pelaksana teknis biodigester Pematang Gadung menyaring dan mengeringkan bioslurry padat

Berdasarkan hasil pengamatan tanaman yang diaplikasian pupuk bioslurry menunjukkan bahwa adanya peningkatan kesuburan tanah dan  pertumbuhan tanaman. Peningkatan ini berupa seringnya interval pemanenan dan bertambahnya bobot  buah atau sayur sehingga berdampak pada peningkatan hasil panen dan pendapatan. Selain dimanfaatkan sebagai pupuk oleh petani sekitar, sebagian pupuk bioslurry dijual sebagai tambahan penghasilan pengelola teknis biodigester. Nantinya kegiatan yang dilakukan untuk menunjang adanya usaha penjualan tersebut adalah pengadaan kemasan penjualan pupuk dan analisis usaha.

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/bioslurry-harapan-baru-para-petani-masa-kini/feed/ 0
Perjalanan Baru Orangutan Yatim Piatu http://www.internationalanimalrescue.or.id/perjalanan-baru-orangutan-yatim-piatu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perjalanan-baru-orangutan-yatim-piatu http://www.internationalanimalrescue.or.id/perjalanan-baru-orangutan-yatim-piatu/#respond Tue, 30 Jun 2020 02:18:56 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=9971 Siang sudah menjelang ketika dokter hewan IAR Indonesia tampak berhati-hati menggendong bayi orangutan kecil keluar dari kandang karantina di Pusat Penyelamatan dan Konservasi IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Kalimantan Barat. Bayi orangutan jantan bernama Batis ini akhirnya menyelesaikan masa karantinanya sejak diselamatkan tim gabungan IAR Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi (SKW) I Ketapang di Dusun Sabang Keramat, Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu sungai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat pada 17 April silam. Saat ini Batis sudah selesai menjalani proses karantina selama 8 minggu di kandang karantina di Pusat Penyelamatan dan Konservasi orangutan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang.

Semua pemeriksaan medis selama masa karantina sudah selesai dilakukan. Hasilnya, Batis dinyatakan sehat dan bebas dari segala penyakit oleh tim medis. Karena usianya yang masih sangat belia, Batis ditempatkan di dalam kandang monitoring dan belum bisa bergabung dengan orangutan yatim piatu lainnya di sekolah hutan. Sembari dipantau, tim medis dan babby sitter IAR Indonesia juga membimbing Batis untuk pelan-pelan belajar memanjat dan menggunakan daun dan ranting sebagai alas tidur. Hal ini penting sebagai bekal Batis untuk bisa hidup di habitat aslinya nanti sebagai orangutan sejati.

Batis di dalam kandang monitoring

Dengan usia kurang dari 10 bulan, Batis adalah orangutan termuda di dalam pusat penyelamatan dan konservasi IAR Indonesia saat ini dan kisahnya menambah panjang daftar orangutan yang terpaksa harus masuk ke pusat rehabilitasi karena kehilangan induknya. Dalam setiap kasus pemeliharaan orangutan, hampir bisa dipastikan bahwa induknya mati. Kehilangan induk semua ini tentu menimbulkan trauma dan menghilangkan kesempatan bagi bayi orangutan untuk berlajar bertahan hidup secara alami di habitat aslinya. Bayi orangutan seharusnya tinggal bersama induknya selama 6-8 tahun untuk mempelajari segala kemampuan bertahan hidup dari induknya sebelum mereka bisa lepas dan hidup mandiri tanpa induknya.

Proses rehabilitasi ini membutuhkan waktu bertahun-tahun dan biaya yang tidak sedikit. Untuk mempercepat proses rehabilitasi Batis, tim IAR Indonesia berencana untuk mencarikannya induk asuh untuk Batis. Strategi semacam ini mempunyai banyak keuntungan dan telah terbukti keberhasilannya. Beberapa pasang induk-anak orangutan asuh telah berhasil menjalai rehabilitasi dan bersama-sama dilepasliarkan di habitat aslinya di dalam kawasan Taman Nasional dan Hutan Lindung.

Guru terbaik bagi orangutan adalah orangutan. Dengan adanya induk asuh ini, Batis bisa belajar bagaimana memanjat, mencari makan, dan membuat sarang langsung dari orangutan yang sudah menguasai kemampuan ini. Selain itu, Batis juga bisa mendapatkan kasih sayang dan afeksi yang tidak bisa didapatnya dari ibu kandungnya.

Di sisi lain, pemeliharan satwa liar memang sudah saatnya dihentikan. Selain mengancam kelestarian satwa liar, perilaku tidak bertanggungjawab seperti ini juga beresiko membahayakan manusia dengan penyakit yang mungkin dibawa oleh satwa liar. Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez menegaskan, “Sudah saatnya kita semua menghentikan pemeliharaan satwa liar baik orangutan maupun satwa lainnya yang seharusnya tetap tinggal di hutan. Orang yang menemukan atau melihat orangutan dan satwa liar lainnya di tempat yang tidak semestinya harus segera melaporkannya ke pihak berwajib.” “Kita tidak pernah tahu virus, bakteri, atau penyakit apa yang bisa dibawa oleh satwa liar dan ditularkan ke manusia. Jika masyarakat tidak mau bekerja sama menyerahkan orangutan, maka diperlukan penegakan hukum, sebab hal ini bukan lagi sekadar isu konservasi spesies atau kesejahteraan satwa melainkan isu kesehatan manusia secara global,” tandasnya.

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/perjalanan-baru-orangutan-yatim-piatu/feed/ 0
IAR Indonesia Berduka Atas Wafatnya Reinhard Behrend, Pendiri Rainforest Rescue http://www.internationalanimalrescue.or.id/iar-indonesia-berduka-atas-wafatnya-reinhard-behrend-pendiri-rainforest-rescue/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=iar-indonesia-berduka-atas-wafatnya-reinhard-behrend-pendiri-rainforest-rescue http://www.internationalanimalrescue.or.id/iar-indonesia-berduka-atas-wafatnya-reinhard-behrend-pendiri-rainforest-rescue/#respond Thu, 11 Jun 2020 06:59:42 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=9960 Sahabat, kami berduka atas kepergian pendiri Rainforest Rescue, Reinhard Behrend. Tidak ada kalimat untuk mengungkapkan kesedihan yang kami rasakan saat ini. Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga dan semua anggota Rainforest Rescue di masa sulit seperti ini.

Kami mengingat sosok Reinhard sebagai seorang pria yang hebat, baik hati dan merupakan pendukung besar pekerjaan kami selama bertahun-tahun. Reinhard membantu kami dalam memberikan kebebasan sejati bagi orangutan yang telah diselamatkan di rumah hutan hujan mereka. Tidak hanya itu, Reinhard juga mendukung peningkatkan mata pencaharian masyarakat lokal di sekitar kawasan hutan, dan berjuang untuk melindungi hutan hujan kita beserta satwa di dalamnya.

Kami yakin, Reinhard akan sangat dirindukan oleh banyak orang. Ia akan dikenang sebagai sosok yang mengobarkan semangat kebaikan bagi lingkungan, yang berjuang tanpa lelah untuk melindungi lingkungan secara global dan hutan hujan kita. Kami akan terus berjuang untuk menyelamatkan hutan hujan Indonesia dan melindungi keanekaragaman hayati yang mereka lindungi atas namanya.

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/iar-indonesia-berduka-atas-wafatnya-reinhard-behrend-pendiri-rainforest-rescue/feed/ 0
Lowongan Kerja – Staf Senior Keuangan dan Akunting – Bogor, Jawa Barat http://www.internationalanimalrescue.or.id/lowongan-kerja-staf-senior-keuangan-dan-akunting-bogor-jawa-barat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lowongan-kerja-staf-senior-keuangan-dan-akunting-bogor-jawa-barat http://www.internationalanimalrescue.or.id/lowongan-kerja-staf-senior-keuangan-dan-akunting-bogor-jawa-barat/#respond Wed, 10 Jun 2020 06:05:41 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=9968 DIBUTUHKAN SEGERA

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yayasan IAR Indonesia/YIARI) adalah organisasi nirlaba yang bergerak dibidang penyelamatan, rehabilitasi dan konservasi satwa liar, termasuk satwa liar dilindungi Indonesia.  Yayasan IAR Indonesia memfokuskan kegiatannya pada satwa primata, khususnya: kukang, monyet ekor panjang dan beruk di Pusat Rehabilitasi Satwa IAR Ciapus, Bogor, Jawa Barat; dan orangutan di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan YIARI, Ketapang, Kalimantan Barat.  Yayasan IAR Indonesia juga terlibat dalam program pendidikan dan penyadartahuan yang menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk memperlakukan semua hewan dengan kasih dan kepedulian.

YIARI membuka lowongan untuk posisi sebagai Staf Senior Keuangan dan Akunting, yang akan ditempatkan di Pusat Rehabilitasi Satwa YIARI Bogor, Jawa Barat.

Tugas Utama

  • Mengelola dana sedemikian rupa untuk memaksimalkan sumber dana atas program kerja dan meminimalkan risiko, dan memastikan bahwa struktur kontrol yang memadai.
  • Memberikan masukan kepada bagian lain tentang perencanaan program yang tepat dan membantu dalam proses pengambilan keputusan untuk memastikan bahwa program sukses secara finansial. Melibatkan pemberian nasihat tentang investasi, tabungan, pensiun atau produk asuransi.

Tugas dan Tanggungjawab

  • Menyusun, menyiapkan, dan menafsirkan laporan, anggaran, akun, komentar, dan laporan keuangan.
  • Melakukan analisis strategis dan membantu dengan perencanaan strategis.
  • Membantu membuat rencana program jangka panjang.
  • Melakukan penelitian tentang penetapan harga, pesaing dan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja.
  • Mengontrol pendapatan, arus kas, dan pengeluaran.
  • Mengelola anggaran.
  • Mengembangkan dan mengelola sistem / model keuangan.
  • Melakukan pemodelan dan penilaian risiko.
  • Melakukan fungsi pengawasan.
  • Berhubungan dengan staf manajerial dan kolega lainnya.
  • Memberikan laporan penggunaan anggaran dan menafsirkan informasi keuangan kepada staf manajerial sambil merekomendasikan tindakan lanjutan.
  • Memberi saran tentang kegiatan investasi dan memberikan strategi yang harus diambil organisasi .
  • Menjaga kesehatan keuangan organisasi.
  • Menghasilkan laporan keuangan terkait dengan anggaran, uang muka, hutang dagang, piutang dagang, pengeluaran dll
  • Meninjau, memantau, dan mengelola anggaran
  • Mengembangkan strategi yang berfungsi untuk meminimalkan risiko keuangan

Kualifikasi

  • Pendidikan Sarjana dibidang keuangan atau akuntansi, atau pengalaman bisnis/organisasi nirlaba yang setara dan 5 tahun bekerja pada perusahaan bisnis/organisasi nirlaba.
  • Keterampilan komunikasi yang baik sangat penting, terutama dalam hal mempresentasikan hasil analisis kepada manajemen.
  • Menguasai Microsoft Office
  • Lebih diutamakan dan disukai mempunyai kualifikasi seperti dibawah ini:
    • Cara berpikir yang analitis
    • Kemampuan negosiasi dan kemampuan untuk mengembangkan hubungan kerja yang kuat
    • Kemampuan dalam komersial dan bisnis/nirlaba
    • Keahlian komunikasi bahasa Inggris yang baik, baik lisan maupun tertulis
    • Kemampuan untuk mengamati detail dan keinginan untuk menyelidiki lebih lanjut
    • Kemampuan untuk berpegang pada batasan waktu

Kirimkan surat lamaran dan daftar riwayat hidup  (CV) paling lambat tanggal 15 Juli 2020 ke :

Email: informasi@internationalanimalrescue.org / yayasaniarindonesia@gmail.com

Dengan Subjek “Staf Senior Akunting”

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/lowongan-kerja-staf-senior-keuangan-dan-akunting-bogor-jawa-barat/feed/ 0
Kelahiran Generasi Baru Orangutan di Gunung Tarak Hutan Penyangga TN Gunung Palung http://www.internationalanimalrescue.or.id/kelahiran-generasi-baru-orangutan-di-gunung-tarak-hutan-penyangga-tn-gunung-palung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kelahiran-generasi-baru-orangutan-di-gunung-tarak-hutan-penyangga-tn-gunung-palung http://www.internationalanimalrescue.or.id/kelahiran-generasi-baru-orangutan-di-gunung-tarak-hutan-penyangga-tn-gunung-palung/#respond Wed, 22 Apr 2020 02:04:02 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=9936 Kabar gembira datang dari Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat. Di tengah pandemi Covid-19, orangutan hasil rehabilitasi bernama Susi telah melahirkan bayi orangutan dengan selamat pada akhir bulan Maret 2020 ini.  Bayi orangutan yang diberi nama “Sinar” oleh Ibu Menteri LHK ini berjenis kelamin betina dan merupakan bayi orangután kedua yang lahir di Gunung Tarak yang berbatasan langsung dengan wilayah TANAGUPA.

Susi bersama bayinya yang bernama Sinar di dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Kelahiran bayi orangutan Susi pertama kali diketahui oleh tim monitoring yang terdiri dari Balai TANAGUPA, KPH Ketapang Selatan dan YIARI yang telah memantau perkembangan Susi di hábitat alaminya selama empat tahun terakhir. Berdasarkan pantauan dokter hewan di lapangan, bayi orangutan berjenis kelamin betina ini nampak sehat dan aktif menyusu pada induknya. Susi juga menunjukan afeksi dan perhatiannya dengan menyusui anaknya dengan baik.

Susi bersama bayinya yang bernama Sinar di dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Orangutan Susi sebelumnya merupakan orangutan peliharaan yang berhasil diselamatkan oleh Balai KSDA Kalimantan Barat bersama YIARI di Pontianak pada tanggal 30 Juli 2011. Kondisi Susi cukup memprihatinkan pada saat diselamatkan, rantai yang terpasang di leher selama bertahun tahun oleh pemiliknya telah menyebabkan luka infeksi terbuka, bernanah dan mengeluarkan bau tak sedap. Bahkan setelah diperiksa terdapat karet yang tertanam di kulit lehernya. Setelah melalui masa rehabilitasi yang cukup panjang, Susi dilepasliarkan di hutan lindung Gunung Tarak pada tanggal 20 Mei 2016, lokasi yang berbatasan langsung dengan area TANAGUPA.

Kondisi Susi ketika diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi di Pontianak, Kalimantan Barat

Kondisi Susi sebelum diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi

Ir. Wiratno, M.Sc. Direktur Jenderal KSDAE menyatakan bahwa “keberhasilan pelepasliaran orangutan hasil rehabilitasi ini merupakan salah satu bukti kekuatan kerjasama antar stakeholder konservasi orangutan yang ada di Kalimantan Barat, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Masyarakat juga LSM”. Orangutan merupakan spesies “payung” dalam sebuah ekosistem, yang memiliki peran besar dalam menjaga ekosistem secara luas dikarenakan daya jelajah mereka luas dan berdampak positif terhadap kelestarian ekologi yang ada di lokasi tempat hidupnya dengan menyebar biji ke wilayah hutan”. “Tidak hanya itu, masyarakat sekitar lokasi rehabilitasi juga telah banyak terlibat dalam kegiatan ini mulai dari merawat satwanya, melepasliar hingga memantau satwa di habitat alaminya. Mudah mudahkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan orangutan semakin tinggi”, tambahnya.

Ari Wibawanto,S.Hut,M.Si, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung. “Kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang berbatasan langsung dengan Hutan Lindung Gunung Tarak, memiliki peran penting dalam keberhasilan program ini terutama dari keamanan kawasannya. Kawasan konservasi TANAGUPA yang memiliki jenis pakan orangutan yang melimpah mempunyai andil besar untuk mendukung keberlangsungan hidup orangutan yang dilepasliarkan.”

drh. Karmele l. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.” “Saya tidak pernah akan lupa ketika kami harus membuka rantai dari leher Susi, kami sangat sedih melihatnya. Sekarang, rasanya sangat menggembirakan melihat orangutan yang dulunya hidup terkekang dan menderita kini bisa hidup dengan bebas dan bahkan mampu berkembangbiak di habitat aslinya. Selama menjalani perawatan dan rehabilitasi, kondisi Susi makin membaik, tidak hanya fisik tapi juga mental. Susi juga terbukti mampu beradaptasi dan menjadi orangutan sejati di rumah barunya di Gunung Tarak.”

Ir. H. Adi Yani, MH. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prov. Kalbar menyampaikan bahwa pemerintah provinsi Kalimantan Barat telah mengambil kebijakan penting terkait penyelamatan habitat dan koridor satwa dilindungi dengan menetapkan hutan lindung Gunung Tarak sebagai Kawasan Ekosistem Esensial melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Barat no. 718/Dishut/2017 tanggal 17 November 2017 tentang Penetapan Kawasan Ekosistem Esensial di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat. Hutan lindung Gunung Tarak merupakan kawasan penyangga dari Taman Nasional Gunung Palung yang merupakan lokasi besar tempat hidupnya spesies orangutan,” jelasnya lagi. Beliau juga menyampaikan bahwa dengan terjaganya ekosistem satwa-satwa dilindungi maka keseimbangan alam yang ada akan terjaga hingga berdampak positif terhadap kualitas hidup masyarakat secara luas, dimana seperti kita ketahui bahwa provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di pulau Kalimantan yang dikenal secara internasional sebagai paru-paru dunia.

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/kelahiran-generasi-baru-orangutan-di-gunung-tarak-hutan-penyangga-tn-gunung-palung/feed/ 0
Potensi Penularan Penyakit melalui Pemeliharaan Satwa Liar, BKSDA dan IAR Selamatkan Bayi Orangutan dari Pemeliharaan Ilegal http://www.internationalanimalrescue.or.id/potensi-penularan-penyakit-melalui-pemeliharaan-satwa-liar-bksda-dan-iar-selamatkan-bayi-orangutan-dari-pemeliharaan-ilegal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=potensi-penularan-penyakit-melalui-pemeliharaan-satwa-liar-bksda-dan-iar-selamatkan-bayi-orangutan-dari-pemeliharaan-ilegal http://www.internationalanimalrescue.or.id/potensi-penularan-penyakit-melalui-pemeliharaan-satwa-liar-bksda-dan-iar-selamatkan-bayi-orangutan-dari-pemeliharaan-ilegal/#respond Tue, 21 Apr 2020 09:00:04 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=9928 Di tengah wabah penyakit Covid-19 yang ditenggarai berawal dari satwa liar, kasus pemeliharaan illegal satwa liar dilindungi masih juga terjadi. Perbuatan yang tidak hanya melanggar hukum namun juga berisiko meningkatkan penularan penyakit dari hewan ke manusia dan sebaliknya ini masih ada di Kabupaten Ketapang. Padahal kontak langsung dengan satwa liar dapat menularkan berbagai penyakit serius yang dapat membahayakan manusia. Tidak hanya bagi pemelihara, namun masyarakat di sekitarnya juga turut menanggung resiko ini.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama dengan IAR Indonesia kembali menyelamatkan satu individu bayi orangutan peliharaan dari Dusun Sabang Keramat, Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu sungai, kabupaten Ketapang, Jumat (17/4).

Bayi orangutan yang dipelihara warga Desa Batu Lapis, Ketapang, kalimantan Barat

Bayi orangutan jantan ini dipelihara oleh seorang warga bernama Bumeng selama 3 bulan. Pemiliknya mengaku tidak sengaja menemukan bayi orangutan ini sendirian di tepi hutan. Awalnya Bumeng mendengar suara aneh di hutan tempatnya bekerja. Karena penasaran, Bumeng mencari sumber suara dan menemukan bayi orangutan sendirian tanpa induknya. Setelah menunggu beberapa jam, induk orangutan ini tidak muncul dan Bumeng berinsiatif membawanya pulang untuk dipelihara.

Bayi orangutan yang diberi nama Batis ini dipelihara warga selama 3 bulan

Selama dipelihara, orangutan yang diberi nama Batis ini ditempatkan di dalam kandang kecil berukuran 80x80x50cm. Oleh pemiliknya, orangutan ini diberi makan nasi putih, pisang, pepaya dan tebu dan diberi minum kopi dan air putih. Batis tidak pernah dikeluarkan dari kandang. Makan dan minum diberi dikandang saja. Pemeliharaan ilegal yang tidak memperhatikan kebersihan dan kesejahteraan satwa ini turut menyumbang potensi munculnya penyakit.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara oleh dokter hewan IAR Indonesia di lapangan, kondisi kesehatan orangutan berusia lebih dari 6 bulan terlihat cukup baik, tidak nampak ada kelainan maupun gejala dehidrasi. Namun untuk memastikan kondisinya, Batis harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Saat ini Batis sudah berada di kandang karantina di Pusat Penyelamatan dan Konservasi orangutan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Karantina ini akan dilakukan selama 8 minggu. Pemeriksaan lebih mendalam juga akan dilakukan beberapa kali selama masa karantina untuk memastikan Batis tidak membawa penyakit yang bisa menular ke manusia ataupun orangutan lain di pusat rehabilitasi.

Pemeliharaan satwa liar seperti ini memang seharusnya tidak lagi terjadi. Selain mengancam kelestarian satwa liar, perilaku tidak bertanggungjawab seperti ini juga beresiko membahayakan manusia dengan penyakit yang mungkin dibawa oleh satwa liar. Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez menegaskan, “Sudah saatnya kita semua menghentikan pemeliharaan satwa liar baik orangutan maupun satwa lainnya yang seharusnya tetap tinggal di hutan. Orang yang menemukan atau melihat orangutan dan satwa liar lainnya di tempat yang tidak semestinya harus segera melaporkannya ke pihak berwajib.” “Kita tidak pernah tahu virus, bakteri, atau penyakit apa yang bisa dibawa oleh satwa liar dan ditularkan ke manusia. Jika masyarakat tidak mau bekerja sama menyerahkan orangutan, maka diperlukan penegakan hukum, sebab hal ini bukan lagi sekadar isu konservasi spesies atau kesejahteraan satwa melainkan isu kesehatan manusia secara global,” tandasnya.

Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta: “Sebagian besar masyarakat sudah paham bahwa orangutan merupakan satwa dilindungi dan memeliharanya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Namun rupanya pemahaman masyarakat masih perlu ditingkatkan lagi terkait dengan kasus-kasus penyerahan satwa liar kepada pihak yang berwenang. Beberapa kesalahan kasus penyerahan satwa liar seringkali diawali dengan temuan satwa liar oleh masyarakat di pinggir hutan yang sebenarnya memang merupakan habitat atau wilayah jelajah mereka. Dalam kasus seperti ini mestinya masyarakat perlu diingatkan bahwa satwa liar yang berada di habitatnya atau di ruang jelajah mereka tidak harus ditangkap. Opsi yang bisa diambil antara lain menggiring kembali ke dalam hutan. Dan tentu saja bila perlu melibatkan ahlinya atau pihak yang berwenang. Menangkap, memelihara dan selanjutnya menyerahkan ke pihak yang berwenang tidak selalu menjadi langkah yang tepat”.

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/potensi-penularan-penyakit-melalui-pemeliharaan-satwa-liar-bksda-dan-iar-selamatkan-bayi-orangutan-dari-pemeliharaan-ilegal/feed/ 0
Induk Baru Bagi Bayi Orangutan Yatim Piatu http://www.internationalanimalrescue.or.id/induk-asuh-orangutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=induk-asuh-orangutan http://www.internationalanimalrescue.or.id/induk-asuh-orangutan/#respond Mon, 13 Apr 2020 04:10:07 +0000 http://www.internationalanimalrescue.or.id/?p=9864 Jauh di jantung Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, pintu kandang transport terbuka perlahan. Monti yang menggendong anak asuhnya melangkah keluar, pelan tapi pasti menuju kebebasannya. Awal Februari ini menjadi saat yang bersejarah ketika Monti mencecap kebebasan sejati setelah lebih dari 10 tahun menjalani proses rehabilitasi di IAR Indonesia. Lebih istimewa lagi karena di rumah barunya ini Monti ditemani anak angkatnya yang didapat selama masa rehabilitasi.  Proses Panjang ini harus dilalui Monti untuk menguasai kemampuan bertahan hidup di alam sebagai orangutan.

Salah satu tantangan terbesar dalam upaya rehabilitasi orangutan adalah tidak adanya buku panduan yang pasti bagaimana cara dan tatalaksana merehabilitasi orangutan dan mengembalikan perilaku serta kemampuan alaminya untuk hidup bertahan di hutan. Proses rehabilitasi merupakan proses panjang yang memakan waktu, tenaga dan upaya yang tidak sedikit. Proses ini dapat mencapai 7-8 tahun bahkan lebih tergantung kemampuan masing-masing individu.

Proses rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami mereka sekaligus membuat mereka memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat aslinya. Orangutan akan hidup bersama induknya sejak lahir sampai usia 6-8 tahun. Selama masa asuh inilah, orangutan seharusnya mempelajari berbagai kemampuan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Namun karena berbagai sebab, bayi orangutan ini terpisah dari induknya dan berakhir di tangan manusia sehingga kehilangan kesempatan untuk mempelajari segala kemampuan tersebut.

Salah satu terobosan yang dilakukan IAR Indonesia untuk mempercepat proses rehabilitasi orangutan adalah memberikan induk asuh bagi bayi orangutan yatim piatu yang menjalani rehabilitasi. Strategi yang pertama kali dilakukan pada pertengahan tahun 2018 ini dilakukan kepada orangutan dewasa bernama Muria dan bayi orangutan bernama Zoya.

