Dukungan dan Keterlibatan Kaum Perempuan Menjadi Faktor Penting Kegiatan Konservasi

by in Release Berita, Updates 2 July, 2019

Dalam kegiatan pelepasliaran lima individu orangutan yaitu Japik, Kibo, Manis, Santi, dan Bujing yang dilakukan IAR Indonesia, bersama BKSDA Kalimantan Barat dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) di kawasan hutan TNBBBR pada 28 Juli 2019, keikutsertaan kaum perempuan dari desa-desa penunjang di sekitar TNBBBR, yaitu desa Nusa Poring dan Mawang Mentatai, menjadi pengalaman istimewa. Untuk pertama kalinya, sekitar belasan perempuan dari desa-desa tersebut dilibatkan sebagai porter yang membawa muatan logistik hingga peralatan seluruh peserta tim pelepasliaran.

Sejak tim IAR Indonesia bersama perwakilan BKSDA Kalbar dan Balai TNBBBR tiba di lokasi desa, para perempuan tangguh ini masing-masing membagi muatan untuk ditempatkan ke dalam tengkalang (keranjang tradisional berukuran besar dari bahan rotan) yang kemudian mereka usung di punggung mereka.  Mereka menempuh perjalanan satu jam dengan perahu, dilanjutkan berjalan kaki selama tiga hingga empat jam melintasi hutan, untuk tiba di Kamp Teluk Ribas yang menjadi lokasi penempatan kelima orangutan di kandang habituasi, sebelum dilepasliarkan. Muatan masing-masing orang ini berkisar 20-30 kg.

Para perempuan tangguh yang menjadi porter logistik ini berasal dari desa penyangga kawasan TNBBBR. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Mengikuti perjalanan para perempuan ini sungguh mengagumkan. Mereka berjalan dengan tangkas dan gesit melewati jalur setapak yang naik turun serta kondisi jalanan yang licin dan berlumpur di banyak bagian setelah berhari-hari sebelumnya diguyur hujan. Ketangguhan mereka sangat patut diacungi jempol, tak kalah dengan para porter pria yang membawa kandang kelima orangutan.

Ketangguhan mereka tak hanya dari sisi fisik. Keikutsertaan mereka dalam pelepasliaran ini memperlihatkan keuletan mereka dalam mencari nafkah bagi keluarga. Sehari-hari, kebanyakan perempuan di desa-desa penunjang TNBBBR ini bekerja di ladang atau di kebun karet. Sebagian dari mereka juga kerap diperbantukan oleh IAR Indonesia untuk menjadi juru masak di Kamp Teluk Ribas, yang merupakan kamp bagi tim survei dan monitoring satwa liar di TNBBBR dan juga sesekali menjadi porter logistik bagi keperluan kamp.

Menyusuri sungai hingga berjalan kaki memasuki pedalaman hutan TNBBBR dengan jalan menanjak dan licin tak menjadi hambatan para porter perempuan tangguh ini. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia.

Melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan penyelamatan satwa dan pelestarian habitatnya, menjadi salah satu cara dan tujuan IAR Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat, sekaligus mengedukasi masyarakat akan manfaat menjaga kelestarian hutan dan lingkungan. Keterlibatan perempuan begitu penting, karena merekalah pihak yang memegang peranan dalam mengatur keuangan keluarga, baik untuk keperluan sehari-hari maupun ketika mereka memerlukan biaya tambahan bagi keperluan kesehatan dan pendidikan.

Sebelum terlibat dalam kegiatan-kegiatan IAR Indonesia, kebanyakan keluarga di desa sekitar TNBBBR, menebang pohon dan menjualnya ataupun menjual satwa liar untuk mendapatkan biaya tambahan. Sedangkan untuk keperluan sehari-hari, masyarakat sekitar memenuhi kebutuhannya dengan berladang.

“Kegiatan yang dilakukan IAR Indonesia tidak hanya fokus pada penyelamatan orangutan dan satwa liar tetapi juga bertujuan untuk membantu manusia. Mereka mendapatkan penghasilan alternatif yang dapat menggantikan pemasukan yang biasa mereka dapatkan dari pembalakan liar dan membantu melestarikan hutan. Khususnya ketika bekerja dengan wanita, mereka akan pulang ke rumah dengan penghasilan tambahan untuk membantu keluarga mereka. Memberdayakan perempuan adalah salah satu cara paling efektif untuk menyelamatkan hutan. Oleh karena itu kami percaya bahwa peran perempuan dalam konservasi sangat penting dan mata pencaharian alternatif yang mencakup perempuan harus dipromosikan,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.

“Saya senang sekali dan selalu menunggu jika ada kegiatan pelepasliaran, karena saya bisa mendapat rezeki tambahan. Memang capek sekali, tapi jika dikerjakan beramai-ramai jadi tidak terasa lelah,” ujar Yati, 38 tahun, salah satu porter yang terlibat.

Kegembiraan Yati juga bertambah ketika anak keduanya, Dea, terpilih menjadi salah satu dari 20 anak dari desa-desa sekitar TNBBBR yang mendapatkan beasiswa pendidikan dari IAR Indonesia. Kebahagiaannya ini menjadi penawar duka setelah kematian suaminya pada Mei lalu. Yati dan para perempuan lainnya ini, bisa menjadi salah satu bukti bahwa melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan bermisi lingkungan hidup, merupakan faktor penting karena merekalah sosok utama dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keluarga bagi anak-anak mereka. (DRU)

Leave a Reply