Meningkatkan Peran Manusia Sebagai Penjaga Lingkungan Melalui Dakwah

by in Blog 30 August, 2019

IAR Indonesia bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ketapang dan Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional bekerjasama mengadakan kegiatan bertajuk Peningkatan Kapasitas Para Dai atau Penceramah Tentang Pelestarian Lingkungan di Kabupaten Ketapang dan sekitarnya. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini (26-27 Agustus 2019)  dilaksanakan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang yang terletak di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang. Kegiatan ini diikuti oleh 20 orang dai dari kabupaten Ketapang dan sekitarnya sesuai dengan rekomendari dari MUI Kabupaten Ketapang.

Secara umum, tujuan dari kegiatan ini untuk mengajak, mendorong, dan meningkatkan kepedulian dai terhadap lingkungan hidup di daerahnya dan meningkatkan substansi atau materi dakwah keagamaan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan lingkungan. Selain itu membantu mensosialisasikan Fatwa MUI No 4 Tahun 2014, tentang Pelestarian Satwa Langka Untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem.

Kegiatan ini diinisiasi karena melihat bahwa para penceramah, edukator, fasilitator, pelatih, atau komunikator, memegang peranan penting dalam menyebarkan dan mengajarkan informasi tentang pengetahuan alam, lingkungan, usaha pelestarian alam, dan kekayaan alam yang dikandung kepada kalangan masyarakat.

Pelatihan ini dimaksudkan untuk membekali para pesertanya dengan tambahan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang komunikasi mengenai usaha konservasi. Dalam kegiatan ini pasa peserta mendapatkan pengetahuan mengenai kegiatan konservasi, sehingga dalam pelaksanaan tugas sehari-harinya akan lebih meningkat, efektif serta efisien, sehingga pada akhirnya pengetahuan tersebut dapat disampaikan kepada berbagai kalangan masyarakat.

Di kalangan umat Islam, peran para dai, khatib, atau penceramah merupakan penyampai pesan di sejumlah kegiatan keagamaan terutama pengajian. Di beberapa daerah, peran para dai ini sangat besar, bahkan mereka memegang peran sabagai panutan dan teladan bagi umat. Artinya, mereka juga dapat menjadi “the agent of change” di daerah-daerah di mana mereka melakukan kegiatan.

Peranan ini sangat penting artinya dalam kegiatan konservasi. Agar pesan-pesan konservasi dan pendidikan lingkungan bisa tersampaikan kepada umat, peningkatan kapasitas mengenai lingkungan hidup dan konservasi ini menjadi penting bagi para dai, khatib, atau penceramah.

Ketua MUI Kabupaten Ketapang, Drs. KH. M. Faisol Maksum, dalam sambutannya mengatakan bahwa konservasi adalah adalah tanggungjawab bersama, termasuk ulama dan merupakan perintah agama. “Kasih sayang terhadap binatang dan tumbuhan merupakan akhlak Rasullah SAW yang patut kita contoh. Harapan dengan adanya kegiatan ini merupakan salah satu ikhtiar agar para ulama, ustad, santri, dan pendidik dapat menjadi pemicu aktivitas konservasi alam yang lebih baik dimasa mendatang,” ujar Drs. KH. M. Faisol Maksum.

Sementara itu, Ketua PPI Unnas, Dr. Fachruddin M. Mangunjaya, M.Si menegaskan bahwa pihaknya bersama dengan MUI Pusat dan Provinsi membuka jalan untuk melakukan sosialisasi fatwa MUI mengenai lingkungan hidup. “Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan enam fatwa tentang lingkungan, maka dari itu kita akan sampaikan beberapa hal terkait fatwa tentang pelestarian satwa langka untuk keseimbangan ekosistem dan hukum pembakaran hutan dan lahan serta penanggulangannya,” ujarnya di sela-sela pelatihan.

Senada dengan kedua tokoh tersebut, Manager Operasional IAR Indonesia, drh. Adi Irawan mengingatkan pentingnya kita sebagai manusia untuk turut serta menjaga alam. “Kita sebagai khalifah di muka bumi ini ada untuk menjaga lingkungan. Mari kita jaga lingkungan ini untuk anak cucu dimasa yang akan datang,” tambahnya.

 

Heribertus Suciadi

Leave a Reply

    Cart