Aben Selamat Berkat Kepedulian Warga

by in News, Release Berita 12 December, 2019

Kepedulian dan pemahaman warga terhadap orangutan memegang peranan penting dalam pelestarian orangutan. Mengingat lebih dari 70 persen orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) hidup di luar kawasan konservasi, perjumpaan orangutan dengan warga masyarakat bukan hal yang langka. Seperti kejadian yang dialami Idarno, warga Dusun Benatu, Desa Limpang, Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang, Sabtu, 7 Desember 2019. Dia menemukan bayi orangutan tanpa induknya di tepi hutan konsesi perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Desa Limpang. Menyadari bahwa orangutan adalah satwa dilindungi, Idarno menyerahkan orangutan ini ke kepala desa untuk selanjutnya diserahkan ke pihak berwenang.

Kepala desa kemudian melaporkan kasus penemuan ini ke IAR Indonesia dan BKSDA Kalbar. Laporan diteruskan kepada tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia untuk melakukan verifikasi. Menindaklanjuti laporan hasil verifikasi, tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang dan IAR Indonesia menerjunkan tim untuk menjemput bayi orangutan ini pada Senin 9 Desember 2019.

Kepala Desa Limpang, Rono Reagen mengaku pihaknya memahami bahwa orangutan termasuk satwa dilindungi. “Sebelumnya saya juga sudah menghimbau kepada warga di sini mengenai satwa-satwa apa saja yang tidak boleh diburu dan dipelihara oleh warga,” jelasnya lagi. Oleh Rono, bayi orangutan jantan berusia kurang dari 1 tahun ini dititipkan ke warga bernama Aben untuk dirawat, oleh karena itu, bayi orangutan ini diberi nama Aben.

Ketika ditemukan oleh warga, bayi orangutan ini mengalami demam, tetapi masih aktif dan masih mau makan. Oleh perawatnya, Aben diberi susu formula, selain itu Aben juga diberi makan nasi dan buah-buahan. Selama dirawat, Aben diletakan di dalam rumah dengan keranjang dan selimut.

Dari pemeriksaan singkat di lokasi oleh dokter hewan IAR Indonesia yang turut serta dalam kegiatan ini, Aben diduga mengalami demam karena suhu tubuhnya masih cukup tinggi. Saat ini Aben dibawa ke IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang yang memiliki fasilitas pusat rehabilitasi satwa, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Aben akan menjalani masa karantina selama 8 minggu sebelum bisa bergabung dengan orangutan lainnya. Selama masa ini, Aben akan menjalani pemeriksaan secara detail oleh tim medis IAR Indonesia. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan Aben tidak membawa penyakit berbahaya yang bisa menular ke orangutan lainnya di pusat rehabilitasi IAR Indonesia.

Pemahaman dan kesadaran warga masyarakat untuk melestarikan orangutan dan melaporkan perjumpaan sudah bisa dirasakan. Di ketapang sendiri, jumlah orangutan pemeliharaan yang direscue oleh BKSDA dan IAR di tahun 2019 sudah jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karmele L. Sanchez, direktur program IAR Indonesia mengatakan, “IAR sudah lama bekerja sama dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama dan budaya, aparat kepolisian dan TNI serta pemerintah daerah secara keseluruhan, dan kami sangat mengapresiasi fakta bahwa masyarakat Kabupaten Ketapang sudah sangat sadar dan mengerti bahwa orangutan adalah aset dan perlu dilestarikan sehingga jumlah orangutan yang dipelihara semakin menurun.” “Target kita adalah suatu saat tidak ada lagi orangutan yang perlu diselamatkan. Kalau hal ini dapat terwujud, Ketapang akan menjadi contoh dan kebanggaan untuk seluruh dunia, karena orangutan adalah spesies yang diperhatikan secara global,” tambahnya.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta turut mengapresiasi tindakan warga desa Limpang.  “Apresiasi kami berikan kepada warga masyarakat atas kesadarannya melaporkan dan menyerahkan temuan satwa liar dilindungi kepada aparat berwenang. Memang sudah semestinya bahwa upaya-upaya konservasi melibatkan peran masyarakat sebagai ujung tombak guna mewujudkan pelestarian satwa liar yang optimal,” ujarnya

Leave a Reply