Empat Kukang Jawa Hidup Bebas di Suaka Margasatwa Gunung Sawal

by in Blog, Foto, Kukang Diary, Media, News, Release Berita, Updates 1 July, 2016

CIAMIS – Pusat penyelamatan dan rehabilitasi satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan translokasi (pemindahan) empat individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dari Pusat Rehabilitasi YIARI di kaki Gunung Salak, Ciapus Bogor ke untuk dilepasliarkan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal, Ciamis. Kukang merupakan hasil serahan sukarela dari masyarakat melalui Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan pengembalian langsung ke pusat rehabilitasi tahun 2015. Mereka terdiri dari tiga kukang betina dan satu jantan (Tara, Kuka, Misha dan Kuku).

Selama setahun empat primata nokturnal (aktif pada malam hari) itu sudah menjalani kukang menjalani serangkaian pemeriksaan medis, proses karantina, dan tahapan rehabilitasi seperti pengenalan pakan dan perilaku alami. Aktivitas, perilaku pakan, dan kebiasaan mereka juga diamati dan dicatat oleh perawat satwa untuk memastikan bahwa perilaku kukang sudah normal menjadi liar kembali.

“Hasil pemeriksaan medis akhir menunjukkan kondisi kesehatan kukang baik, tidak membawa penyakit, kondisi gigi dan tulang juga bagus. Perilakunya sudah liar sehingga bisa masuk tahapan selanjutnya untuk pulang ke habitat alami,” ujar Manager Animal Care YIARI drh. Wendi Prameswari.

Petugas YIARI menyiapkan kandang transportasi berisi kukang untuk dibawa ke kandang habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.

Petugas YIARI menyiapkan kandang transportasi berisi kukang untuk dibawa ke kandang habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.

Selesai menjalani masa rehabilitasi, primata yang sifatnya soliter itu kemudian dipindahkan ke kandang habituasi di kawasan SM Gunung Sawal untuk proses adaptasi. Bentuk kandang habituasi atau rumah sementara kukang adalah lahan terbuka dikelilingi fiber plastik. Di dalamnya tumbuh berbagai jenis pepohonan hijau untuk pakan dan tempat tidur kukang. Selama sekitar dua minggu kukang dibiarkan beradaptasi dengan habitat dan pakan alaminya. “Setelah menjalani rehabilitasi panjang akhirnya kukang serahan masyarakat itu mendapat kesempatan untuk pulang kembali ke rumah asalnya di alam,” tambah Wendi.

Senin malam, kukang dibawa menggunakan kendaraan dari Bogor menuju Ciamis dengan jarak tempuh sekitar tujuh jam perjalanan. Sampai di Ciamis, Selasa, 28 Juni 2016, satwa diterima langsung oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, Himawan Sasongko. Selanjutnya tim YIARI bersama staf BKSDA, kader konservasi dan pegiat lingkungan Ciamis mengantar kukang ke kandang habituasi di kawasan SM Gunung Sawal. Dari titik kumpul di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis tim menempuh jarak sekitar 4.5 KM. Mereka menghabiskan waktu sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan mobil pick-up sampai batas masuk hutan disambung dengan berjalan kaki menyusuri hutan menuju kandang habituasi kukang.

Petugas YIARI menyiapkan kandang transportasi berisi kukang untuk dibawa ke kandang habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.

Petugas YIARI menyiapkan kandang transportasi berisi kukang untuk dibawa ke kandang habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.

Koordinator Survey Release Monitoring (SRM) YIARI, Bobby Muhidin mengatakan setiap malam tim melakukan monitoring untuk mengetahui perkembangan perilaku kukang di dalam kandang habituasi. “Apabila menunjukkan perkembangan yang baik, mencari makan secara alami, beradaptasi dengan alam dan bisa survive, barulah kukang bisa benar-benar dilepas ke kawasan SM Gunung Sawal,” kata Bobby.

Selepas keluar dari kandang habituasi, kukang tetap dipantau oleh tim survey release monitoring. Untuk memudahkan pemantauan pasca lepasliar, kukang terlebih dahulu dipasang radio collar pada bagian leher. Radio collar berfungsi sebagai pengirim sinyal yang nantinya ditangkap oleh antenna dan menimbulkan bunyi di receiver (penerima sinyal). Bunyi yang keluar dari receiver itu membantu tim monitoring  untuk menemukan keberadaan kukang di alam. “Tim melakukan monitoring selama sekitar setahun untuk mengetahui perkembangan perilakunya di alam liar,” tambahnya.

Tim menempuh waktu dua jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke lokasi kandang habituasi kukang di kawasan Suaka Marsatwa Gunung Sawal.

Tim menempuh waktu dua jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke lokasi kandang habituasi kukang di kawasan Suaka Marsatwa Gunung Sawal.

Translokasi kukang di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal merupakan kerjasama YIARI dengan BBKSDA Jawa Barat untuk pelepasliaran dan menjaga populasi kukang jawa sebagai satwa endemik Indonesia yang kini jumlahnya semakin berkurang di alam. Suaka Margasatwa Gunung Sawal dipilih sebagai lokasi lepasliar karena statusnya sebagai kawasan konservasi sehingga bisa menjamin keselamatan kukang dari aktivitas manusia. Selain itu, hasil survei tim YIARI menunjukkan keanekaragaman dan ketersediaan pohon pakan kukang di wilayah itu cukup tinggi. Sejak tahun 2014 sebanyak 15 kukang hasil rehabilitasi YIARI yang sudah dilepasliar di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.

Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis Himawan Sasongko mengatakan pelepasliaran kukang ke habitatnya diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi satwa dan ekosistem. Populasi kukang bisa terjaga dan memberi manfaat bagi ekosistem Gunung Sawal. “Sebagaimana diketahui bahwa kukang jawa merupakan satwa endemik pulau jawa yang berperan menjaga ekosistem hutan khususnya SM Gunung Sawal. Peran kukang di alam yaitu sebagai agen penyebaran biji dan penyerbukan tanaman berbunga yang artinya penyebaran populasi tumbuhan sangat dipengaruhi oleh keberadaan kukang di alam sebagai pengendali populasi serangga,” katanya.

Kuku, kukang jawa keluar dari kandang transport menuju pepohonan di kandang habituasi SM Gunung Sawal.

Kuku, kukang jawa keluar dari kandang transport menuju pepohonan di kandang habituasi SM Gunung Sawal.

Dengan demikian, tambahnya, kukang berperan dalam mengendalikan hama yang berpotensi menyerang tanaman produktif masyarakat atau tumbuhan hutan itu sendiri. Pada dasarnya, menjamin peran kukang kukang di habitat alaminya adalah salah satu cara menghindarkan masyarakat dari kehilangan sumber daya yang bermanfaat bagi manusia itu sendiri. “Cara terbaik yaitu menjaga populasi dan peran kukang jawa dengan menjaga keberadaannya di habitat alami yang masih baik. Karena di situlah makna pelestarian jenis yang sesungguhnya, bukan dengan memelihara atau memperdagangkan,” ujar Himawan.

Kukang (Nycticebus sp) atau yang dikenal dengan nama lokal malu-malu merupakan primata yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.  Kukang juga dilindungi oleh peraturan internasional dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Ada tiga jenis kukang di Indonesia, kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus coucang) dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis). Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature) Redlist kukang jawa termasuk dalam kategori kritis atau terancam punah sedangkan kukang sumatera dan kalimantan termasuk dalam kategori rentan punah.

Kuka, kukang jawa memanjat pohon tepus yang tumbuh di habituasi SM Gunung Sawal, Ciamis

Kuka, kukang jawa memanjat pohon tepus yang tumbuh di habituasi SM Gunung Sawal, Ciamis

Kukang terancam punah karena perburuan dan perdagangan untuk pemeliharaan. Perdagangan untuk pemeliharaan memegang peran besar dalam mendorong kepunahan kukang. Menurut data YIARI, sekurangnya 200-250 individu kukang ditawarkan di tujuh pasar besar di empat kota besar Indonesia setiap tahun. Sementara hasil pemantauan online tahun 2015 menunjukkan sebanyak 400 individu kukang dipelihara oleh pemilik media sosial.

Berdasarkan hasil penelusuran tersebut sebanyak 30 persen individu kukang mati di siklus perdagangan.  Dengan demikian jumlah kukang diburu 30 persen lebih banyak dari jumlah kukang di tangan pemelihara. Artinya ada sekitar 800-900 individu kukang yang sudah diambil dari habitat selama  satu tahun, dengan nilai perputaran uang di pasar sebesar 250 – 300 juta rupiah.

Pengiriman dari pemburu ke pedagang menyebabkan kukang mengalami stress. Di perdagangan, gigi taring kukang dipotong dan itu bisa menyebabkan infeksi pada mulut sehingga nafsu makan berkurang. Hal tersebut membuat kukang lemas, sakit dan berujung kematian. Dengan begitu jumlah kukang yang mati akibat pemeliharaan kian bertambah dan populasi kukang di alam semakin berkurang.

 

Leave a Reply