Apa kabar Kukang: Refleksi 10 Tahun IAR Indonesia Menyelamatkan Kukang

by in Blog, Media, Updates 30 June, 2020

Tidak mudah, itu adalah kata yang tepat untuk mereflesikan bagaimana upaya penyelamatan kukang yang dilakukan oleh Yayasan IAR Indonesia selama satu dekade terakhir. Dinamika yang muncul begitu beragam dan menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi.

Sebagai pusat rehabilitasi kukang pertama di Indonesia, saat itu tidak banyak acuan dan literatur yang bisa digunakan untuk menangani perawatan kukang di pusat rehabilitasi. Namun karena itu pula, IAR Indonesia akhirnya bisa membuat sebuah standar prosedur komperehensif yang ideal untuk diterapkan oleh lembaga-lembaga lain di pusat penyelamatan satwa lainnya.

Sejak 2008, IAR Indonesia memfokuskan programnya untuk membantu merawat kukang yang menjadi korban perburuan, perdagangan dan pemeliharaan. Selama itu pula, lebih dari 1.000 individu kukang pernah menjalani perawatan di pusat rehabilitasi yang berlokasi di Curug Nangka, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Permasalahan yang kerap terjadi pada kukang di tahun-tahun pertama itu sangat tinggi. Di mana angka perdagangannya mencapai 7.000 individu per tahun. Fakta tersebut menjadi dasar bagi lembaga konservasi dunia (IUCN) mengkategorikan status kepunahan satwa untuk meratifikasi ulang status kukang (terutama kukang jawa) menjadi Kritis (Critically Endangered), yang berarti satu tingkat di bawah punah.

Hingga kini, status tersebut masih bertahan setelah lebih dari satu dekade berlalu.

Meski data mengenai angka perdagangan kukang telah mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir yaitu sekitar 2.000 individu per tahun, namun populasi di alam tetap masih dalam ancaman dan tanda tanya besar. Berapa lagi yang masih tersisa dan sampai kapan akan bertahan. Pertanyaan ini tetap menjadi misteri karena masih minimnya penelitian di lapangan.

Penuh tantangan

Upaya yang dilakukan IAR Indonesia di awal dekade memang penuh dengan tantangan. Mulai dari fasilitas yang belum memadai, jumlah kukang yang masuk, hingga kondisi kesehatan satwa yang tak sepenuhnya baik.

Idealnya, fasilitas pusat rehabilitasi hanya mampu menampung 100 individu kukang. Kapasitas ini tak hanya dipengaruhi oleh area yang terbatas pada lahan seluas 1 hektar, akan tetapi juga dipengaruhi oleh SDM tenaga medis dan perawat satwa. Daya tampung yang ideal akan berdampak pada kesejahteraan satwa yang menjadi etika dasar dalam memperlakukan satwa.

Kasus penegakan hukum yang terjadi di tahun 2013 merupakan kasus terbesar dalam sejarah kejahatan perdagangan kukang. 238 individu kukang sumatera berhasil diselamatkan, lalu dititiprawat di pusat rehab IAR Indonesia.

Kehadiran ratusan kukang secara tiba-tiba tentu tidak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas yang ada. Meski begitu, IAR Indonesia tetap berusaha untuk memberikan perawatan kepada seluruh kukang, dengan kata lain, tim harus bekerja ekstra untuk itu semua.

Menyembuhkan yang sakit

Di setengah dekade pertama, 70% kukang yang diterima oleh IAR Indonesia berada dalam kondisi kesehatan yang buruk. Seperti, rusaknya gigi akibat dipotong paksa, malnutrisi, infeksi kulit, cacingan dan sederet kasus kesehatan lainnya. Tidak semua kukang dengan kondisi buruk tersebut bisa bertahan lama, beberapa di antaranya seakan mampir hanya untuk berpamitan, sebelum tindakan medis sempat diberikan.

Selain gigi yang dipotong oleh pedagang, tingginya angka kasus kesehatan kukang besar dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan. Pemberian pakan yang tidak sesuai, kebersihan kandang, hingga interaksi antara pemelihara dan satwa.

Di IAR Indonesia, proses menyembuhkan kukang harus melalui prosedur yang panjang. Semua itu dilakukan agar kukang bebas dari luka maupun penyakit yang mungkin diidap.

Untuk memastikan hal tersebut, selama dua minggu pertama di pusat rehab, kukang akan melalui proses karantina dan juga pemeriksaan. Mulai dari cek fisik, hingga cek laboratorium.

Satu individu kukang menjalani pengecekan fisik dan pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.

Dengan menggunakan mesin x-ray, pemeriksaan fisik kukang tidak hanya sekedar kasat mata. Kondisi tulang tulang yang bengkok menjadi catatan penting bahwa kukang peliharaan tumbuh dengan perlakuan dan nutrisi buruk. Belum lagi masalah baru yang akhir-akhir ini sering ditemukan, teror senapan angin.

Dari hasil pemeriksaan fisik tersebut akan ditentukan apakah perlu dilakukan tindakan medis seperti operasi atau lolos menuju tahap berikutnya.

Pemeriksaan laboratorium juga tak kalah pentingnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak adanya penyakit zoonosis yang berpotensi menular kepada manusia atau satwa lainnya. Dalam hal ini uji darah dan tubercolosis harus dilakukan karena kukang peliharaan rentan terpapar penyakit.

Proses pemeriksaan kesehatan di atas hanya bagian dari keseluruhan rangkaian perawatan, yang tentunya membutuhkan biaya besar dan tak sebanding dengan angka perdagangannya.

Menyiapkan pulang ke habitat

Tidak semua kukang memiliki kesempatan untuk bisa kembali ke habitatnya. Kondisi fisik yang cacat menjadi penilaian utama dalam penentuan ini. Hal ini berkaitan dengan kemampuan kukang untuk bertahan hidup di alam liar nantinya.

Kukang-kukang tanpa gigi adalah salah satu kondisi yang rentan jika harus dilepasliarkan. Meski secara insting liar, mereka akan kesulitan untuk mempertahankan diri dari serangan predator, ataupun kukang liar di alam. Termasuk pula kemampuan mereka mencari pakan alami yang bersumber dari batang kayu keras.

Bukan itu saja, kukang yang terlalu lama dalam pemeliharaan menunjukkan perilaku abnormal yang sulit untuk dipulihkan. Perubahan perilaku satwa tersebut tentu akan menyulitkan jika ia harus dilepaskan kembali ke alam.

Mengembalikan insting liar satwa tentu tidak mudah. Perlu perlakuan-perlakuan khusus yang diberikan untuk merangsang kembali insting mereka. Oleh karena itu, pengayaan selama perawatan sangat dibutuhkan agar naluri kukang terdorong ke sifat liarnya.

Aktivitas dan perilaku kukang selama di kandang perawatan perlu dipantau dengan metode ilmiah, sehingga hasil yang didapat menjadi sebuah evaluasi dalam penentuan kelayakan pelepasliaran.

Tak ada standar yang pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan kukang selama direhabilitasi. Ada yang cepat, ada juga yang lama. Semua itu kembali kepada kemampuan individu satwa.

Kini, ada 160 individu kukang yang menjadi bagian perawatan pusat rehab IAR Indonesia. 120 lebih di antaranya akan dirawat hingga akhir hayat. Sisanya menanti harapan terwujud untuk bisa pulang ke habitatnya dan kembali berperan bagi alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *