Catatan Perjalanan Dibalik Monitoring N.javanicus hasil pelepasliaran IAR Indonesia di kaki Gunung Salak

Oleh Robithotul Huda

Disuatu siang hari yang kurang bersahabat dengan kami.  Hujan deras mengguyur jalan yang kami lalui. Laju kendaraan yang kencang dan dinginya kaki Gunung Salak menembus tubuh yang kuyup air hujan. “ wah ini namanya belum bertempur sudah tertembak duluan” kataku ke teman-teman.
Sampai ditujuan, kami rehat dan menghangatkan badan dengan segelas kopi hitam. Saat ini masih pkl. 15.00 wib. Teman-teman bersiap menanak nasi untuk bekal nanti malam. Setelah masakan siap , kami segera menyantap dengan lahab, petai, jengkol dan sayur lalap diperebutkan oleh 8 orang tim monitoring, “Semenarik emas yang mengkilap tergeletak didepan mata”.
Tak terasa waktu berjalan cepat, secepat makanan yang hilang dari pandang dan tinggal rasa kenyang. Adzan berkumandang. Kami bersiap berangkat.
Tim dibagi menjadi 2 kelompok ; tim 1 (4 orang) menuju ke atas (lereng gunung salak) dan tim 2 (4 orang) menuju ke bawah (ladang warga).
Aku kebebetulan dapat tugas bersama tim 1  untuk memonitoring si Marta.
Gelap dan jalan menanjak  sepertinya sudah terbiasa bagi teman-teman (tim monitoring kukang). Aku yang baru 2 kali ini ikut monitoring kukang terpaksa harus banyak berhenti, sambil menghela nafas panjang dan menghentakkanya cepat “hahhhh!” agar lelah cepat hilang.
Pkl. 19.00 wib. Kami sudah berada di puncak sebuah bukit  dikaki gunung salak 1. Tim segera mengeluarkan receiver serta menyambungkan kabel ke antenna untuk mencari sinyal dari gelombang radio yang terpancar dari  transmitter (radio collar) di kukang. “Tuut..tut..tut..” bunyi receiver yang telah menangkap sinyal dari transmitter. “Arahnya masih dari tempat yang kemarin” kata Kempleng alias Itang. “Dimana bos?” Tanyaku. Dibalik bukit itu. Samar – samar aku lihat gundukan bukit didepanku yang tidak terlalu jauh, namun terbelah oleh tebing curam. Tetapi yang dimaksud Itang ternyata bukan bukit yang terlihat didepanku itu, tetapi bukit yang berada dibalik bukit didepanku itu. “He….!” Gerutu dalam hatiku tersimpan rapat gembok rumah mewah.
Perjalanan dilanjutkan kembali menuruni tebing, lembah dan mendaki bukit dengan membuat jalur sendiri ditengah kegelapan.
Akhirnya sampai juga kami ditempat yang dimaksud. Receiver dinyalakan kembali. Ternyata benar, kami mendapat sinyal yang kuat, arahnya dari sekitar sungai kecil di bawah kami. Kamipun cepat turun dan mencari kesekitar sungai. Receiver terus dinyalakan untuk mengetahui lokasi yang tepat si kukang jawa ini. Sampai dibawah, arah sinyal berubah, sinyal bergerak menuju keatas. Kamipun terus bergerak mengejar arah sinyal. Sampai di atas, dengan terengah – engah kami harus menelan kekecewaan, karena kukang bergerak lagi ke bawah. Begitu terus hingga 3 kali dan kami harus menyerah setelah diajak bermain oleh kukang. Kami rebah disebuah batu besar tengah sungai. Air jernih sungai menggoda, kuhisap dalam, mengalir ke tenggorokan hingga menyebar keseluruh tubuh. “MASYAALLAH” segarnya.
Waktu menunjukkan pukul 22.00 wib.
Kami bergerak kembali mencari keberadaan kukang jawa hasil pelepasliaran IAR Indonesia. Namun hal yang sama kami dapatkan. Kami seperti diajak main petak umpet oleh kukang, lari kesana, kesini bolak-balik. Hingga kami dibuat bertekuk lutut oleh kukang pukul 00.00 wib.
Setelah istirahat sebentar kamipun melangkah ke camp. sampai di camp. lelah perlahan hilang saat melihat kerlip lampu rumah, jalan, mobil dan entah apalagi dari pelosok desa sampai kota bogor, Sebentuk bintang – bintang berkedip-kedip  di langit membawa lamun dan renung “berapa Mega Watt energy listrik yang di pakai oleh warga bogor raya dalam semalam? Jika bahan bakar yang dipakai untuk menghasilkan energy listrik tersebut adalah batubara, sampai kapankah batubara tersebut akan habis?
Lamun dan renung terus melayang terbawa angin malam jauh menuju ke alam antah barantah, hingga tersadarkan oleh kehadiran tim 2 pada pukul 02.00 wib.
Sesaat kemudian kami terdampar dalam negri mimpi dengan beralas sleeping bag.
Sunrise terlihat begitu elok muncul dari gunung Gede Pangrango, namun tidak bagiku, sinar mentari pagi semakin membuat mataku redup “masih ngantuk” ditambah angin dingin yang berhembus begitu kencang. Kupaksa mata ini terbuka, air dingin dari sumber air gunung salak kusiramkan kewajah dan segelas kopi hitam panas kumasukkan kekerongkongan agar mata ini benar-benar terbuka lebar dan dapat melihat :
Melihat kenyataan tadi malam; betapa beratnya kegiatan yang dilakukan tim monitoring kukang. Gelap malam dan  medan yang berat menjadi bagian dari sebuah konsekuensi sebuah kata “konservasi”.
Untuk itu marilah bersama kita jaga dan lestarikan satwa khususnya kukang jawa (N. javanicus) dengan tidak mengambil dari alam, membeli, memelihara serta memperjual belikannya.
Bukankah “Mencintai satwa liar tidak berarti harus memiliki secara fisik” tetapi cukup dengan membiarkannya bebas dihabitatnya yaitu alam liar.
Salam lestari.
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

Dapatkan kabar terbaru kami

Penyelamatan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pemulihan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit

Pelepasliaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit