8 Tahun Direhabilitasi, Kini Melky Hidup Bebas di Gunung Tarak Bersama Lima Kukang Eks-Peliharaan

by in Media, News, Release Berita, Updates 20 December, 2017

Bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, IAR Indonesia kembali melepasliarkan satu individu orangutan (Pongo pygmaeus) dan lima ekor kukang (Nycticebus menagensis) di Hutan Lindung Gunung Tarak, Kabupaten Ketapang, Minggu (17/12). Satu orangutan jantan bernama Melky dan kelima ekor kukang masing-masing bernama Bulan, Lana, Madu, Jejes, dan Yohanes. Melky merupakan orangutan yang diselamatkan dari kasus pemeliharan pada Mei 2009. Sementara, Bulan berasal dari kabupaten Bengkayang dan keempat kukang lainnya berasal dari Pontianak. Mereka semua merupakan kukang yang sebelumnya dipelihara oleh warga masyarakat.

Satu dari lima individu kukang yang dilepasliarkan pada Minggu (17/12) kemarin keluar dari kandang transportasi menuju. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia

Salah satu individu kukang yang dilepasliarkan di Gunung Tarak, Minggu (17/12) nampak mulai keluar dari kandang transportasi menuju kebebasannya. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia

Setelah diselamatkan, Melky menjalani masa rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi dan Konservasi Orangutan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Delta Pawan, Ketapang. Melky merupakan orangutan pertama yang direhabilitasi oleh IAR Indonesia dan menjalani masa rehabilitasi terlama sampai saat ini. Masa rehabilitasi ini bertujuan untuk mengembalikan sifat alami orangutan. Pada masa rehabilitasi, bayi orangutan akan belajar kemampuan dasar bertahan hidup di alam seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Bayi orangutan seharusnya tinggal bersama induknya samapi usia 6-8 tahun. Pada masa itulah mereka belajar untuk hidup di alam bebas dari induknya. Pada kasus seperti Melky, dia kehilangan induknya pada usia yang sangat muda sehinggal Melky yang baru berusia 2 tahun pada saat diselamatkan perlu menjalani proses rehabilitasi untuk bisa kembali hidup di habitat aslinya.

Proses rehabilitasi orangutan seperti Melky ini memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. “Lama proses rehabilitasi ini tergantung masing-masing individu. Ada yang cepat belajar, ada pula yang membutuhkan waktu yang lama seperti Melky,” ujar Karmele Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia. “Bahkan beberapa individu tidak cukup beruntung untuk dapat kembali ke alam bebas. Beberapa dari mereka terlalu lama dipelihara dan mendapat perlakuan yang salah sehingga mereka secara permanen kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup. Ini berarti mereka tidak akan pernah bisa dilepasliarkan seumur hidup mereka,” jelasnya.

Sebelum dilepasliarkan, kandidat orangutan yang akan dilepasliaran wajib menjalani pengambilan data perilaku terlebih dulu. Mereka ditempatkan di area khusus di mana animal keeper akan mencatat dan mengambil data perilaku masing-masing individu orangutan. Hal ini dilakukan untuk memastikan orangutan yang akan dilepasliarkan memenuhi syarat dan mampu untuk hidup di habitat aslinya.

Tim pengantar berjalan kaki selama lebih dari 4 jam membawa Melky menuju titik pelepasliaran di dalam Kawasan Hutan Lindung Gunung Tarark, Kalimantan Barat. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia

Tim pengantar berjalan kaki selama lebih dari 4 jam membawa Melky menuju titik pelepasliaran di dalam Kawasan Hutan Lindung Gunung Tarark, Kalimantan Barat. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia

Perjalanan Melky dan kelima ekor kukang dari Pusat Rehabilitasi di Sungai Awan ditempuh selama 4 jam perjalanan menggunakan mobil dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 4,5 jam menuju titik pelepasan. Pelepasliaran ini melibatkan 12 warga sekitar sebagai porter untuk mengangkut logistik tim dan kandang menuju titik pelepasliaran.

Sesampainya di titik pelepasan, pembukaan kandang orangutan dilakukan Karmele Sanchez selaku Direktur Program IAR Indonesia. Karena Melky merupakan orangutan hasil rehabilitasi, IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring untuk memantau perkembangan orangutan ini di alam bebas selama 1-2 tahun. Anggota tim monitoring ini berasal dari dusun di sekitar Hutan Lindung Gunung Tarak. Mereka akan mengikuti dan mengambil data perilaku orangutan dari bangun tidur sampai tidur lagi. Selain Melky, tim monitoring juga masih memantau beberapa orangutan yang sudah dilepaskan di HL Gunung Tarak sebelumnya. Sama seperti orangutan, kukang yang dilepaskan juga akan dimonitoring terlebih dulu oleh staf monitoring IAR Indonesia. Karena kukang merupakan satwa nocturnal, monitoring kukang dilakukan pada malam hari.

“Kegiatan monitoring ini dilakukan untuk memastikan kondisi mereka di alam bebas. Tim juga akan memastikan mereka mampu bertahan hidup di alam dan akan melibatkan tim medis bila kondisi satwa di sana dirasa kurang bagus.” jelas Argitoe Ranting, Manager Survey Release and Monitoring IAR Indonesia.

Melky, menjadi orangutan pertama yang direhabilitasi IAR Indonesia. Setelah melewati proses panjang pengembalian sifat liar alaminya, kini ia telah bebas di alam. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia

Melky, menjadi orangutan pertama yang direhabilitasi IAR Indonesia. Setelah melewati proses panjang pengembalian sifat liar alaminya, kini ia telah bebas ke alam. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor, sangat mengapresiasi kegiatan ini. “Kami mengapresiasi setinggi-tingginya dukungan para mitra kepada pemerintah, dalam hal ini BKSDA Kalbar, seperti yang dilakukan oleh YIARI. Dalam menjalankan kegiatan-kegitan konservasi kami menyadari bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri sehingga kerjasama dengan mitra perlu dijaga dan dieratkan.” “Ke depannya, kami berharap kesadaran masyarakat tumbuh semakin baik sehingga tidak ada lagi kasus pemeliharaan satwa langka atau satwa dilindungi oleh masyarakat,” tutupnya.

Leave a Reply

    Cart