Pasangan Induk-anak asuh bernama Muria dan Zoya yang dilepasliarkan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya tawal tahun 2019 lalu.

Muria dulunya merupakan orangutan betina yang dipelihara oleh seorang warga di Ketapang selama ±3 tahun. Muria mulai menjalani proses rehabilitasi di IAR Indonesia pada Juni 2014. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama 4 tahun, Muria yang sudah menguasai semua kemampuan hidup di alam ini menjadi induk asuh bagi Zoya, bayi orangutan berumur 1 tahun yang terpisah dari induknya pada akhir tahun 2017 lalu. Zoya merupakan bayi orangutan yang masih memerlukan induknya sehingga tim rehabilitasi mencarikan induk asuh untuk Zoya. Muria yang dinilai mempunyai naluri sebagai seorang ibu menjadi kandidat kuat dan diperkenalkan dengan Zoya pada Juni 2018. Hasilnya cukup menggembirakan karena keduanya menunjukkan perkembangan yang positif.

Setelah dinilai mampu pulang kembali ke habitat aslinya, Muria dan Zoya dilepasliarkan di dalam kawasan TNBBBRdi Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat pada Februari 2019. Karena orangutan ini adalah orangutan hasil rehabilitasi, IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring yang akan memantau kehidupan mereka di rumah barunya. Hasilnya, selama lebih dari 1 tahun ini, keduanya dapat beradaptasi dengan cepat dan dapat hidup dengan baik di rumah barunya.

Kisah Monti dan Anggun menjadi kisah sukses selanjutnya. Monti merupakan orangutan berusia 12 tahun yang diselamatkan dari Desa Sungai Awan Kiri di Kabupaten Ketapang pada November 2009 sedangkan Anggun yang berusia 3 tahun diselamatkan pada tahun 2012 di Desa Sungai Melayu, Kabupaten Ketapang. Untuk mempercepat proses rehabilitasi, tim animal management IAR Indonesia mencarikan induk asuh untuk Anggun.

Monti yang sudah menjalani rehabilitasi selama lebih dari 10 tahun ini dianggap cocok dipasangkan dengan Anggun sebagai induk asuhnya. Harapannya, Monti bisa mengajari Anggun berbagai kemampuan yang diperlukan untuk bertahan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Monti juga bisa menjadi pelindung bagi Anggun yang bertubuh mungil. Strategi ini berhasil. Monti menjadi induk yang protektif dan Anggun menjadi lebih percaya diri untuk mempelajari hal-hal baru.

Monti bersama anak asuhnya yang bernama Anggun di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia di Ketapang

Monti sejauh ini telah memenuhi dan bahkan melampaui semua harapan sebagai ibu asuh. Dia sangat baik, lembut, dan peduli dengan bayinya, Anggun. Anggun juga telah berperan dalam membantu rehabilitasi Monti karena Anggun adalah orangutan yang tidak bergantung pada manusia yang selalu berada di atas pohon. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di kanopi hutan sehingga membuat Monti mengikutinya ke atas pohon. Saat ini Monti dan Anggun juga telah menjalani kehidupan barunya di TNBBBR, dibawah pengawasan tim monitoring dan dokter hewan yang selalu siaga untuk memastikannya dapat hidup tengan aman dan nyaman di rumah barunya.

Direktur Program IAR Indonesia mengatakan bahwa ini adalah bukti bahwa orangutan juga bisa menjadi ibu angkat untuk orangutan lainnya. “Hal ini bukan hanya mengkonfirmasi bahwa orangutan adalah satwa cerdas yang mirip dengan manusia, tetapi juga ini juga membuktikan bahwa meskipun orangutan seperti Monti kehilangan induknya pada usia yang masih sangat muda, dia mampu untuk menjadi induk yang baik, bukan hanya dengan anak sendiri, tetapi juga dengan bayi orangutan lainnya,” jelasnya. Selama setahun ini, berdasarkan hasil pemantauan, keduanya dapat beradaptasi dengan baik dan bertahan hidup di dalam Kawasan taman nasional. “Kami sangat gembira melihat orangutan Muria dan anak angknya, Zoya yang telah berhasil hidup di hutan selama 1 tahun. Ini menjadi bukti pertama bahwa benar proses rehabilitasi bisa dilakukan oleh orangutan itu sendiri,” tambahnya lagi.

]]>
http://www.internationalanimalrescue.or.id/induk-asuh-orangutan/feed/ 0